Artikel Terbaru

Fobia Sosial

[thelcbridge.com]
Fobia Sosial
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di antara orang-orang yang kita kenal, kadang kita menjumpai, bergaul atau bahkan bersahabat dekat dengan seseorang yang memiliki sifat pendiam, suka mengambil jarak dari dan atau menyendiri, serta dengan mudah mengalami perasaan cemas yang berlebihan, terutama bila berada dalam situasi kehadiran banyak orang (rapat RT, resepsi hajatan, acara ulang tahun, dsb). Padahal, dalam situasi interpersonal (relasi dua orang), dia bisa bersikap, berkomunikasi, dan berperilaku secara wajar-wajar saja. Bagi banyak orang yang tidak mengenalnya, atau sekadar kenal permukaan, orang dengan “pembawaan” seperti itu sering dianggap “aneh”, eksentrik, atau bahkan ada yang menjulukinya dengan istilah ekstrem: manusia dari planet lain. Orang dengan gambaran seperti itu sering “tidak laku” dalam hingar-bingar pergaulan pada umumnya. Ya, pada umumnya orang sering hanya bisa “mengadili” mereka entah dalam bentuk memberi “cap” negatif (stigma), menjauhi, mengasingkan, atau dengan berbagai modus “menolak” keberadaannya.

Perhatian, kepedulian, empati, dan intensi untuk mendukung serta membantu seseorang dengan “pembawaan” seperti itu, sering baru terjadi bila seseorang yang bersangkutan terkait/ada hubungannya dengan kehidupan kita. Misalnya, dia adalah famili, saudara, anak, atau orang yang ada kaitannya dengan status dan peran kita dalam kehidupan di bumi ini. Apa yang sebenarnya terjadi dan dialami mereka yang dianggap “aneh” itu?

Dalam psikologi, orang yang memiliki indikasi sebagaimana sekilas terpapar di atas, dideskripsikan mengalami gangguan yang disebut fobia sosial. Ciri-ciri lebih spesifik dari gangguan fobia sosial, antara lain: adanya deraan ketakutan serta kecemasan yang berlebihan (sering sebagai ikutan atau berkaitan dengan rasa malu yang tak terkendali) dan tak tahu harus bersikap bagaimana setiap kali berada dalam situasi sosial, baik secara langsung (berada di tengah/di antara banyak orang) maupun saat harus berbicara dengan orang lain di telpon, dan biasanya disertai dengan beberapa indikasi fisik lain, seperti badan sering gemetar, jantung berdebar, wajah pucat, mulut tersekat, sulit bicara, dan keluar keringat dingin. Saat bertemu orang-orang yang baru, saat harus berbicara dalam sebuah kelompok, atau berbicara di depan umum, mereka sering disergap serangan rasa malu yang berlebihan yang tak jarang menyebabkan gangguan bicara. Ketika harus berjalan di depan banyak orang, seakan kedua kakinya sulit diangkat, seperti ada tekanan yang menebar dari dalam diri (hampir seperti yang dialami mereka yang terserang “demam panggung”). Meskipun demikian, orang dengan fobia sosial biasanya masih dapat berinteraksi secara wajar dengan keluarga dan teman-teman dekat/orang yang telah benar-benar dikenalnya.

Seperti fobia lainnya (agoraphobia: merasa ketakutan berada di tempat umum, claustrophobia: ketakutan yang berlebihan saat berada di ruangan tertutup, zoophobia: takut pada binatang, brontophobia: takut pada halilintar, dsb), fobia sosial adalah reaksi ketakutan yang irasional terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya. Namun, tubuh dan pikirannya bereaksi seolah- olah bahaya itu nyata dihadapi, sehingga terjadi pula mekanisme biologis untuk menghindar dari rasa takut itu. Bentuk mekanisme itu termanifestasi dalam reaksi gugup, ketidakmampuan dan penarikan diri dari interaksi sosial, yang sering terlihat dari perilaku menghindar dari segala situasi yang bersifat sosial (kehadiran banyak orang). Mereka juga cenderung merasa malu dan tidak nyaman (keki) saat merasa diperhatikan atau mengira sedang dinilai orang lain. Mereka sangat peka terhadap rasa takut dan akan menjadi malu, tampak bodoh, terutama saat mereka merasa telah melakukan kesalahan, atau saat dikritik atau ditertawakan. Temuan riset di lapangan psikologi mencatat bahwa tidak sedikit gangguan fobia sosial yang dimulai ketika seseorang masih muda.

Menurut Lyness (2007), setidaknya terdapat kombinasi dari tiga faktor, yakni pertama, perilaku belajar dari model-model peran (terutama orangtua) yang berpengaruh dalam membentuk temperamen seseorang yang cenderung phobic. Kedua, pembiasaan perilaku malu (terutama dilakukan orangtua) sebagai ungkapan/ekspresi kesantunan, yang biasanya berkembang menjadi kecenderungan lebih suka menghindari interaksi sosial; serta ketiga, peristiwa dan pengalaman hidup yang berekses pada rasa malu untuk muncul di depan publik. Riset-riset yang lain juga menunjukkan bahwa pengalaman stres, dikritik, dipojokkan, dan distigma negatif terus-menerus, bisa menyebabkan
individu menjadi sangat hati-hati, sensitif terhadap penilaian orang lain, ragu, dan mungkin menjadi malu untuk melangkah, sehingga secara bertahap berakumulasi pada “bertumbuhkembangnya” kecemasan sosial sebagai ‘mental software’ yang bisa memicu dan memacu terjadinya gangguan fobia sosial.

Namun demikian, fobia sosial tak perlu dimitoskan sebagai gangguan sepanjang hidup, asalkan ada upaya yang intensif untuk mengatasinya dari pihak penderita yang ditunjang kepedulian lingkungan (terutama keluarga) untuk memberikan dukungan sosial secara berkelanjutan. Beberapa langkah praktis untuk mengatasi fobia sosial yang bisa dilakukan orang yang merasa mengalaminya, antara lain: (1) Menyadari bahwa gangguan tersebut bukan “karakter” yang tidak bisa diubah. Itu hanyalah situasi, yang memang harus diatasi.(2) Membangun tekad untuk mengatasinya dengan dimulai dari belajar untuk lebih berani mengelola rasa takut (terutama) saat memasuki situasi kehadiran banyak orang. Syarat konkretnya, ambillah keputusan untuk berhenti menghindari hal-hal atau situasi-situasi sosial yang selama ini “dibiasakan” dan “dibiarkan” menyebabkan kecemasan dan ketakutan yang berkepanjangan itu. (3) Bangunlah kepercayaan diri untuk mampu bersosialisasi dalam situasi-situasi sosial, salah satunya dengan meningkatkan keterampilan sosial (social skills), misalnya belajar cara berkomunikasi yang lebih baik, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial, meningkatkan kompetensi di bidang-bidang yang diminati dan memiliki nilai di mata sosial (berorganisasi, olahraga, koor, dsb).

Upaya itu harus dimulai sejak saat ini, jangan ditunda-tunda lagi. Ini memang tidak selalu mudah karena perlu melakukan langkah personal yang radikal, yakni berani keluar dari “cangkang kenyamanan diri” yang sebenarnya merupakan mekanisme pelestarian perasaan “mengasihi diri” yang tidak realistis. Sebaiknya mulai disadari bahwa kekurangmampuan terjun dalam situasi-situasi sosial bukanlah “nasib” yang sudah dipatok dari “sono”-nya. Bila toh tetap ada perasaan bahwa fobia sosial adalah jatah “nasib”, akan lebih operasional bila cara memaknai “nasib” perlu diubah. Sebagaimana dikatakan oleh WJ. Brian, seorang advisor multi bidang, “Nasib bukan soal peluang, melainkan pilihan. Nasib bukan sesuatu yang harus ditunggu, tetapi harus diupayakan untuk diraih”. Bila di tataran personal dirasa belum cukup mampu dilakukan, keluarga, saudara atau teman-teman dekat bisa berperan memberi dukungan langsung untuk berani keluar dari zona kenyamanan mereka dan mencoba sesuatu yang baru. Bila semua langkah itu sudah ditempuh, namun belum juga bisa membantu upaya pengatasan/penanganan gangguan tersebut secara optimal, maka melibatkan pihak profesional, seperti konselor atau psikolog-terapis adalah langkah lebih lanjut yang perlu ditempuh. Apabila yang mengalami gangguan ini masih tergolong anak-anak dan remaja (usia 6 – 17 tahun), maka sejak awal upaya proaktif harus dilakukan terutama oleh pihak keluarga dengan melibatkan peran pihak eksternal, baik pihak sekolah maupun pihak profesional.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 40 Tanggal 3 Oktober 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*