Artikel Terbaru

Nursyda Syam: Merawat Indonesia Lewat Membaca

Nursyda Syam bersama anak-anak di Sekolah Alam Anak Negeri.
[NN/Dok.Pribadi]
Nursyda Syam: Merawat Indonesia Lewat Membaca
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa diusir karena hanya menumpang baca di sebuah toko buku dan tak punya cukup uang untuk membeli buku. Momen itu menjadi dorongan baginya untuk mendirikan klub baca dan sekolah alam.

Di Dusun Prawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara terdapat Sekolah Alam Anak Negeri. Sekolah ini merupakan langkah lanjut dari Kelompok Baca Perempuan (KBP) yang dirintis Nursyda Syam. KBP saat ini tersebar di 24 titik di daratan Lombok, sedang sekolah alam tersebar di beberapa dusun.

Karya Ida, sapaannya, mendapat apresiasi dari masyarakat dan pemerintah. Beberapa penghargaan ia raih. Yang terbaru adalah anugerah Frans Seda Award 2016. “Saya bersyukur mendapatkan anugerah ini,” ungkapnya. Bagi ibu dua anak ini, Frans Seda Award menjadi suntikan nutrisi untuk lebih giat membangun budaya membaca di Indonesia. Frans Seda Award merupakan penghargaan bagi insan muda Indonesia di bidang pendidikan dan kemanusiaan. Panitia Frans Seda Award menilai, Ida adalah teladan bagi Indonesia, khususnya di bidang pendidikan literasi.

Inspirasi Ayah
Sudah sepekan, Ida membaca buku “Indonesia Tanpa Pagar” karya Adriani Sumampouw Sumantri dan Darmanto Jatman. Untuk membaca buku itu, Ida harus bolak-balik berjalan kaki dari kosnya di Jalan Kaliurang Yogyakarta menuju toko buku langganannya. Hari itu, ia mendekati bagian akhir buku itu. Sedang asyik membaca, tetiba ia dihardik seorang penjaga toko buku. Rupanya sang penjaga sudah mengamati kebiasaan Ida yang numpang baca tanpa membeli.

Sang penjaga mengajukan pilihan; membeli buku tersebut atau keluar dari toko. Ida yang tak punya cukup uang akhirnya beranjak pergi sambil menahan malu. “Itu membekas hingga hari ini,” kenangnya. Momen itu, lanjutnya, juga mendorong mimpinya untuk mendirikan klub baca di mana setiap orang gratis membaca.

Sejak kecil, Ida memang gemar membaca. Mendiang ayahnya sering membelikan buku bacaan untuk anak-anaknya. Profesi sang ayah sebagai wartawan media lokal menjadi ihwal Ida gemar membaca. “Banyak buku dongeng dan biografi, seperti Mahatma Gandhi dan Benazir Bhutto, Perdana Menteri Pakistan.”

Kegemaran membaca diakui Ida membantunya untuk menempuh jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. “Saya menembus Fisipol UGM tanpa tes melalui Program Penelusuran Minat dan Kemampuan.”

Usai menempuh pendidikan di Kota Gudeg, Ida kembali ke kampung halaman di Dusun Prawira. Pada 2006, ia bersama suaminya, Lalu Badrul Islam, mendirikan KBP. Semangat Ida semakin menggebu ketika empat ibu rumah tangga yang memiliki ide serupa dengan Ida mendukung pendirian KBP. “Tiga diantaranya alumni Yogyakarta, satu Malang. Inilah yang membuat kami menamakan KBP,” ungkap Ida.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*