Artikel Terbaru

Kejujuran yang Memukul

[Ilustrasi HIDUP]
Kejujuran yang Memukul
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, saya pria (29) mempunyai seorang kekasih berusia 22 tahun. Karena merasa nyaman dan cocok soal kepribadian dan benar-benar saling mencintai, saya berniat menikahinya. Namun, saya benar-benar merasa terpukul setelah ia mengirim pesan yang sangat jujur bahwa ia sudah tidak perawan karena pemaksaan mantan pacarnya. Dengan segala kejujuran dan keberanian, saya ingin tetap melanjutkan hubungan cinta kami sampai selamanya. Mohon pencerahan. Terima kasih.

Bernhard Morin

Sdr Bernhard, berbahagialah memiliki calon istri yang jujur karena kejujuran memiliki nilai yang amat tinggi dan semua orang mengetahui, pada zaman ini kejujuran sulit ditemukan. Keterbukaan calon istri pada Saudara merupakan kejujuran yang menjadi tolok ukur tentang perempuan seperti apakah ia. Sdr Bernhard telah menemukan calon pasangan hidup yang jujur, yang berarti pula, calon istri Sdr Bernhard memiliki nilai yang tinggi. Sikap jujur adalah salah satu tiang penyangga yang harus dibangun sejak sebelum pernikahan.

Membaca kejujurannya, saya yakin calon istri Saudara telah bergulat dengan segala pikiran dan perasaannya, mempertimbangkan segala risiko akan hal yang bakal terjadi. Sangat sulit baginya untuk mengungkapkan hal itu, dan ia sudah berusaha mengungkapkan dengan jujur. Kejujuran ini sebenarnya merupakan ekspresi rasa hormatnya kepada Sdr Bernhard.

Perkawinan adalah kehidupan masa depan yang hendak dibangun kedua pihak. Sdr Bernhard telah menyatakan, merasa nyaman dan cocok soal kepribadian dan saling mencintai. Cinta Sdr Bernhard yang tulus akan menerima segala kelebihan dan keterbatasan (calon) pasangan hidup. Cinta yang murni selalu berorientasi pada orang yang dicintai, memberikan yang terbaik bagi orang yang dicintai, selfless.

Terimalah calon istri apa adanya, jangan pernah mengungkit apa yang pernah ia sampaikan dengan jujur itu. Sdr Bernhard tidak ada alasan kecewa, tataplah dan rencanakan masa depan berdua, songsonglah kebahagiaan.

Pengasuh Yth, saya seorang ibu dengan tiga anak, suami saya kecanduan narkoba sejak dua tahun lalu. Kalau ditanya soal gaji, ia menjawab selalu habis. Untunglah, saya juga punya penghasilan sendiri. Rumah tangga kami menjadi tidak harmonis. Bagaimana menyadarkan suami saya supaya berhenti mengkonsumsi narkoba? Terima kasih.

Dewi Anggraini

Ibu Dewi Yth, masalah kecanduan narkoba bukan masalah pribadi semata. Narkoba adalah permasalahan bangsa Indonesia. Maka, sebaiknya janganlah Ibu berusaha mengatasinya secara pribadi. Ada beberapa hal yang dapat saya sampaikan.

Pertama, bicarakanlah permasalahan ini dengan keluarga besar, baik keluarga dari pihak Ibu Dewi maupun dari pihak suami. Tanyakanlah kepada mereka bagaimana mengatasinya.

Kedua,
carilah saudara atau teman yang dapat dipercaya, yang berkarya di kepolisian atau bidang hukum. Sampaikan kepada mereka agar suami ”ditangkap”, dengan catatan agar direhabilitasi. Ditangkap dalam hal ini adalah mengatasi perilaku narkoba tidak berlanjut dan berhenti dengan dipaksa. UU No 3 Tahun 2009, khususnya Pasal 54 dan Pasal 55 menyebutkan bahwa setiap pecandu narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial. Sesuai PP No 25 tahun 2011 tentang Wajib Lapor, dijelaskan, setiap pecandu narkoba diwajibkan melaporkan dirinya di tempat rehabilitasi terdekat. Konsekuensi dari langkah itu adalah tuntutan tetap menunjukkan cinta selama suami menjalani rehabilitasi.

Ketiga, informasi rehabilitasi pecandu narkoba dapat ditelusuri dengan mudah melalui internet, pusat rehabilitasi yang relatif dekat dengan Kota Malang adalah RS Wiharta Mandala, Desa Sembaluh, Pujon-Batu-Malang, telepon: 524206. Atau, Pondok Pemulihan DUOLOS, Jalan Raya Trawas No 253, Prigen-Jawa Timur, telepon: 0343-880868.

Y. Bagus Wismanto

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 33 Tanggal 12 Agustus 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*