Artikel Terbaru

Respect

[independentamericanparty.org]
Respect
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ini adalah seri kedua dari tulisan saya tentang nilai-nilai yang mendasari perkawinan. Setelah nilai pertama, yaitu trust yang kita diskusikan sebelumnya, berikutnya adalah nilai respect. Respect atau penghargaan adalah nilai yang mendasarkan pada kesadaran untuk menghargai sesama manusia sebagai manusia. Banyak problem yang kita hadapi saat ini tampaknya bermula dari kurangnya penghargaan atas diri orang lain.

Manusia, siapapun dan dari mana asalnya, serta dari latar belakang apa pun, pastilah butuh dihargai. Penghargaan ini menjadi dasar dari relasi antarsesama. Dengan menghargai antara sesama manusia, berarti kita juga menghargai kehidupan itu sendiri. Sayangnya, hal ini sering menjadi persoalan yang justru membuat manusia menghancurkan manusia lain. Persoalan-persoalan masyarakat hingga persoalan bangsa tampaknya juga dimulai dari kurangnya orang menghargai manusia lain. Terlebih banyak cerita dalam rumah tangga juga dimulai dari kurangnya penghargaan pada pasangan hidupnya.

Tentunya kita pernah mendengar persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mungkin sebagian di antara kita terheran-heran bagaimana hal ini bisa terjadi. Tentu saja yang lebih mengherankan adalah bagaimana manusia begitu teganya melukai orang lain, baik secara fisik dan mental dengan melakukan penganiayaan yang kadang di luar jangkauan nalar kita sebagai orang normal. Terlebih jika penganiayaan tersebut hingga menimbulkan kematian. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi pada sepasang anak manusia yang pada awal menjalani hubungan tentu memiliki rasa cinta. Namun pada akhirnya, saling melukai bahkan saling menghancurkan.

Bagaimana sebenarnya menumbuhkan respect di antara pasangan? Tentunya bukanlah hal yang sulit karena pasangan kita adalah orang yang kita sayangi. Pertengkaran atau dalam situasi yang lebih runyam adalah perceraian, adalah sebuah persoalan yang tak jarang hanyalah tumbuh karena didasarkan pada kurangnya rasa menghargai pada pasangan sendiri.

Berikut ini beberapa tips yang bisa kita coba untuk tetap menumbuhkan respect dalam diri kita kepada pasangan:

• Jika ingin dihargai, mulailah dengan menghargai orang lain. Perilaku orang lain kepada kita sesungguhnya cerminan perilaku kita kepada mereka. Jika kita tidak menghargai orang lain, bagaimana mungkin mereka akan menghargai kita. Bukankah relasi itu bersifat timbal balik.

• Mengharapkan orang lain selalu menghargai kita, tentu saja juga tidak bijaksana, karena tiap orang memiliki sikap, nilai, bahkan mungkin pemahaman sendiri tentang bagaimana cara menghargai orang lain. Cara orang menghargai kadang tidaklah selalu sama. Ada orang yang bisa secara ekspresif mewujudkan penghargaan tersebut, namun ada juga yang tidak bisa secara spontan dan ekspresif mewujudkan penghargaan itu. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita tetap nothing to loose untuk memberikan penghargaan. Artinya, tulus saja menghargai orang lain, tanpa harus mengharap timbal balik. Terlebih terhadap pasangan kita.

• Jangan pernah berhitung untung rugi, apalagi dengan pasangan. Seringkali yang terjadi, orang melakukan kalkulasi terhadap apa yang sudah diberikan kepada orang lain, yang dalam hal ini adalah pasangan. Merasa telah memberi banyak, namun merasa pula tidak mendapatkan apa pun atau hanya sedikit saja mendapatkan balasan terhadap apa yang sudah dan pernah kita berikan. Hentikan untuk selalu menghitung-hitung jasa yang pernah kita berikan kepada pasangan, karena itu hanya akan melukai perasaan sendiri. Saat kita telah menyerahkan seluruh diri kita kepada pasangan, sebenarnya saat itu kita total dalam memberikan sesuatu, bahkan hidup kita pada pasangan.

• Perwujudan penghargaan tidak selalu dalam bentuk materi, uang, atau hadiah, namun pujian, kata-kata sayang, kerlingan sayang, senyuman, tanda jempol, atau elusan sayang sudah mewujudkan segalanya. Ini yang sering pula disalahartikan oleh orang bahwa menghargai haruslah dalam bentuk barang. Tak jarang elusan sayang atau dekapan hangat justru lebih bernilai dibanding barang yang diberikan.

• Betapa sulitnya mengekspresikan perasaan kita ketika menghargai pasangan. Kadang kita justru menganggap bahwa menghargai pasangan itu tidak terlalu diperlukan. Jika pasangan kita melakukan hal baik, sering kita anggap itu sudah menjadi kewajiban dan tugasnya sehingga untuk memberikan penghargaan menjadi sesuatu yang dianggap berlebihan. Bahkan, kita lebih mudah memuji orang lain, teman di kantor, tetangga atau sekadar orang yang lewat, namun memuji atau menghargai pasangan sendiri begitu sulitnya.

• Memang tidak dapat dipungkiri bahwa menyanjung, memberikan pujian adalah sebuah kebiasaan yang kita pelajari dari lingkungan atau dalam hal ini dari keluarga kita. Jika keluarga kita tidak memiliki kebiasaan tersebut, memang sulit untuk mengekspresikan penghargaan kita kepada pasangan. Atau, jika kita selalu mendapat celaan dari rumah, bukan tidak mungkin kita lebih cepat memberikan reaksi mencela orang lain daripada menghargai dalam bentuk pujian atau perhatian.

• Mulai untuk mengekspresikan wujud respect kepada pasangan memang harus dimulai sekarang. Mengapa kita begitu pelit berbagi perhatian dan pujian kepada pasangan, sedangkan dengan orang lain, kita hamburkan sejuta pujian dan penghargaan setinggi langit. Konyol bukan?

• Jika memang sulit memulai, paling tidak, henti kan celaan, sindiran, muka masam kepada pasangan karena berarti kita merasa ada yang salah dalam relasi tersebut. Ini tentu saja bukan hal yang gampang jika sudah menyangkut kebiasaan. Namun demikian, yang sulit belum tentu tidak bisa kita lakukan. Yang terpenting adalah kemauan kita sendiri untuk memulai.

• Berilah sedikit senyuman kepada pasangan di sela hari yang sibuk, sekadar sapaan yang mungkin sudah lama tidak pernah kita berikan. Bagaimanapun pasangan kita adalah bagian dari hidup kita yang sudah memberikan andil dalam sepanjang hidup yang telah kita lalui. Apa pun baik buruknya pasangan, kita sendiri yang memilih. Toh tidak ada di dunia ini orang yang sungguh sempurna, yang sesuai 100% dengan kemauan kita. Bertoleransi dan bertenggang rasa dengan pasangan, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya adalah wujud kedewasaan kita. Kita pun tentu tidak sempurna.

• Perkawinan yang kita jalani tentu tidak akan hanya setahun dua tahun kita lalui, namun sepanjang kehidupan kita. Tanpa rasa menghargai antara pasangan, tampaknya kita hanya menunggu meletusnya bom waktu. Jadi, tidak ada salahnya kita coba mulai hari ini.

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 30 Tanggal 25 Juli 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*