Artikel Terbaru

Mendisiplinkan Anak

[NN]
Mendisiplinkan Anak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh Yth, Kami menghadapi masalah dengan perilaku anak bungsu. Umurnya 6 tahun, laki-laki dan tahun ini masuk SD. Di TK dia termasuk siswa yang pandai. Dibanding dengan teman-temannya, dia paling cepat bisa membaca. Dia juga punya bakat bernyanyi, dua tahun berturut-turut di TK dia meraih juara pertama. Tetapi, ada hal yang sering membuat emosi, yaitu tingkah lakunya yang sulit diatur. Disuruh tepat waktu, sulitnya minta ampun. Bangun tidur, mandi, makan, mengerjakan PR, nonton tv, dsb selalu molor. Padahal, hampir tiap pagi, kami sudah memberitahu apa yang harus dilakukannya dari pagi sampai malam. Hal ini juga kami lakukan pada anak sulung (umur 9 tahun), dan nyatanya bisa tertib meski dia agak pemalu dan ‘hatinya kecil’ (mudah pesimis). Tapi, yang bungsu sering tidak peduli. Dia sering semaunya sendiri. Waktunya mengerjakan PR, malah menggambari lantai, atau mainan perang-perangan dengan memaksa kakaknya jadi penjahat. Hal ini membuat kami sering jengkel. Kami orangtuanya seharian sudah lelah bekerja, dia selalu aneh-aneh begitu. Makin sering dimarahi, dia makin semaunya. Kalau sudah begitu, biasanya kami mendiamkannya sampai lama. Kami kadang prihatin, dia sulit diarahkan untuk disiplin. Padahal, kakaknya mudah diarahkan.

Sebagai orangtua, kami selalu memberi contoh disiplin. Kami dulu sama-sama dibesarkan, diasuh, dan dididik di sebuah panti asuhan yang sangat disiplin. Pelanggaran sedikit saja dihukum (makan tanpa jatah lauk, tak boleh nonton tv, mengepel aula, dsb) dan kadang dengan penanganan fisik (ditampar, dipukul).

Menurut kami, cara-cara itu kejam. Maka, meski jengkel sampai di tengkuk ketika anak sulit diatur, kami tidak pernah memakai kekerasan fisik. Paling-paling kami hanya memarahinya dengan kata-kata, kadang kasar juga. Kami, sebagai orangtua dan suami-istri, selalu hidup berdisiplin dalam segalanya. Hal ini juga selalu kami tekankan kepada anak-anak kami. Yang kami khawatirkan dengan si bungsu, kalau dia begitu terus bagaimana nanti saat dia duduk di bangku SD. Padahal, kami menyekolahkannya di SD misi Katolik yang terkenal sangat disiplin, banyak memberi PR, dan mahal biayanya.

Sebagai keluarga yang tidak berlebih, tingkah laku anak kami ini sering menambah pikiran. Kalau dia tidak berhasil, kan berarti kerugian uang dan waktu.

Melalui surat ini, kami ingin menanyakan: Bagaimana cara-cara yang harus kami lakukan agar anak kami bisa disiplin?

Bp/Ibu St di kota M.

Bapak dan Ibu benar, kedisiplinan adalah hal penting dalam hidup ini. Saya respek terhadap prinsip dan sikap hidup yang penuh disiplin yang selama ini selalu Bapak dan Ibu pegang, juga lakukan. Sudah semestinya Anda berdua menginginkan kedua anak bisa mewarisi prinsip dan sikap hidup itu sejak dini. Hanya perlu disadari, buah keinginan itu belum tentu bisa dipetik dalam sekejap. Anda berdua mampu berdisiplin total dalam banyak hal, tentu karena tempaan pengalaman hidup yang keras. Syukurlah, Anda berdua mampu memaknai semua itu sebagai pelajaran hidup. Anda berdua sudah berhasil lulus dari “sekolah hidup”. Sedangkan kondisi anak bungsu Anda (juga kakaknya) sangat berbeda. Mereka lahir, diasuh, dan berkembang di lingkungan keluarga biasa/non-panti asuhan (mohon dipahami, saya tidak berpandangan bahwa semua kondisi kehidupan, termasuk pola pengasuhan di semua panti asuhan adalah “lebih buruk” dibandingkan dengan yang terjadi di keluarga-keluarga biasa).

Perbedaan lingkungan domestik ini, juga perbedaan situasi lingkungan kehidupan di luar rumah (sekolah, tetangga, masyarakat) beserta ragam stimulasinya secara langsung/tak langsung mempengaruhi perasaan, pikiran, keinginan, kebutuhan, dan bahkan gaya hidup anak-anak.

Inilah “warna kehidupan” yang berbeda dari yang Anda berdua dulu alami. Cara mendisiplinkan anak dengan menghindari penggunaan kekerasan fisik yang telah Anda berdua terapkan sudah sangat tepat. Namun, itu belum cukup.

Ada tiga hal yang perlu dipahami: pertama, yang disebut “kekerasan” bisa juga dalam bentuk kata-kata dan ucapan verbal.

Kedua, alam pikiran anak tidak sama dengan alam pikiran orang dewasa.

Ketiga, zaman sudah berubah, yang dulu efektif belum tentu cocok diterapkan sekarang. Sekadar sharing saja, menurut saya, cara Anda berdua mendisiplinkan anak perlu “direvisi” dengan memperhatikan tiga hal tersebut.

Secara teknis, mungkin beberapa hal ini bisa dicoba:

1. Buatlah aturan dengan alasan yang jelas. Misalnya, peraturan tentang jam belajar. Jelaskan kepada anak bahwa ia perlu berprestasi untuk mencapai cita-citanya. Saat anak belajar, upayakan situasi yang mendukung dan pantaulah dengan intensif. Aturan-aturan yang dibuat hendaknya disesuaikan menurut urgensi anak dan penyampaiannya disesuaikan dengan usia serta taraf kemampuan berpikir anak.

2. Gunakan ungkapan santun, efisien, dan kontekstual. Misalnya,“Tolong, matikan dulu tv nya” sebagai pengganti dari “Jangan nonton tv terus. Kamu bisa bodoh!” Upayakan kata-kata singkat dan kontekstual, misalnya “Yuk sekarang…” untuk ajakan seperti “Ayo mulai belajar, jangan ribut terus, nanti nilaimu jeblok.”

3. Berikan motivasi.
Bila Anda mengetahui anak telah melakukan hal-hal yang benar/sesuai harapan, berilah penghargaan (dengan pelukan hangat, pujian, komentar positif). Apresiasi akan lebih berpengaruh daripada hukuman.

4. Beri penjelasan untuk setiap pertanyaan dengan sabar. Bila anak bertanya tentang sesuatu, misalnya berkaitan dengan alasan mengapa aturan harus ditegakkan, jangan dijawab bahwa itu “wajib”, lalu titik. Bukalah kesempatan untuk mendiskusikan secara terbuka dan sabar, sehingga anak memahami alasan mengapa dia mesti melaksanakan peraturan itu.

5. Kendalikan diri dan jagalah setiap ucapan. Setiap kata dan ungkapan “minor” orangtua akan berefek pada diri anak. Kata yang memojokkan, meremehkan akan tersimpan menjadi benih rasa tak berharga, minder, menarik diri, pendiam, pemalu atau sebaliknya, rasa dendam, tidak respek pada ortu, dsb. Misalnya, Anda mengatakan: “Kamu sulit diatur, selalu bikin pusing orangtua!” Tanpa disadari, itu akan menimbulkan rasa diri “kurang” dan rasa bersalah pada anak.

6. Tumbuhkan dan pupuk sikap percaya anak pada orangtua. Salah satunya, dengan mengajarkan kepada anak untuk percaya pada orangtua, dengan cara selalu menepati janji pada anak, meski kadang berat. Bila merasa tidak mungkin melaksanakannya, jangan pernah berjanji pada anak. Bila anak sudah percaya, akan semakin mudah mengarahkannya.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 31 Tanggal 1 Agustus 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*