Artikel Terbaru

Berjumpa Tuhan di Tempat Kerja

Romo Andang L. Binawan SJ memimpin Misa Jumper di Menara Mandiri SCBD.
[HIDUP/Marchella A. Vieba]

HIDUPKATOLIK.comAda orang yang tak mau melewatkan Misa Jumper karena kebiasaan masa kecil atau kebutuhan untuk berdoa. Misa Jumper pun bisa jadi waktu untuk berbagi keluh kesah.

Pada 2002, Maria Michela Tere Koban mulai berkantor di Mayapada Tower. Ia bergabung sebagai tenaga administrasi di sebuah kantor notaris yang berada di gedung itu. Di situ ada komunitas ekumene. Setiap Jumat pertama dalam bulan ada Misa Jumat Pertama (Jumper). Sementara pada Jumat yang lain ada doa ekumene. Keduanya biasa diadakan antara pukul 12.00-13.00, memakai masa rehat makan siang kantor. Maria pun ikut bergabung. Tiap Jumat pertama dalam bulan, ia menyediakan waktu untuk ikut Misa. “Sejak 2002 saya tidak pernah alpa. Saat awal saya bergabung belum banyak yang ikut Misa Jumper seperti sekarang,” ujar perempuan kelahiran Flores, 2 Oktober 1972 ini.

Tak ada ujub khusus yang dipersembahkan Maria tiap kali menghadiri Misa Jumper. Maria ikut Misa Jumper hanya untuk mengucap syukur atas rahmat Tuhan yang sudah ia terima dalam hidup. “Ya sesekali kalau ada saudara yang sakit atau ulang tahun saya bawa dalam doa. Tapi yang paling penting bagi saya adalah bersyukur,” imbuh Maria. Selebihnya menambah pertemanan dengan sebanyak mungkin orang adalah salah satu target Maria. Itu ia niatkan sejak awal berkantor di Mayapada Tower dengan ikut bergabung menjadi anggota kor.

Bagi Maria, tak ada target khusus ketika memanjatkan ujub di Misa Jumper. Terkabul atau tidak bukan urusannya. Doa yang ia panjatkan dan harapan yang ia lambungkan terjawab ketika ia merasa gembira dalam menjalani hari-harinya. Maria mengakui bahwa sumber kegembiraan adalah Ekaristi. Apalagi hidup di tengah kota besar seperti Jakarta, ia butuh perlindungan dan penyertaan Tuhan. Ia juga merasa bahwa semua itu bisa ia dapat ketika ia mau berkanjang dalam Ekaristi. “Daripada jam istirahat dipakai untuk nongkrong tak jelas, mending ikut Misa,” ujar Maria.

Pengalaman yang sama juga dikisahkan Arii Bowo Yudhaprasetya. Sejak 2015, ia bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kawasan perkantoran Arkadia, Jakarta Selatan. Suatu hari, saat sedang bekerja ia diajak mengikuti Misa Jumper oleh seorang temannya. Ia berpikir, daripada sibuk bekerja apa salahnya meluangkan waktu untuk berdoa. Saat mengikuti Misa Jumper, ia merasakan keakraban yang tercipta di antara mereka. “Sebagai karyawan muda, saya merasakan benar bahwa Misa Jumper mempersatukan kami dari berbagai perusahaan yang ada di kompleks Arkadia,” ujar pria yang disapa Arii ini.

Arii mengaku sudah kadung mencintai Misa Jumper. Sehingga kalau tak sempat menghadiri, ada sesuatu yang kurang. Itu karena Arii menganggap rekan-rekannya di Misa Jumper sebagai saudara yang mau berbagi keluh kesah dalam pekerjaan. “Ketika mengikuti Misa Jumper, rasanya tenang karena beban pekerjaan saya pasrahkan kepada Tuhan,” katanya. Bagi Arii, Misa Jumper tak sekadar ajang kumpul, tetapi sarana untuk mengungkapkan iman.

Sejak Kecil
Dorongan dalam hati untuk setia menghadiri Misa Jumper bisa datang dari kebiasaan masa lalu. Inilah yang diutarakan Fransisca Marlina K. Sejak kecil, Fransisca biasa mengikuti Misa Jumper. Setelah dewasa, karena harus bekerja, ia sulit sekali ikut Misa Jumper di gereja. Kalaupun harus dipaksakan di sore hari, terkadang bisa lewat karena terjebak macet saat pulang kantor. Apalagi tempat kerjanya di Senayan, sementara gereja tempat ia biasa mengikuti Misa Jumper ada di Cinere, Jakarta Selatan. Jadilah ia kerap memendam rindu mengikuti Misa Jumper.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*