Artikel Terbaru

Menghadapi Si Oportunis

[NN]
Menghadapi Si Oportunis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh Yth,
Sekitar sebulan yang lalu saya dipanggil direktur tempat saya bekerja. Saya langsung menghadap. Dibuka dengan sedikit basa-basi, direktur meminta saya untuk membuat surat pernyataan yang isinya berupa pengakuan bahwa saya telah melanggar salah satu butir peraturan kantor (membocorkan data pada pihak eksternal) dan berjanji untuk mengundurkan diri bila sekali lagi saya melakukannya.

Saya kaget dengan perintah itu. Dengan menahan marah saya menjelaskan bahwa saya sama sekali tidak melakukan hal itu. Saya bersedia diperiksa. Direktur langsung memotong dan mengatakan bahwa pemeriksaan tidak perlu, karena semua yang saya lakukan sudah jelas. Dan saksi sekaligus orang yang melaporkan adalah L (kolega sekantor). Saya lakukan perintah itu, dengan hati sangat emosi. Teganya kawan itu (L) menusuk saya dari belakang. Padahal, dia itu kawan cukup lama (empat tahun) sejak kami kuliah di sebuah Akademi dan berlanjut sebagai kolega sekantor hingga sekarang.

Di awal perkenalan dan selanjutnya saling berkawan, dia adalah pribadi yang enak dan fair. Sekali kami memang pernah berkonflik (saling mendiamkan) saat masih kuliah gara-gara saya tidak menandatangankan presensi kuliah. Setahu saya, kawan dekatnya hanya saya dan “R” (pacarnya).

Sebelum dekat dengan R, hanya saya kawan dekatnya. Saat kuliah, beberapa kawan tidak menyukainya karena, menurut mereka, watak L egois, tidak peka terhadap teman, pelit, suka menjelek-jelekkan orang lain, meski beraninya hanya di belakang.

Kesan tentang L itu, menurut saya, karena mereka tidak/belum kenal dekat saja. Setelah saya kenal dekat, memang ada kebiasaan L yang kurang baik (sering menipu soal uang terhadap orangtuanya, suka “ngeret” pacarnya). Tapi karena dia adalah kawan dekat, dan saya tahu latar belakang keluarganya, saya tidak ikut membencinya. Beberapa kali saya coba mengingatkannya lewat diskusi ringan.

Sejak dia bekerja, dua kebiasaan buruk itu sudah tak dilakukannya. Hanya saja, beberapa kali saya pernah melihat dia melakukan tindakan kurang etis (suka memalsu data, sering mengingkari janji pada customer, suka menjatuhkan nama kawan di mata direktur).

Mengingat kedekatannya dengan saya, tak terlintas dalam pikiran bahwa dia bakal tega menusuk saya dari belakang. Peristiwa sebulan yang lalu itu membuat saya sangat terpukul dan hilang kepercayaan. Sejujurnya, saya tak melakukan hal seperti dilaporkan L pada direktur. Sejak peristiwa itu, saya mulai ambil jarak dengannya. Dia sepertinya tidak merasa telah berbuat hal yang menjatuhkan nama saya. Sebenarnya saat ini saya merasa tak ada lagi maknanya bersahabat dengannya. Namun di sisi lain, saya dan dia bekerja sekantor. Satu divisi lagi.

Harus bersikap bagaimana saya terhadap L? Apakah kawan seperti dia harus saya pertahankan? Saya bukan pendendam, tapi luka hati saya akibat ulahnya hingga kini masih menganga. Terima kasih.

Sdr S di Mt

Sdr S, perasaan ditusuk dari belakang, dikhianati oleh kawan dekat rasanya memang begitulah… Secara faali seperti ada tombak yang sontak terhunjam di hulu hati menembus jantung. Di medan hidup ini, kadang kita tak bisa menghindar dari pergaulan, atau bahkan persahabatan dengan seseorang yang di perguliran waktu kemudian ternyata kita baru tahu bahwa orang itu memiliki “cacat” perilaku.

“Cacat” perilaku sebenarnya melekat pada setiap insan. Pun kita semua, Anda juga tentu tak mengingkari ada sisi “cacat”-nya kan? Namun, bila itu sudah berekses secara psikososial yang serius bagi orang lain, apalagi bagi kawan dekat, maka “cacat” perilaku itu menjadi problem yang hayati dan perlu disikapi agar eksesnya tidak sampai meluas.

Bila sampai terjadi, itu akan mengganggu, mencederai hati atau bahkan secara fatal mencelakakan hidup, kehidupan, dan kesejahteraan orang lain (pun sebenarnya bagi si empunya “cacat” itu sendiri). Bila deskripsi Anda tentang dia (L) itu senyatanya begitu, kemungkinan L adalah pribadi oportunis yang serius. Dalam banyak hal, karakteristik utama si oportunis (pikiran, perasaan, sikap, dan manuver perilakunya) cenderung selalu berupaya mencari keuntungan bagi dirinya semata.

Di berbagai situasi dan kesempatan, perilakunya digerakkan oleh motif mengambil manfaat semata bagi diri sendiri, tanpa adanya pegangan prinsip/nilai-nilai etika penghormatan dan penghargaan terhadap keberadaan, situasi-kondisi, dan kebutuhan orang lain. Ciri-ciri yang lebih spesifik, antara lain: dalam mengejar kepentingannya sering tidak memikirkan dampaknya bagi orang lain, suka memperalat orang lain, tak segan menusuk dari belakang, “membunuh” reputasi teman, rekan, bahkan saudara sendiri demi tercapainya tujuan, seringkali bermuka dua (bahkan, bermuka jamak seperti bunglon), dan sering baru berani menunjukkan sikap bila tidak ada risiko. Biasanya tidak memiliki kawan abadi dalam jangka lama, karena kawan/sahabatnya selalu datang dan pergi entah karena dilibas atau pergi meninggalkannya karena menyadari telah di-“akali”/dimanipulasi.

Oportunisme ini akan semakin berbahaya bila dimiliki oleh orang-orang yang berada di sekitar/dalam sirkuit kekuasaan. Ke atas menjilat, ke bawah cenderung bersikap menguasai dan mengatur dengan memanipulasi sesamanya, ataupun aturan/prosedur yang berlaku. Mereka dengan mudah bisa menyerobot buah kerja keras orang lain dan mengklaim sebagai miliknya. Bila siasat-siasat liciknya “terbaca” orang lain, mereka bisa dengan mudah mencari kambing hitam dan sekaligus mencari celah untuk bisa menyelamatkan diri.

Mengapa orang bisa “berkembang” menjadi pribadi oportunis? Karena keterbatasan, saya belum berhasil menemukan data riset-riset yang akurat dan terbaru dengan subjek para oportunis. Ada asumsi menyebutkan bahwa orang-orang oportunis biasanya mengalami perasaan kekurangan secara subjektif (deprivasi relative) dalam banyak hal (bakat, kemampuan, harapan, penampilan, kekayaan, dsb) akibat membandingkan diri dengan orang lain. Perasaan “kekurangan” ini sering tak disadari lagi dan menggerakkan dorongan untuk “menyelamatkan muka” dalam dua kemungkinan bentuk perilaku: menarik diri atau menjadi oportunis.

Anak-anak yang diasuh oleh orangtua oportunis kemungkinan akan mengembangkan pola perilaku oportunis, bila pada rentang perkembangan dirinya tidak berhasil melakukan transformasi diri.

Menyikapi L, wajar bila Anda kecewa. Tapi, segera berupayalah netral. Carilah waktu yang tepat, temuilah L secara empat mata, dan dengan kepala dingin lakukan klarifikasi atau konfirmasi terkait dengan apa yang dilaporkannya kepada direktur mengenai diri Anda.

Setelah itu beres, demi hak membela diri ajaklah L menghadap direktur untuk klarifikasi. Bila L tidak bersedia, jangan dipaksa. Karena dengan itu, Anda sudah mendapat jawabannya.

Haruskah Anda mempertahankan L sebagai kawan (dekat)? Keputusan sepenuhnya di tangan Anda, karena manfaat dan mudaratnya hanya Anda yang paling tahu. Terkait dengan keberadaan L sebagai rekan sekantor, sebaiknya jangan biarkan luka menganga di hati Anda. Membiarkan diri terseret dalam kubangan luka hati hanya karena ulah si oportunis, hanya akan menghambat evolusi menuju pematangan diri.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 32 Tanggal 8 Agustus 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*