Artikel Terbaru

Gereja Hari Ini

Gereja Hari Ini
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Hari ini kita masih melihat banyak orang muda datang ke gereja mengikuti Misa. Mereka biasa duduk bergerombol di satu bangku panjang. Mereka masih berdoa dan mengikuti perayaan Ekaristi dengan khusyuk. Namun ketika berbicara tentang iman kekatolikkan, mereka kadang gagap. Bahkan banyak yang kemudian memilih menghindar ketika obrolan sudah sampai ke hal-hal yang detail tentang dogma, ajaran, dan tradisi Gereja.

Generasi ini juga jarang mempertanyakan kebenaran tentang iman. Bisa jadi mereka tak memiliki basis yang cukup untuk mempersoalkan hal ini. Tetapi banyak orang, terutama dari kalangan yang lebih tua, menganggap generasi ini jauh dari Tuhan. Mengapa?

Kerapuhan iman umat pada umumnya, terutama orang muda, pertama-tama bukan karena soal religius, melainkan karena persoalan kebudayaan. Ada pendapat yang berkata bahwa kebudayaan adalah faktor penentu pembentuk masyarakat, namun justru yang paling sering dilupakan.

Banyak pelayan pastoral sebenarnya telah sadar betul bahwa kebudayaan menjadi sisi yang mesti diperhatikan ketika pelayanan pastoral dan sakramental. Dalam hal ini, Gereja mesti peduli dengan cara bermasyarakat, sistem kekeluargaan, komunikasi antaranggota masyarakat, serta perilaku dan cara pandang kultural sebuah komunitas dalam melihat Yang Ilahi. Upaya memajukan iman umat mestinya memang berpondasi kesadaran kultural. Kita masih melihat di daerah pedalaman, di lereng-lereng gunung, di tengah hutan lebat, di pinggiran pantai dan sungai, umat Katolik mengekspresikan imannya dengan rupa-rupa hal, seperti nyanyian atau gerak tarian yang menjadi simbol pergulatan hidup mereka. Iman dan budaya melangkah beriringan dengan amat harmonis.

Lantas, bagaimana melukiskan kehidupan umat beriman di tengah kota, yang hidup di antara hutan beton dan gedung pencakar langit atau di pinggiran sungai yang dipenuhi sampah atau di kawasan industri yang diliputi asap dari cerobong pabrik? Dalam suasana urban, budaya dipahami dengan kata “kompetisi, untung rugi, dan uang”. Iman pun hidup berhimpitan dengan budaya itu. Maka, generasi kini menghayati kehadiran bayi Yesus tanpa bisa lepas dari restoran, mal, liburan, kartu kredit, dan segala alat kapitalisme lainnya.

Namun demikian, kita tetap masih bisa bernapas agak lega, lantaran dua ribu tahun lalu, bayi Yesus pun hadir dalam sengkarut politik dan budaya. Penguasa politik kala itu tidak menginginkan kelahiran-Nya, seperti yang dikisahkan Matius. Meski harus menempuh risiko yang tinggi, toh Dia tetap hadir di ke dunia ini sebagai Sang Juru Selamat. Hidup yang diwarnai silang selisih dan karut-marut bukanlah untuk dihindari, apalagi ditinggalkan. Allah telah mewujudnyatakan misi penyelamatan dengan menjadi manusia yang turun ke bumi. Sang Sabda menjadi daging agar misi Mesias terlaksana.

Kelahiran Yesus yang baru kita rayakan, mengajarkan agar kita “larut tak hanyut”. Iman yang larut dalam budaya hidup di sekitar kita, tanpa harus menanggalkan nilai-nilai keberimanan. Selamat Natal, Selamat Tahun Baru!

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 1 Tanggal 1 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*