Artikel Terbaru

SABDA Merajut Toleransi

Peserta Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai (SABDA).
[Dok. FKUB DKI Jakarta]

HIDUPKATOLIK.comAlumni Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai (SABDA) membangun keakraban yang erat. Dalam cara masing-masing, mereka merajut perbedaan dengan benang toleransi.

Lili Judiarti sudah memesan tiket kereta. Ia ingin menemani anaknya berlibur ke kampung halaman, Purwokerto, Jawa Tengah. Persiapan liburan telah mantap. Tetiba ia dihubungi Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DKI Jakarta, Syarif S. Tanudjaja. Lili diminta mewakili PITI untuk mengikuti Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai (SABDA). Ia menggantikan dua utusan PITI yang mengundurkan diri.

Tawaran itu membuat Lili meragu. Ketika itu, ia sama sekali tidak mengetahui apa itu SABDA. Setelah mendapat penjelasan, Lili membatalkan tiket pulang kampung. “Keikutsertaan saya atas campur tangan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya. Pada 8-13 Juni 2015, Lili bergabung di SABDA yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta di Wisma Remaja Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Cipayung. Ini merupakan kali pertama SABDA di adakan.

Saling Mengenal
Angkatan pertama SABDA berjumlah 27 peserta. Mereka mewakili majelis-majelis agama di Jakarta. Di SABDA, para peserta dijejali dengan materi pengenalan agama-agama, sejarah serta peran FKUB, resolusi konflik, dan pemberdayaan masyarakat untuk kerukunan.

Roberto Gelardo, perwakilan umat Katolik di FKUB Jakarta Barat menilai, materi yang berkisar pada pengenalan agama sebagai pintu mengenal agama lain. “Meski hanya kulit luar, namun itu membuka wawasan,” ujar Bob, sapaannya.

Sehaluan dengan Bob, Johnery Pandia, penatua Gereja Batak Karo Protestan yang mewakili PGI berujar bahwa hal yang esensial dari SABDA adalah mengenal persona satu sama lain, tak hanya agama. Di SABDA para peserta dilatih membangun keakraban yang terwujud dalam berbagai permainan, sehingga dialog antarpeserta dapat melewati sekat-sekat agama, yang melahirkan keterbukaan. “Ada game di mana saya memegang pundak seorang perempuan Muslim. Ini adalah game untuk membangun keakraban, padahal saya bukan muhrimnya. Kalau bukan di SABDA, ini bisa menjadi masalah kan?

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*