Artikel Terbaru

Dari Jumper ke Aksi Nyata

Pastor Alexius Andang Listya Binawan SJ
[HIDUP/Agus Y. Ranu]
Dari Jumper ke Aksi Nyata
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKerinduan berdevosi kepada Hati Kudus Yesus memunculkan beberapa “komunitas” Jumper di kota metropolitan. Jam istirahat makan siang dipakai untuk merayakan Ekaristi.

Misa Jumat Pertama (Jumper) merupakan salah satu bentuk Devosi kepada Hati Kudus Yesus. Istilah Jumper sebagai devosi kepada Hati Kudus Yesus berawal dari penampakan Yesus kepada St Margaretha Maria Alacoque (1647-1690) di Perancis. Dalam peristiwa itu dikisahkan, Yesus menghendaki perayaan liturgis Hati Kudus Yesus dan praktik mempersembahkan silih (reparation) atas dosa-dosa yang dilakukan manusia terhadap Sakramen Mahakudus. Waktu pelaksanaan silih adalah setiap Jumat pertama dalam bulan.

Salah satu janji Yesus kepada St Margaret adalah “Barangsiapa menerima Komuni Kudus selama sembilan kali berturut-turut pada hari Jumat pertama, jiwanya akan cepat mencapai kesempurnaan atau tidak lama di api penyucian”. Jika dikaitkan dengan hari Kamis malam sebagai anamnesis akan doa Yesus di Taman Getsemani, tentu Jumat yang dimaksud Yesus adalah hari wafat-Nya di kayu salib. Hari Jumat pada bulan baru menunjuk pada permulaan yang baik untuk kehidupan sepanjang bulan itu.

Peristiwa itu kemudian menginspirasi umat Katolik untuk melakukan dovosi. Di Jakarta, sudah banyak kawasan perkantoran yang memenuhi keinginan umat untuk berdevosi pada hari Jumat pertama dalam bulan. Kebanyakan yang ikut Misa Jumper di perkantoran adalah karyawan-karyawati yang memanfaatkan waktu istirahat makan siang.

Dari tahun ke tahun, kegiatan Misa Jumper di perkantoran makin menjamur. Bahkan ada gedung perkantoran yang menyediakan ruangan khusus untuk kegiatan ibadah, termasuk Misa Jumper. Berikut tanggapan Vikaris Episkopalis Keuskupan Agung Jakarta Romo Al. Andang L. Binawan SJ terhadap fenomena Misa Jumper di perkantoran:

Bagaimana tanggapan Romo tentang fenomena Misa Jumper di perkantoran?
Hal ini jelas fenomena masyarakat urban karena tampaknya tidak terjadi di kota lain. Saya tidak tahu bagaimana dengan kota besar lain di Indonesia. Dengan banyaknya orang mengikuti perayaan Ekaristi Jumat Pertama di perkantoran, bukan di gereja paroki atau stasi, jelas menandakan bahwa ada kerinduan yang tersalurkan.

Apa yang menjadi daya tarik?
Sangat mungkin bahwa hal ini terkait dengan banyaknya orang yang merasa kering dengan hidupnya, apalagi dalam kehidupan kerja dan bermasyarakat. Ekaristi Jumat Pertama yang menjadi ungkapan khusus devosi pada Hati Yesus Yang Mahakudus menjadi salah satu hal yang memberi kesegaran pada kehausan hidup itu.

Kegiatan Jumper di perkantoran ini masuk ranah teritorial atau kategorial?
Kegiatan Ekaristi atau Misa Jumper di perkantoran di Keuskupan Agung Jakarta dikelola dalam ranah kategorial.

Apakah perkantoran yang mengadakan Misa Jumper harus meminta izin ke Paroki?
Sejauh ini saya hanya bisa menganjurkan agar perkantoran yang dekat dengan gereja berkoordinasi dengan gereja atau Paroki itu. Demikian juga melihat apakah di sekitar itu sudah ada kantor atau gedung yang menyelenggarakan. Sekarang ini, di Jakarta ada sekitar 60-an perkantoran yang mengadakan Misa Jumper, sehingga kalau tidak dikoordinasi akan “rebutan” romo.

Apa harapan Romo?
Saya berharap, “komunitas” ini tidak berhenti dengan mengadakan Ekaristi bersama saja. Artinya, sangat bagus kalau kemudian kebersamaan yang ada juga menjadi sarana saling berkomunikasi dan saling memperkaya iman, antara lain dengan kegiatan bersama, entah rekoleksi setahun sekali, entah karya sosial, seperti dalam gerakan Beta Sapa (Bergandeng Tangan Sayangi Yang Papa) yang sudah dimulai oleh beberapa komunitas kategorial dan dipuncaki dengan gerakan Makan Siang Natal.

Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 49 Tanggal 4 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*