Artikel Terbaru

Kardinal Ernest Simoni: Martir Hidup Albania

Kardinal Ernest Simoni
[Le Dauphiné Libéré]
Kardinal Ernest Simoni: Martir Hidup Albania
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPaus Fransiskus menangis mendengar kesaksiannya. Selama dua dekade, imam asal Albania ini menjalani kerja paksa dan nyaris dihukum mati. Ia dilantik sebagai Kardinal dua pekan lalu.

Pastor Ernest Simoni sempat membuat Paus Fransiskus menangis. Momen sentimentil itu terjadi ketika Paus mendengar pengalaman Pastor Simoni selama rezim komunis berkuasa di Albania (1944-1990). Pastor Simoni mengenang kejadian sekitar 70 tahun lalu, saat Paus mengikuti Ibadat Sore di Katedral St Paulus Tirana, Albania, Sabtu, 21 September 2014.

Begitu Pastor Simoni selesai bercerita, Paus Fransiskus mendatangi dia. Mereka berdiri, saling berhadapan dan berpegangan tangan, menempelkan dahi, mengatupkan mata, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Paus Fransiskus tak mampu menyembunyikan kesedihan. Paus asal Argentina itu terlihat mengusap wajah dan menyeka air matanya. “Hari ini saya tersentuh oleh (kesaksian-Red) para martir,” ungkap Paus. Selain Pastor Simoni ada juga biarawati yang membagikan kisah serupa.

Saat konsistori, Sabtu, 19/11, Paus Fransiskus mengumumkan nama 17 Kardinal baru. Satu-satunya Kardinal bukan Uskup, yang dilantik Bapa Suci adalah Pastor Simoni. Imam Keuskupan Agung Shkodrë-Pult, Albania ini mendapat gelar Kardinal-Diakon Santa Maria della Scala.

Tak Tergiur
Puncak kebiadaban rezim komunis di negeri berjuluk Land of Eagles terjadi pada 1948. Saat itu negara di bawah kendali Perdana Menteri Enver Halil Hoxha, yang berhaluan kiri. Pada zaman Hoxha, Albania mendeklarasikan diri sebagai satu-satunya negara ateis dalam undang-undang dasar pada 1967.

Pengakuan itu menebar teror bagi seluruh umat beragama. Para uskup, imam, biarawan, biarawati, serta umat yang menolak untuk mengingkari iman ditangkap, disiksa, dan dibunuh. Banyak gereja dan biara yang diratatanahkan atau beralih fungsi menjadi gudang, penjara, bioskop, dan tempat hiburan lain.

Situs www.telegraph.co.uk melansir, selama empat dekade Hoxha berkuasa, paling sedikit 40 uskup, imam, dan seminaris yang merenggang nyawa. Lebih dari 1800 gereja Katolik dan Ortodoks tak lagi berfungsi, entah karena dihancurkan atau “disulap” menjadi tempat penjagalan dan pelepas nafsu syahwat.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*