Artikel Terbaru

Pengalaman Buruk dengan Laki-laki

[NN]
Pengalaman Buruk dengan Laki-laki
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaat lahir, saya sudah ditolak oleh ibu kandung saya sendiri. Saya dikandung ibu tanpa kejelasan siapa ayah saya. Begitu lahir, saya dititipkan di rumah yatim piatu (di kota B) hingga usia 15 tahun (saat lulus SMP).

Setelah itu, saya menumpang hidup di rumah orangtua asuh yang sangat kaya, namun tidak punya anak kandung. Saya disekolahkan di SMEA hingga selesai. Ibu asuh sangat menyayangi saya, tapi suaminya (bapak asuh saya) berperilaku kurang terpuji. Beberapa kali dia melakukan pelecehan seksual terhadap saya, meski tidak sampai merenggut kesucian saya. Kejadian itu membuat saya benci pada kaum laki-laki.

Setelah lulus, saya ditolong oleh ibu guru akuntansi, sehingga mendapat pekerjaan di sebuah biro iklan yang cukup terkenal. Setelah lolos masa percobaan (tiga bulan), saya pamit dari keluarga yang mengasuh saya itu, dan hidup mandiri di kos. Bapak asuh saya pernah menghubungi saya dan menawarkan bantuan keuangan bulanan, namun saya menolak. Saya merasa ada niat yang kurang baik di balik tawaran bapak asuh itu.

Dengan gaji bulanan, saya bisa mencukupi kebutuhan hidup. Genap lima tahun bekerja di biro iklan itu, saya mengundurkan diri karena ada problem sangat berat yang sempat mempurukkan hidup saya di titik terbawah. Saat itu, saya menjalin hubungan khusus dengan atasan saya, dan suatu malam saat tugas lembur bersama, dia merenggut kesucian saya. Saya sangat sedih mengingat kejadian itu. Mengapa saya bisa lepas kontrol terhadapnya? Sebulan setelah kejadian itu, dia mengundurkan diri dari kantor, tanpa memberitahu saya. Saya sangat terpukul dengan bertubinya kejadian yang memperosokkan saya pada posisi tak berharga. Habis manis sepah dibuang. (Maaf, karena pertimbangan etis, tanpa mengurangi substansinya beberapa kalimat terpaksa tidak saya cantumkan di sini, Penulis).

Setelah saya bisa bangkit kembali dan dua kali pindah kerja dari biro iklan, saat ini saya bekerja di lembaga kursus bahasa asing, dengan gaji yang lumayan sehingga saya masih bisa menabung tiap bulan. Saat ini, ada seorang pria peserta kursus yang menaruh hati pada saya. Dia pernah mengungkapkan perasaannya pada saya. Dia mengajak saya ‘jalan bareng’ (pacaran). Secara pribadi, saya sebenarnya juga merasakan adanya rasa…entahlah apa namanya. Saya merasa tenteram dan hati berbunga saat bertemu dengannya. Kalau sehari tidak ketemu, sms atau telpon, rasanya seperti ada yang kurang di hati saya. Tetapi, saya juga sering ragu sendiri. Saya belum memberikan tanggapan apa pun kepadanya. Ada pikiran yang kerap mengusik dalam diri saya, jangan-jangan dia seperti juga bapak asuh dan bekas atasan saya, yang ujung-ujungnya hanya butuh pemuasan nafsu biologis. Saya juga khawatir bagaimana sikapnya nanti kalau tahu saya sudah kehilangan kesucian.

Saat ini, saya tengah menghadapi dilema antara keinginan menanggapi (menerima) pernyataan perasaan pria itu atau menolaknya. Kalau menolak, rasanya saya juga tidak bisa. Saya sangat menyayanginya. Apakah ini karena saya mengalami trauma terhadap kaum laki-laki? Apa yang bisa saya lakukan dalam menghadapi problem ini? Terima kasih banyak.

Sdri SR di kota S

Apakah Anda mengalami trauma terhadap kaum laki-laki? Untuk menjawab hal ini tidak sederhana. Yang disebut “trauma” dalam arti psikologis, kadang bisa berbeda makna antara yang sesungguhnya dialami dan kemudian diyakini oleh seseorang dengan yang dilabelkan oleh orang lain berdasarkan indikasi-indikasi tertentu.

Bila trauma sungguh dialami seseorang, biasanya orang yang bersangkutan mengalami perasaan terluka secara batin (mendalam), hingga berefek pada kelumpuhan (ketidakberdayaan) sejak di level perasaan, pikiran, hingga tindakan. Suatu kejadian, pengalaman atau objek tertentu yang tidak mengenakkan/menyakitkan bisa berakumulasi menjadi trauma atau sebatas pengalaman buruk, sangat tergantung dari bagaimana orang yang bersangkutan memahami, menghayati, dan memaknainya.

Bila hal-hal itu dipahami, dihayati, dan dimaknai sebagai tragedi yang tak kuasa dihadapi, lalu ditolak dari kesadaran dan secara refleks diserap di lapisan bawah sadar, maka tergenapilah itu sebagai trauma. Orang yang traumatis, seringkali secara tidak sadar cenderung melampiaskan traumanya dalam berbagai bentuk perilaku yang lepas kontrol (verbal, non-verbal). Misalnya, sikap sinis, sarkastis, over-kritik ataupun sebaliknya pasif, tak peduli pada siapa dan apa pun.

Namun, bila hal-hal yang tidak mengenakkan/menyakitkan itu dipahami, dihayati, dan kemudian dimaknai sebagai bagian dari realitas pembelajaran dalam rute kehidupan ini, maka hal-hal tersebut semata merupakan pengalaman buruk yang ke depannya harus diwaspadai agar kehidupan menjadi lebih baik. Orang yang sebatas merasa mengalami pengalaman buruk, masih bisa membawakan diri dan berperilaku secara wajar di berbagai situasi.

Dari surat Anda, terbaca bahwa Anda dengan serentetan pengalaman menyakitkan, masih tetap memiliki dan menghayati adanya perasaan sayang (istilah banyak orang: cinta) pada pria yang terakhir mendekati dan sudah mengungkapkan “perasaan khusus”-nya. Yang membebani Anda saat ini adalah tebaran keraguan untuk menanggapi “ya” terhadap ungkapan perasaan pria tersebut.

Hal ini karena setidaknya ada dua hal yang Anda waspadai. Pertama, perkiraan jangan-jangan pria itu juga memiliki perangai yang sama dengan dua laki-laki yang pernah menyakiti dan mempurukkan hidup Anda di masa lalu (secara lugas dan spesifik Anda menyebut: jangan-jangan… ujung-ujungnya kaum laki-laki hanya butuh pemuasan nafsu biologis). Kedua, Anda merasa khawatir bagaimana sikap pria itu nantinya kalau tahu bahwa Anda sudah kehilangan kesucian.

Dua hal yang membuat Anda dilematis ini adalah bentuk kewaspadaan yang tetap berpijak pada pertimbangan objektif yang identifikasinya jelas, setidaknya dilihat dari sudut pandang Anda secara pribadi. Bila saya simpulkan, syukurlah Anda belum mengalami apa yang disebut “trauma terhadap kaum laki-laki” sebagaimana Anda pertanyakan. Anda hanya pernah mengalami pengalaman buruk dengan laki-laki.

Hal lain yang menandai bahwa Anda tidak terjebak dalam kubangan trauma adalah seluruh tulisan dalam surat yang Anda kirimkan (termasuk yang tidak saya cantumkan karena pertimbangan etis untuk memproteksi wilayah privacy Anda) tidak terlihat adanya “lumuran” kata, istilah, maupun ungkapan yang bernuansa dendam dan kemarahan tak terkendali. Semua wajar-wajar saja dan tertata oleh alur pikiran dari kepala dingin.

Menghadapi problem (atau dilema) tersebut, saya yakin, Anda tetap bisa menjaga sikap tenang yang digenapi dengan kewaspadaan yang telah teruji terutama sejak Anda diperlakukan dengan sangat buruk oleh mantan atasan Anda. Pengalaman dan pembelajaran Anda saat mampu bangkit kembali, dan tegar meneruskan kehidupan itulah kiranya yang bisa makin Anda perkuat untuk mengambil langkah di saat ini. Mungkin benar, sebaiknya jangan terlalu cepat menanggapi “ya” terhadap ungkapan perasaan pria tersebut. Berdialog intensif dengannya, sejenak mengalihkan topik utama, sekaligus untuk menjajaki seberapa dalam sikap dan apresiasi pria tersebut terhadap diri Anda dengan segala yang melekat, mengada, dan merentang sepanjang sejarah perjalanan hidup Anda hingga saat ini…. Semua itu sangat penting Anda ketahui. Dari situlah nanti Anda akan bisa menanggapinya dengan “Ya” atau “Tidak”. Andaikan harus terjadi jawaban “Tidak”, Anda tentu tetap akan tegar meneruskan perjalanan hidup, mengarungi, dan mencecap pelajaran-pelajaran lain yang masih disediakan oleh semesta kehidupan.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 41 Tanggal 10 Oktober 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*