Artikel Terbaru

Literasi Alkitabiah

Literasi Alkitabiah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku bertempur dan jari-jariku berperang …. (Mzm 144:1a). Demikian bunyi antifon pembuka dalam suatu Misa. Seandainya tanpa kesadaran kritis, maka para murid Tuhan terhasut antifon tersebut. Selama Misa, mereka memikirkan siasat dan sesudahnya mengumpulkan massa untuk menyerang siapa saja yang berbeda keyakinan. Sebaliknya, jika pihak-pihak yang diserang menyerang balik, maka “hebatlah kerusakan dunia ini” karena gagal paham dan kesempitan tafsir.

Gagal paham dan kesempitan tafsir terjadi karena keterbatasan dan pembatasan. Seseorang atau sekelompok orang gagal paham karena hanya mampu memahami secara harafiah tulisan atau bacaan. Tulisan atau bacaan hanya dipahami secara literal sehingga gagal memahami secara utuh. Taraf penguasaan demikian digolongkan literasi literal. Keadaan ini rentan dihasut.

Lebih berbahaya dari itu adalah pembatasan pemahaman secara literal. Pilihan sikap ini merupakan cuatan literalisme pemahaman, yaitu pandangan atau sikap yang memperlakukan tulisan sebagai sesuatu yang keramat. Dalam konteks uraian ini, literalisme pemahaman melihat Alkitab sebagai kitab hukum (codex). Konsekuensinya ayat-ayat Kitab Suci dijadikan pasal dan tafsir literal menjadi doktrin, fatwa. Kesempitan tafsir dan daya hasut yang ditimbulkannya memicu konflik. Bukankah atas alasan semacam itu sehingga Yesus mengecam para Ahli Taurat dan kaum Farisi?

Untuk menghindari kesempitan dan bahaya demikian dibutuhkan literasi alkitabiah. Untuk itu, pemahaman literal Alkitab harus diperluas dan diperdalam menjadi pemahaman transliteral, yaitu pemahaman yang melampaui tulisan dan bacaan sesuai teks dan konteks. Jika literasi literal mengandalkan penguasaan yang tersurat, maka literasi transliteral berusaha menemukan yang tersirat. Dengan cara demikian pemahaman lebih utuh tercapai.

Dalam kosakata studi bahasa kritis (critical linguistics), pemahaman transliteral ini berhubungan dengan pemahaman wacana, yaitu bahasa dalam penggunaan (language in use). Dalam kata-kata umum, Alkitab harus dipahami secara tekstual dan kontekstual. Teks yang tersaji secara tertulis dan terbaca (visible) serta terdengar (audible) harus dipahami sesuai konteks penulisannya dan konteks penafsiran.

Literasi kewacanaan semacam ini diperlukan agar pembaca atau pendengar dapat memahami teks sesuai konteks, baik situasi penulisan teks maupun situasi pemahaman masa kini. Potensi literasi wacana ini dapat diandalkan dalam studi Kitab Suci seperti tampak dalam penelitian-penelitian Alkitab mutakhir.

Lebih dalam dari itu, literasi alkitabiah berhubungan dengan kesadaran dan cara hidup yang dilandasi khazanah iman di dalam Alkitab. Oleh karena itu, pembaca atau pendengar harus membuka diri untuk dicerahkan dan dijiwai olehnya. Literasi alkitabiah selain mencapai pemahaman atas Alkitab juga kesanggupan untuk menemukan dan mendayagunakan harta karun iman di dalamnya.

Secara praktis, literasi alkitabiah memandu dan mencerahkan usaha mendalami Alkitab demi pertumbuhan iman dan terjalinnya persaudaraan dengan semua ciptaan. Sebab, literasi alkitabiah adalah capaian pengetahuan atas Alkitab dan kesadaran hidup beriman yang dicerahkan dan dijiwai olehnya. Jika inti Alkitab adalah kebenaran maka pembaca dan penyimaknya wajib menghindari ketersesatan dan penyesatan. Jika Alkitab berisi undangan keselamatan maka jemaatnya harus menyelamatkan, bukan merusakkan, menghancurkan. Demikian juga kalau hakikat Injil adalah kabar gembira maka hidup yang Injili menggembirakan diri sendiri dan semua ciptaan.

Literasi jenis ini harus terus diusahakan agar seseorang semakin beriman secara personal dan melibat dalam merajut kebersamaan dengan dan di antara semua ciptaan. Dengan literasi alkitabiah itu orang beriman mampu keluar dari pemahaman sekadar literal kepada pemahaman wacana Alkitab secara utuh. Dengan begitu seseorang bebas dari gagal paham dan kesempitan tafsir, dan diandalkan untuk mengawal kerukunan.

Yohanes Mariano Dangku

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 48 Tanggal 27 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*