Artikel Terbaru

Gitu Aja Kok Repot

HIDUPKATOLIK.com – Mendengar ungkapan “Gitu aja kok repot” ingatan kolektif masyarakat langsung tertuju kepada sosok K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia kerap mengatakan ungkapan itu di berbagai kesempatan. Saat menjadi Presiden RI, ungkapan ini tetap ia lontarkan. “Gitu aja kok repot” kemudian menjadi tenar di masyarakat ketika diangkat lagi dalam acara “Republik Mimpi” di sebuah stasiun televisi swasta.

Tiap kali mendengar ungkapan Gus Dur tersebut, bawaannya pengen tertawa. Gus Dur memang dikenal memiliki sifat humor sangat tinggi. Saat menyampaikan ajaran agamapun, ia tetap menye lipkan humor hingga membuat orang-orang yang mendengar terpingkal-pingkal. Tapi apakah hanya sebatas itu?

Jika melihat pribadi Gus Dur sebagai seorang kiai NU yang sangat dikagumi, bisa disimpulkan bahwa lelucon-lelucon yang dilontarkan Gus Dur selalu memuat tujuan dan pesan tertentu. Ia tahu memilah humor sesuai dengan konteks dan situasi. Saat bertemu dengan tokoh-tokoh agama, Gus Dur akan menceritakan humor yang bertema agama, yang membuat suasana menjadi cair.

Akhir Desember 2016 lalu, ribuan orang berkumpul di rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Mereka mengenang tujuh tahun meninggalnya “Sang Guru Bangsa”. Peringatan yang dihadiri tokoh-tokoh agama tersebut ingin menghimpun kembali ingatan kolektif masyarakat. Kenangan akan Gus Dur bukan hanya cara dia melucu tetapi teladan hidupnya sebagai tokoh bangsa dan agama.

Gus Dur adalah salah satu sosok yang menghayati nilai spiritual keislamannya sedemikian rupa hingga mengental dalam dirinya. Spirit itu kemudian dipancarkan kembali lewat tutur kata dan pola laku. Ada keyakinan bahwa semakin tinggi kecakapan spiritual seseorang, semakin bernas pula kecakapan kemanusiaannya. Artinya, ketika seseorang semakin beriman, ia akan semakin manusiawi. Keyakinan ini kiranya tepat sasar bila dialamatkan kepada Gus Dur.

Gambaran tentang kecapakan spiritual seseorang dapat juga kita temukan dalam tokoh-tokoh Katolik, seperti Paus Fransiskus. Tindakan membasuh kaki perempuan, membasuh kaki seorang Muslim, Misa dengan altar dari bangkai kapal adalah segelintir contoh dari sekian banyak tindakan Paus Fransiskus yang keluar dari mainstream. Namun, justru disitulah wajah spiritual yang ia hayati mewujud dalam rupa kasih mendalam kepada sesama manusia.

Contoh lain Romo Y.B. Mangunwijaya. Sampai sekarang, runutan cerita Kali Code di Yogyakarta dan Kedung Ombo, Boyolali, Jawa Tengah, tak akan lengkap kalau tidak menyebut nama Romo Mangun. Apa yang ia lakukan? Ia memilih tinggal bersama mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan menderita. Dari mana sumber inspirasi tindakan tersebut kalau bukan dari iman dan penghayatan spiritual yang amat mengental?

Jika demikian, “Gitu aja kok repot” dari Gus Dur selayaknya tak hanya dipandang sebagai menggampangkan segala. “Gitu aja kok repot” harus dilihat sebagai kesediaan untuk menempatkan diri setara dengan yang lain sehingga mau merangkul semua. Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa lewat Sakramen Baptis kita di angkat menjadi anak-anak Allah untuk menampakkan kemulian wajah-Nya lewat tutur kata dan perilaku, karena caritas Christi urget nos, ‘kasih Kristus yang mendorong kita’.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 15 Januari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*