Artikel Terbaru

Cemburu pada Calon Adik di Kandungan

[beliefnet.com]
Cemburu pada Calon Adik di Kandungan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBpk/Ibu Pengasuh Yth,Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan kami. Saat ini kami tengah menunggu kelahiran anak kedua, yang kini genap memasuki bulan ketujuh dalam kandungan. Rasa syukur dan bahagia mewarnai kehidupan kami, apalagi dari pemeriksaan USG terdeteksi bahwa calon anak kami ini kemungkinan besar berjenis kelamin perempuan. Genaplah impian kami dalam membangun keluarga, bila nanti saat dilahirkan dia memang benar-benar perempuan. Namun bila seandainya nanti dia nyatanya bayi laki-laki, kami pun tetap mensyukurinya.

Di tengah rasa syukur dan bahagia yang mewarnai hidup kami saat ini, kami menghadapi suatu problem berkaitan dengan perubahan perilaku dan kebiasaan anak kami (6 tahun). Dulu, dia tergolong mandiri dalam banyak hal (makan, berpakaian, bermain dengan teman sebayanya, mengerjakan PR, menyiapkan buku pelajaran setiap hari), ceria, jarang marah-marah, dan juga jarang merengek. Tapi belakangan ini, perilakunya berubah. Dia mulai bersikap malas-malasan, makan kadang minta disuapi, memakai pakaian harus menunggu dibantu, kurang antusias bermain dengan teman-teman sebayanya, jarang mau menyiapkan buku-buku pelajaran, saat mengerjakan PR harus kami temani sampai selesai, mudah marah-marah hanya karena hal-hal sepele (misalnya saat makan kebetulan istri saya tidak bisa menemani karena harus istirahat di tempat tidur, dia langsung marah-marah dan menggerutu, sambil menyebut-nyebut bahwa mamanya tidak cinta lagi).

Perubahan itu mulai terlihat, saat istri saya mulai rutin periksa ke dokter (bulan keempat usia kandungan) dan ditengarai ada indikasi tertentu di rahimnya, sehingga dianjurkan untuk banyak istirahat. Perubahan pada anak kami makin menyolok sebulan terakhir ini. Yang agak aneh lagi, sekarang dia sering sulit (menjauh) kalau didekati mamanya (istri saya). Kesan saya, dia lebih sering mendekat ke saya daripada ke mamanya. Pernah suatu kali saya bertanya mengapa dia suka marah pada mamanya. Dia mengatakan: ” …Mama sudah tidak sayang aku, Mama sekarang hanya sayang adik di perut.” Hal ini saya ceritakan ke istri saya, dan istri saya belakangan ini berupaya lebih menaruh perhatian dan lebih banyak menyapa dia. Tapi, anak ini terlihat sering kurang menanggapinya, bahkan kadang memperlihatkan sikap cuek kepada mamanya.

Pertanyaan kami: Benarkah anak kami ini berubah karena perasaan cemburu kepada calon adiknya yang masih di kandungan mamanya? Bila ini yang memang terjadi, tergolong mengalami gangguan psikiskah anak saya? Sikap dan perlakuan seperti apa yang harus kami lakukan, agar anak kami bisa kembali menjadi anak yang ceria, mandiri, tidak mudah marah, dan merengek seperti sebelumnya? Terima kasih.

Kel Bpk/Ibu A di kota Sl

Sebelum menanggapi surat Anda sekalian, secara khusus saya mengucapkan proficiat dan turut berbahagia atas karunia kehadiran sang jabang suci di garba Ibu yang telah lama ditunggu dan tak lama lagi akan lahir di tengah keluarga. Siapa pun dia, perempuan atau laki-laki, saya yakin akan tetap menggenapi kebahagiaan Anda sekeluarga.

Selanjutnya, terkait dengan perubahan yang kini terlihat pada ananda tersebut, sangat mungkin disebabkan oleh perasaan cemburu terhadap kehadiran sang calon adik yang masih dalam kandungan mamanya. Perasaan cemburu seorang kakak terhadap calon adiknya seperti ini, bukan hal yang lantas mesti dikhawatirkan sebagai ”gangguan” psikis. Apalagi, ananda memang masih dalam rentang usia kanak-kanak. Usia kanak-kanak diwarnai oleh sifat lugas baik di aspek pikiran, perasaan, dan perilaku motoriknya yang berpengaruh secara langsung terhadap perilaku bersosialisasinya.

Di rentang usia ini, ekspresi perilaku sosialnya seringkali masih bertaut langsung dengan ketiga aspek dasar tersebut, sehingga berbagai perilaku anak sering ”terbaca” oleh orang-orang dewasa sebagai ”polos” (naif), terang-terangan, dan egosentris. Akan alnya ananda, dia cukup lama berposisi sebagai anak tunggal yang selalu menjadi pusat perhatian, tumpahan kasih sayang yang tak terduakan. Keberadaan dan kehadiran pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung dirasakan berakibat ”menduakan”-nya, kendatipun belum hadir secara fisik dalam wujud pribadi/individu (masih dalam kandungan); akan disikapi sebagai ”pesaing” (rival)yang menggeser posisi sentralnya. Maka, jadilah pihak itu titik sasaran penolakannya. Ketika situasi ini terjadi, berbagai upaya ”protes” dilakukan, agar mendapatkan kembali posisi sentralnya. Bila berbagai upaya yang dilakukan tidak berhasil maka akan timbul situasi ”krisis”. Situasi ”krisis” ini akan bergulir menjadi pemicu keterpurukan atau moment pertumbuhan,sangat tergantung dari peran keterlibatan orang-orang dewasa yang penting (significant) dalam kehidupan si anak (misalnya, dan terutama, orangtua). Untuk ananda, peran Anda sekalian sebagai orangtua dalam membimbing, mengarahkan, dan secara bertahap menumbuhkan kesadaran serta menumbuhkembangkan peran sebagai sang kakak bagi si calon adik, sangatlah penting. Beberapa cara serta perlakuan yang bisa dilakukan sejak kini antara lain:
• Tumbuhkan rasa memiliki dan kegembiraan menyambut kelahiran adik. Katakan kepada ananda bahwa dia bakal memiliki teman bermain di rumah, suasana rumah akan lebih meriah. Secara perlahan, bujuk dan ajaklah ananda membelai calon adik dengan mengelus perut ibu.
• Dalam hal-hal tertentu yang masih perlu, tetap pertahankan membantu ananda. Misalnya, menyiapkan makan, menemani ananda mengerjakan PR, bercerita sebelum tidur
• Berbagilah tugas antara Anda berdua untuk tetap memberi perhatian penuh kepada ananda
• Bila berkunjung ke famili/relasi yang baru melahirkan/mengasuh bayi ajaklah ananda, agar dia tahu bahwa nantinya si calon adik akan seperti bayi itu juga
• Bila ibu periksa ke dokter, ajaklah dia. Termasuk mengajaknya melihat sosok calon adiknya lewat USG, dan melibatkannya untuk menyapa sang calon adik sebagai ”pribadi” yang nyata, dengan sapaan cinta dan keakraban. Misalnya, ”Hey adik, tidurmu enak ya. Kami semua menunggumu di sini lho…”
• Mulailah untuk menyadarkan ananda bahwa sejak sekarang dia harus mulai berbagi dengan sang adik. Karena dalam segalanya adik masih harus dibantu
• Libatkan ananda saat berbelanja mencari perlengkapan untuk calon adik, bila perlu belikan juga ananda hadiah/barang tertentu agar tidak merasa dibedakan dengan si calon adik

Selain contoh-contoh itu, tentu ada kiat-kiat lain sejenisnya yang lebih kontekstual dengan situasi di keluarga Anda. Berbagai cara dan media perlakuan tersebut secara bertahap akan membantu merangsang ananda untuk bertumbuh-kembang serta berevolusi dari posisi sebagai pihak ”tersaingi” menuju peran sebagai sang kakak yang dipercaya untuk menjaga, melindungi, dan berkolaborasi dengan sang adik sebagai bagian integral dari keluarga Anda. Dari sini pula berarti saat si adik lahir nanti, ananda sudah disiapkan untuk menyambut dan menjalankan peran sebagai sang kakak.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 36 Tanggal 5 September 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*