Artikel Terbaru

Beato Stefan Wincenty Frelichowski: Musafir Kamp Konsentrasi

Beato Stefan Wincenty Frelichowski
[ingosc.pl]

HIDUPKATOLIK.comIa mengalami kepahitan di banyak kamp konsentrasi. Meski berada dalam “neraka” ciptaan Nazi, Pastor Frelichowski getol melayani umat; nyawanya jadi taruhan.

Hampir setiap orang menjauhi bahaya, kemalangan, dan penderitaan. Berbeda dengan Pastor Stefan Wincenty Frelichowski. Imam yang ditahbiskan pada 14 Maret 1937 itu justru berani menerjang aral. Ia pun harus membayar mahal dengan nyawanya.

“Gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Ayat itu seakan membakar semangat pelayanan imam muda ini. Di kamp kon sentrasi, Pastor Frelichowski merawat, melayani, meneguhkan dan mengajarkan para tahanan untuk saling berbagi. Bahkan saat penghuni Kamp Dachau, Jerman dijangkit wabah tifus, ia berani menemui mereka yang terkontaminasi.

Suatu ketika tentara Jerman menawarkan pilihan kepadanya. Pastor Frelichowski bisa bebas asalkan menandatangani Volksliste, yaitu surat pengakuan sebagai orang Jerman dari warga asing. Namun ia menolak. Alhasil ia menjadi “zombie di neraka” buatan antek-antek Adolf Hitler. Imam kelahiran Chełmzy, Polandia, 22 Januari 1913 ini tak ingin menggadai tanah airnya hanya demi kebebesan semu.

Kepala Pasukan
Frelichowski dan Pramuka bak dua sisi dalam sekeping mata uang. Hampir setiap orang Polandia mengenal anak ketiga dari enam bersaudara ini sebagai anggota Pramuka sejati. Begitu pula ketika menyebut Pramuka, warga bakal langsung mengenang rekam jejak dan peran Frelichowski di organisasi yang didirikan oleh Robert Stephenson Smyth Baden-Powell (1857-1941) itu.

Putra pasangan Louis dan Martha Frelichowski ini menjadi anggota Pramuka sejak berusia 14 tahun. Berkat keaktifan, totalitas, serta sumbangsihnya di Pramuka, Frelichowski didapuk sebagai pemimpin regu hingga kepala pasukan. Saking cintanya dengan Pramuka, ia tak pernah mengucapkan sayonara hingga tutup usia. Ia sadar, organisasi Pramuka membantu karya pastoralnya, terutama untuk masuk, menyapa, dan membina kaum muda di “kebun anggur” misinya.

Ketika masih menjadi calon imam Keuskupan Chelmno (kini Keuskupan Pelplin, Polandia), Fr Frelichowski menggandeng organisasi Caritas. Sebenarnya ia juga menjadi anggota Caritas. Kala itu, ia memberikan pelatihan dan pembinaan untuk orang muda. Keaktifannya berorganisasi ini berlanjut hingga ia menjadi imam.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*