Artikel Terbaru

Anak vs Orangtua

[NN]
Anak vs Orangtua
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa minggu lalu, salah seorang sahabat menyatakan kesedihannya. Anak sulung lelaki yang ia damba-dambakan untuk meneruskan pengelolaan perusahaan keluarga dan sebelumnya bersedia kuliah di Fakultas Ekonomi, ternyata justru ingin mempelajari arsitektur karena ingin menjadi arsitek. Sahabat saya kecewa sekali. Ia bahkan sempat mengancam anaknya. Jika si anak tetap bertekad meneruskan studinya di Jurusan Arsitektur, maka ia sebagai orangtua tidak akan membiayai studi. Sang anak tidak kalah garang. Ia menantang sang ayah dan yakin dapat hidup mandiri tanpa bantuan orangtua karena ia dapat bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri.

Perbedaan pandangan, pendapat, harapan, keinginan maupun cita-cita antara orangtua dan anak merupakan konflik yang biasa didengar dari berbagai keluarga, baik masalah yang sepele maupun masalah pokok-mendasar. Sering ditemui perbedaan keinginan anak dengan orangtua dalam memilih tempat maupun jurusan studi. Perbedaan pandangan antara orangtua dengan anak tentang calon pasangan hidup juga bukan masalah yang jarang terjadi. Perbedaan antara anak dengan orangtua dapat bergulir ke perselisihan, pertentangan, bahkan permusuhan. Adakalanya diakhiri dengan “minggat”-nya sang anak. Sebenarnya, perbedaan keinginan antara orangtua dan anak adalah hal yang biasa. Namun, apabila sampai terjadi konflik berkepanjangan, bahkan sampai terjadi putusnya hubungan orangtua dan anak, maka hal itu perlu dipertanyakan. Anak dalam hal ini bertindak sebagai pelaku yang kalah dan orangtua sebagai pelaku yang salah. Mestinya hal-hal tersebut tidak perlu terjadi apabila kedua belah pihak dapat berdialog dengan kepala dingin serta hati yang terbuka.

Tugas
Kesadaran akan tugas dan fungsi orangtua adalah sesuatu yang amat penting. Ketika anak masih balita atau masih duduk di Sekolah Dasar, sudah sepantasnyalah orangtua turut campur tangan, bahkan wajib turut campur dalam kehidupan anak. Pada fase anak masih berstatus “bocah”, orangtua bertugas sebagai pengasuh yang memberikan hal yang terbaik dalam konsumsi fisik (makanan yang sehat bergizi) dan konsumsi psikologis (memberikan perhatian, didikan dengan kasih sayang) sehingga anak tumbuh sebagai anak yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis. Sejalan dengan pertambahan usia dan kedewasaan anak, semakin lama peran orangtua semakin tipis. Mereka bertindak sebagai pembimbing, pendamping atau pengarah pada masa remaja. Dan akhirnya, ketika mereka telah menikah serta meninggalkan rumah dan hidup bersama pasangan hidupnya, maka fungsi orangtua adalah sebagai pengamat dan penasihat.

Anak hidup bersama dan bergantung pada orangtua pada umumnya dapat dinyatakan tidak lebih dari setengah perjalanan hidupnya. Jika anak mulai menikah pada usia 25 tahun dan orang dapat hidup hingga mencapai usia 65-70 tahun, maka berarti 40–45 tahun dari kehidupannya mesti ia jalani secara mandiri tanpa bergantung pada orangtua. Sudah sepantasnya orangtua memanfaatkan 25 tahun masa pranikah tersebut dengan sebaik-baiknya, mempersiapkan anak agar dapat hidup dengan baik. Masa pranikah adalah masa di mana orangtua mempersiapkan dan melatih anak untuk “mengepakkan sayap” agar dapat terbang secara mandiri. Orangtua mempersiapkan agar anak bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya, sehingga anak belajar mandiri.

Unik
Perlu disadari bahwa setiap anak/individu itu unik. Meskipun orangtua memperlakukan anak yang satu dan yang lain dengan cara pengasuhan yang relatif sama, namun hasilnya mungkin berbeda. Hasil pengasuhan merupakan interaksi antara potensi-potensi yang ada pada diri anak dengan cara pengasuhan orangtua. Seperti apa pun anaknya nanti, sudah seharusnya orangtua menerima keberadaan sang anak sebagaimana adanya.

Pada waktu anak menyelesaikan studi di tingkat Sekolah Menengah Atas, umumnya mereka sudah berusia lebih dari 17 tahun. Pada tahap ini umumnya mereka sudah merasa dan ingin dianggap dewasa, sudah berhak menentukan apa yang ingin dan hendak dilakukannya. Anak memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri dengan memilih profesi apa kelak yang hendak dijalaninya, meskipun orangtua juga memiliki hak untuk menyampaikan keinginan atau harapannya. Dialog antara keinginan anak dan harapan orangtua itulah yang amat penting pada tahap ini. Orangtua yang memiliki wawasan yang lebih luas daripada anak mungkin dapat memberikan gambaran tentang profesi yang hendak dipilih sang anak. Anak memiliki argumentasi mengapa ia memilih jurusan tersebut, dan dapat menggambarkan profesi yang hendak digelutinya. Orangtua sudah semestinya memberi kesempatan kepada anak dan memfasilitasinya untuk berkembang sesuai dengan rencana Allah.

Perlu pula disadari bersama bahwa suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan penuh minat dapat diperkirakan akan membuahkan hasil lebih baik daripada mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak diminati atau bahkan ditolak. Perlu dimengerti bahwa pemaksaan akan membuahkan hasil yang tidak baik. Anak sebagai pihak yang dipaksa untuk belajar pada disiplin ilmu tertentu menjadi tidak senang dengan disiplin ilmu yang dipaksakan tersebut atau tidak simpati terhadap orangtua yang melakukan pemaksaan. Maka, pemaksaan akan membuahkan hasil yang merugikan relasi antara dua pihak. Efek selanjutnya dapat terwujud dalam hasil studi yang rendah karena usaha studi yang minim dan asal-asalan, hanya untuk memenuhi keinginan orangtua belaka.

Solusi
Kembali kepada kesedihan sahabat di atas. Tampaknya kurang tepat apabila orangtua tidak bersedia membiayai studi anaknya, karena orangtua memiliki kewajiban untuk membimbing-mendampingi-mendorong serta membiayai kebutuhan-kebutuhan anak sebelum anak mandiri.

Dapat dimengerti bahwa orangtua yang telah sukses membangun dan mengelola perusahaan tentu memiliki keinginan agar apa yang telah dirintisnya dapat langgeng dan berjalan terus dengan baik, bahkan dapat berkembang lebih besar. Orangtua berpikir bahwa anak akan lebih memajukan perusahaan karena memiliki titik awal usaha yang jauh lebih tinggi daripada ketika orangtua mengawali perusahaannya.

Namun pada sisi lain, orangtua tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada anak, bahkan menguasai-mengendalikan sesuai dengan kemauannya. Anak memiliki kebebasan untuk memilih ilmu maupun pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya serta memberikan kerelaannya di mana mereka bersedia untuk mengabdikan hidupnya.

Apabila diperkenankan “memutar waktu ke belakang”, jika orangtua sejak awal menginginkan sesuatu pada anaknya seharusnya sudah ditanamkan dan diprogram pada anak agar anak meneruskan usaha yang telah dirintis ayahnya. Orangtua sebagai orang yang paling dekat dengan anak, seharusnya memahami karakter dan potensi yang dimiliki anaknya. Sejak anak masih kecil, orangtua dapat memberikan penjelasan dan memotivasi si anak agar sesuai dengan kehendak orangtua. Dapat pula dikatakan bahwa orangtua pasti mengharapkan dan memberikan yang terbaik kepada anaknya. Tampak dalam kasus di atas bahwa orangtua terlambat menyampaikan kehendaknya kepada anak, dan sang anak terlanjur memiliki cita-cita yang amat sangat kuat untuk diraihnya.

Siapapun tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi di saat nanti. Sang anak yang ingin menjadi arsitek, siapa tahu akan menjadi arsitek yang sangat handal dan di situlah talentanya. Pepatah mengatakan, “Pohon dikenal dari buahnya”, demikian pula orangtua akan dikenal melalui perilaku dan prestasi anaknya. Dengan suksesnya anak, maka orangtua akan merasakan imbasnya dan merasa bahagia terhadap apa yang dicapai sang anak.

Orangtua dapat pula meminta kepada anak berikutnya untuk memenuhi keinginan mereka. Pengalaman terhadap anak sulung bisa menjadi pelajaran bagi orangtua, sehingga mereka bisa mulai mempersiapkan anak kedua maupun anak ketiga untuk “program” orangtua. Dengan jalan ini maka semua pihak akan merasa senang. Sang anak dapat meniti langkah menuju cita-citanya, dan sang ayah bisa mulai mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya yang harus ia tempuh.

Y. Bagus Wismanto

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 37 Tanggal 12 September 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*