Artikel Terbaru

Perangi Narkoba

HIDUPKATOLIK.com – Sebanyak 102 kasus narkotika dan tindak pidana pencucian uang yang terkait dengan sindikat peredaran narkotika secara nasional maupun internasional, terbongkar di Indonesia sepanjang 2015. Dalam laporan tahunan, Badan Narkotika Nasional (BNN) melansir, 102 kasus tersebut melibatkan 202 tersangka, terdiri dari 174 Warga Negara Indonesia (WNI) dan 28 Warga Negara Asing. BNN pun berhasil mengidentifikasi 37 jenis narkoba yang disalahgunakan. Dari 37 jenis itu, baru 18 jenis yang sudah masuk lampiran UU No.35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan Permenkes No.13 tahun 2014.

Sementara BNN Provinsi se-Indonesia berhasil mengungkap 551 kasus dengan 816 tersangka pada 2015. Selain itu, ada 40 WNI yang tertangkap di luar negeri, tersebar di tujuh kota dari lima negara. Secara akumulatif, selama 2009- 2015, tercatat 251 WNI tersangkut kasus narkotika di luar negeri; 152 di antaranya terancam hukuman mati.

Lansiran BNN itu mengindikasikan bahwa “barang haram” tersebut sudah menelusup ke dalam kehidupan anak-anak bangsa. Sepanjang tahun 2015, BNN menjalankan program rehabilitasi bagi 23.210 orang di lembaga rehabilitasi pemerintah. Jumlah itu masih diperbanyak oleh lebih dari 13.200 pecandu yang menjalani rehabilitasi di instansi swasta.

Sebagai salah satu komponen bangsa Indonesia, Gereja Katolik juga mengusung keprihatinan “kondisi darurat narkoba” dalam gerak pastoralnya. Dasarnya jelas; “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” (GS art.1)

Pada 15 November 2013, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menerbitkan Surat Gembala bertajuk, “Jadilah Pembela Kehidupan! Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba”. Para Uskup prihatin terhadap kondisi bangsa terkait penyalahgunaan narkoba. Korban “barang haram” ini tak memandang status, usia, profesi, agama, ras, suku, dan latar belakang apapun. Para korban menjadi rentan penyakit, mengalami goncangan psikis, tak punya pegangan hidup, tidak lagi otonom dalam pilihan moral, serta mudah terombang-ambing secara psikis dan mental. Akibatnya, terjadi kerusakan relasi interpersonal dan komunal, serta ekonomi pun bisa morat-marit. Setelah itu, kejahatan meningkat dalam masyarakat; moralitas rusak; dan gangguan keamanan merajalela. Narkoba merusak pribadi manusia, citra Allah sendiri (bdk. Kej 1:27). Inilah pelanggaran serius pada harkat dan martabat manusia.

Para Uskup menyerukan agar persoalan ini dipikul sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa; dan Gereja harus mulai memerangi melalui lingkungan pribadi, keluarga, sekolah, komunitas, paroki, keuskupan dan lebih luas lagi. Gereja berkomitmen untuk menyelamatkan para korban. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah kehilangan masa lalu dan masa kini. Jangan sampai mereka juga kehilangan masa depannya. Oleh karena itu, rumah-rumah rehabilitasi mestinya tak sekadar mendampingi secara medis dan psikologis, tapi juga mental dan spiritual. Mari kita perangi narkoba sebagai bentuk partisipasi dalam karya penyelamatan Kristus, “Aku datang agar mereka semua mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10b).

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 2 Tanggal 8 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*