Artikel Terbaru

Veronica Anys Dewanti: Sampai Tuhan Menghentikan

Veronica Anys Dewanti memberikan instruksi kepada anak-anak Panti Asuhan Vincentius Putra saat latihan kolintang.
[HIDUP/ Yanuari Marwanto]
Veronica Anys Dewanti: Sampai Tuhan Menghentikan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAngklung dan kolintang membawa dia ke berbagai tempat. Dua alat musik itu juga menjadi sarana pelayanan. “Sampai Tuhan sendiri yang menghentikan,” tandasnya.

Natal masih jauh. Masa Adven pun belum tiba. Tapi irama musik Natal, seperti “Gloria in Excelsis Deo” dan “Feliz Navidad” sudah bergema di sebuah ruangan di Panti Asuhan Vincentius Putra, Jalan Kramat Raya No. 134, Jakarta Pusat, Rabu, 16/11. Irama itu bukan berasal dari tape atau dvd player, melainkan kolintang.

Tong ting tang, demikian bunyi kolintang yang dipukul sembilan anak panti. Tak ada seorang pun yang bersuara, kecuali bunyi alat musik dari Minahasa, Sulawesi Utara itu. Pandangan para pemain kolintang hanya tertuju kepada bilah-bilah kayu dan instruksi pelatih, yang duduk di depan mereka, sambil meng angkat kedua tangannya.

Rupanya anak-anak panti sedang latihan untuk mengiringi perayaan Natal Komunitas Kawanua Jakarta pada 17 Desember nanti. Mereka juga sedang bersiap-siap untuk perayaan Natal Karyawan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan pada 14 Januari mendatang. “Eh …eh, jangan lari dulu, rapikan alat musik kalian sekarang,” seru sang pelatih, Veronica Anys Dewanti, menahan anak didiknya yang ingin ngacir usai latihan.

Bubuk Bambu
Pada akhir Juli lalu, Anis, sapaannya, bersama anak-anak St Vincentius Putra, menghadiri World Youth Day 2016 di Polandia. Mereka memainkan angklung dan kolintang di negara asal St Yohanes Paulus II. Alat musik itu juga menjadi rel komunikasi dengan warga di sana. Dengan menjentikan jemari tangannya, ia melatih warga setempat. “Kata warga, saat itu untuk pertama kali bunyi angklung dan kolintang terdengar di sana,” ungkap Anis.

Hampir dua tahun ia melatih kolintang untuk anak-anak Vincentius Putra. Tiap Rabu dan Kamis pukul tiga hingga lima sore merupakan kesempatan bagi perempuan kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta, 3 Mei 1969 ini mempertanggungjawabkan talenta yang didapatnya secara cuma-cuma dari Tuhan.

Ia katakan anugerah gratis sebab ibu dua anak itupun tak mengira peristiwa sekitar 1999 menjadi gerbang panggilan dan pelayanannya hingga kini. Pada tahun itu, Anis yang baru menjadi guru di Sekolah Sang Timur, Cakung, membersihkan gudang. Atas izin kepala sekolah, guru olahraga itu mau menjadikan ruang penyimpanan barang menjadi tempat kerjanya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*