Artikel Terbaru

St Auguste Chapdelaine PIME (1814-1856): Martir Tiongkok, Patron “Panggilan Terlambat”

St Auguste Chapdelaine PIME
[www.soul-candy.info]
St Auguste Chapdelaine PIME (1814-1856): Martir Tiongkok, Patron “Panggilan Terlambat”
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKanonisasinya bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Republik Rakyat Tiongkok. Martir di negeri “Tirai Bambu” ini dicap bandit, penjahat asusila, dan mata-mata asing.

Perbedaan usia para peserta didik yang paling mencolok bisa ditemukan di perguruan tinggi. Sementara di sekolah menengah, meski ada kejadian serupa, tapi interval usia antarsiswa tidak terpaut jauh, semisal satu sampai tiga tahun. Kejadian di Seminari Menengah Mortain, Perancis, pada 1 Oktober 1834 merupakan sebuah kekecualian.

Sepanjang sejarah, Seminari Mortain baru kali itu menerima siswa berusia 20 tahun. Kontras dengan usia rata-rata seminaris di sana yang berkisar 12-13 tahun. Seminaris itu adalah Auguste Chapdelaine. Para seminaris memanggil Auguste “Papa Chapdelaine”, saking mencolok terpautnya usia yang jauh lebih tua dengan siswa lain.

Auguste tertunda masuk sekolah menegah pertama karena orangtua. Sebetulnya, Nicolas Chapdelaine dan Madeleine Dodeman tak mau Auguste masuk seminari, apalagi jadi imam. Mereka beranggapan, dengan fisik kuat yang dimilikinya, bungsu dari sembilan bersaudara itu lebih cocok mengangkat cangkul di sawah ketimbang berkutat dengan buku pelajaran dan berkanjang dalam olah kerohanian.

Panggilan Terlambat
Setelah tujuh tahun mengolah pertanian, Nicolas dan Madeleine akhirnya merestui Auguste masuk seminari. Bukan didasari keikhlasan tetapi karena kedua anak mereka yang lain meninggal mendadak. Mereka mengira, Tuhan marah karena mereka telah melarang Auguste masuk seminari dan menjadi imam. Sewaktu masih berada di sekolah dasar, Auguste terkenal sebagai siswa cerdas. Berbeda ketika ia berada di seminari. Ia perlu banyak beradaptasi dengan lingkungan dan belajar ekstra tekun. Maklum, ia sudah terlalu lama tak berkarib lagi dengan buku dan budaya sekolahan. Kemampuan akademiknya seolah terkikis oleh urusan sawah dan ladang.

Syukur Auguste akhirnya lulus juga. Langkah selanjutnya, lelaki kelahiran La Métairie, La Rochelle-Normande, Perancis, 6 Januari 1814 ini melamar sebagai calon imam Diosesan Coutances (kini Keuskupan Coutances-Avranches). Pada 5 Juni 1841, Auguste menerima tonsura. Ia ditahbiskan sebagai diakon pada 17 Desember 1842 dan menjadi imam pada 10 Juni 1843.

Sebagai imam baru, Auguste melayani Paroki Boucey. Dahulu ia berharap, begitu menerima Sakramen Imamat, ia langsung bisa menjadi misionaris perintis. Harapan itu sempat ia utarakan kepada saudaranya. “Saya ditahbiskan bukan untuk menjadi seorang imam di tempat yang sudah mengenal Kristus, tetapi untuk mereka yang belum mengenal-Nya,”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*