Artikel Terbaru

Trust

[godlywoman.co]
Trust
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Membahas tentang perkawinan memang tidak ada matinya. Begitu banyak problematika yang muncul, mewarnai haru biru kehidupan perkawinan. Bahagia dan sedih muncul bergantian, melumat tiap pasangan tanpa kecuali. Jika orang tidak cukup dewasa menyikapi, maka tinggal menghitung hari kapan semua itu akan berakhir.

Sayangnya, kita tidak pernah diajari tentang hidup perkawinan sesungguhnya. Tidak ada kuliah yang mengajarkan hal ini. Jikalau ada Kursus Persiapan Perkawinan, itu hanya sesaat. Jadi, belajar mengenai perkawinan, ibarat on the job training, langsung nyemplung.

Ruang konseling di lembaga layanan kami, mungkin adalah saksi bisu yang merekam begitu banyak perseteruan, konflik, kecemburuan, kemarahan, bahkan kebencian. Caci-maki, isak tangis, teriakan, namun juga elusan sayang, kasih, perhatian rasanya tidak akan pernah habis menjadi sebuah cerita yang mewarnai perkawinan. Mungkin sebenarnya tidak mudah membangun mahligai perkawinan karena begitu banyak hal yang harus dipikirkan, dipertimbangkan, dikaji, sekaligus direnungkan.

Terlebih saat ini, perselingkuhan rasanya menjadi satu hal yang biasa. Bahkan, ada yang berpendapat, selingkuh bisa mempertahankan perkawinan. Ironi tersendiri ketika ruang privat kita dikoyak-koyak oleh ketidaksetiaan yang mengatasnamakan kebutuhan mempertahankan perkawinan. Selingkuh dipandang sebagai sebuah solusi menyelamatkan perkawinan yang telah mencapai titik jenuh. Menyedihkan. Namun tidak dipungkiri, perselingkuhan bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang siapa dan bagaimana. Bahkan, pada keluarga yang harmonis sekalipun, hal ini juga bisa terjadi.

Bagaimana sebaiknya nilai-nilai perkawinan dihayati? Saya pun hingga saat ini masih mencoba belajar, menyerap inti kehidupan perkawinan, memaknai sebanyak mungkin peristiwa, dan mungkin tulisan ini juga bisa menjadi sharing bersama tentang nilai-nilai perkawinan tersebut. Saya yakin, setiap orang pasti memiliki pemahaman sendiri tentang nilai itu, namun tidak ada salahnya kita buka diskusi tentang hal ini karena toh tujuannya untuk kebaikan, merenungkan sebuah ikatan suci yang secara sadar kita pilih sebagai pilihan hidup kita.

Ada tiga nilai yang akan saya coba sharingkan kepada sidang pembaca, yaitu trust, respect, dan commitment. Berikut ini saya akan mencoba mensharingkan satu demi satu, di mulai dari trust. Tulisan berikut akan menyusul ke nilai yang lain. Mari kita diskusi tentang hal ini.

Perkawinan tentu saja tidak akan bisa dibangun tanpa ada nilai kepercayaan, yang tidak hanya sekadar ‘aku percaya kepada pasanganku’. Namun, lebih dari sekadar kepercayaan itu sendiri. Begitu banyak hal yang kita dengar tentang kecemburuan yang membutakan, menutupi mata hati, dan akhirnya berujung pada keinginan menyakiti orang lain, mencederai hubungan, bahkan yang paling fatal adalah mengambil hak hidup dan hak bahagia orang.

Meski demikian, cemburu juga bisa menjadi indikasi cinta dan perhatian, benarkah? Kecemburuan dalam arti ‘sejumput’ cemburu mungkin saja baik, karena dengan demikian ada rasa memiliki, ada kebutuhan untuk diperhatikan dan memperhatikan. Kesemua ini seandainya diramu dalam ramuan yang wajar, akan makin menghangatkan perkawinan itu sendiri. Namun, kebanyakan yang terjadi, kecemburuan mudah membakar, menutupi mata hati, dan mengancam perkawinan itu sendiri.

Orang cenderung berputar-putar pada mengapa, dan mengapa engkau melukai perasaanku, mengapa engkau ‘bermain’ di belakangku. Kecemburuan tak jarang muncul hanya karena kita menelan mentah apa kata orang lain, meraba-raba, dan memaknai tanda-tanda yang ‘tak biasa’, sms di malam hari, dering telpon yang tiada henti, facebook yang begitu mesra kepada seseorang, dsb.

Sesaat mungkin kita perlu berhenti sejenak, mencoba memaknai dengan cara yang lebih rasional, memang sulit karena saat hati dibakar cemburu, yang mendominasi adalah rasa yang kalut. Namun, daripada kita dibakar oleh kemarahan, lebih baik sejenak melihat dengan kacamata berbeda. Memandang dari berbagai sudut pandang, mencoba menganalisis, mengajak bicara dari hati ke hati dengan kepala dingin, mencoba meyakinkan diri sendiri, memastikan semua tanda, memantapkan kepercayaan dan atas nama perkawinan, menyerahkan kepercayaan itu kepada pasangan untuk dijaga, dirawat.

Percaya bahwa kita memberikan sepenuhnya ruang batin kita untuk dijaga dalam perkawinan. Menegaskan kepada pasangan bahwa kita percaya sepenuhnya diri kita dan hidup perkawinan kita untuk dilestarikan. Mencoba melakukan negosiasi tentang kemungkinan jika terjadi pencederaan terhadap hal itu. Kemantapan diri kita sepenuhnya mencerminkan apakah kita memang sungguh menaruh kepercayaan itu, atau hanya manis di mulut.

Tak jarang yang terjadi, kita hanya manis di mulut. Mengatakan bahwa kita percaya, namun sesungguhnya itu sekadar untuk membuat pasangan tenang saja. Dan ancaman sesungguhnya adalah kebawelan kita untuk selalu mengorek semua yang telah terjadi, bertanya tiada henti tentang suatu peristiwa yang sebenarnya tidak perlu. Sungguh hal ini adalah mitraliur yang paling tidak menyenangkan bagi pasangan kita. Sejumput saja tanda, sekilas pertemuan, secuplik obrolan dengan seseorang yang kita duga ‘ada sesuatu’ dengan pasangan kita, sudah mengandaskan begitu saja kepercayaan yang kita berikan.

Percayalah, untuk membangun kembali semua itu dari awal, ibarat menegakkan benang basah.

Trust sebenarnya adalah bentuk relasi dan pertanggungjawaban antara kita dengan diri sendiri, dan kita dengan Tuhan. Seandainya toh kita hendak mencederai pasangan, mungkin saja pasangan tidak akan pernah tahu, namun bagaimana dengan kata hati kita sendiri, bagaimana dengan mata Tuhan yang tidak pernah tidur. Bukankah kita sebagai pasangan tidak akan pernah bisa mengawasi suami atau istri tiap saat dan waktu.

Mungkin ini memang hanya sekadar menenangkan, namun yang lebih penting adalah mengembalikan kepercayaan kita kepada dia yang sudah kita pilih sebagai pasangan hidup, soulmate, dan kepada Dia yang pasti akan menjaganya di sepanjang waktu dan sepanjang hari.

Sunggguh, belajar mengenai hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Percayalah. Bagi saya, menerapkan hal ini juga tidak mudah. Namun, yang tidak mudah bukan berarti tidak bisa bukan? Mari kita coba mulai dari diri sendiri!

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 29 Tanggal 18 Juli 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*