Artikel Terbaru

Menanggapi Ketegangan yang Meningkat

Menanggapi Ketegangan yang Meningkat
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dalam waktu kurang dari seminggu kita dibikin kaget dua kali; ada serangan bom ke Gereja Oikumene di Samarinda dan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta dinyatakan tersangka kasus penodaan agama. Tak berguna berspekulasi tentang bagaimana Bareskrim Polri sampai pada kesimpulannya. Jelas, mereka bekerja di bawah tekanan luar biasa. Umpamanya, mereka menyatakan Ahok “tidak ada apa-apa”, bisa saja ada reaksi luas di Indonesia. Jelas juga, kalau masih akan ada unjuk rasa terkait Ahok, unjuk rasa itu kehilangan segala martabatnya. Penetapan Bareskrim memperlihatkan bahwa Presiden terbukti tak mencampuri proses penyelidikan Ahok.

Kasus Ahok tak boleh dientengkan. Kita harus melihatnya dari kacamata mereka yang menyatakan tersinggung. Bisa saja–ini pendapat penulis– bahwa yang dipersalahkan pada Ahok secara formal bukan penghinaan Kitab Suci suatu agama. Tetapi coba bayangkan umpamanya seorang tokoh Islam mengatakan: “Injil dipakai untuk membohongi orang Kristen”. Apa kita tidak akan merasa tersinggung juga?

Dan Pak Ahok, maaf, bukankah Anda sudah sekian kali dinasihati untuk tidak banyak omong, kok mesti omong Kitab Suci orang lain? Dari orang dalam posisi Anda dituntut kemampuan untuk tahu diri. Mestinya Anda tahu bahwa tentang Kitab Suci agama lain, Anda sebagai orang Kristen, keturunan lagi, ya harus tutup mulut. Ada semacam “Hukum Dasar Besi Toleransi” (HIDUP edisi 35, 28 Agustus 2016), yaitu suatu minoritas hanya akan aman kalau tidak menyinggung perasaan mayoritas dalam hal yang peka. Kalau tidak diperhatikan, kita akan kena getahnya.

Dua hari sesudah seorang teroris menyerang Gereja Oikumene di Samarinda, Intan Olivia, salah satu korban yang berumur 2,5 tahun meninggal dunia. Yang sangat mengagumkan dan mengharukan, orangtua Intan memaafkan pembunuh. Betapa indah dan betapa menyembuhkan bagi bangsa kita, kalau kita menyaksikan sikap mengikuti Tuhan Yesus seperti itu! Tentu, proses hukum terhadap si pembunuh akan dan harus dilakukan, tapi betapa bagusnya kalau kita tidak mengizinkan hati dipahitkan oleh kebencian dan rasa terluka.

Dalam kaitan ini ada yang sangat penting. Jangan serangan teror itu digeneralisasikan. Jangan sampai yang dipersalahkan adalah agama si teroris pada umumnya. Terorisme dikhawatirkan akan tetap merupakan ancaman di seluruh negara, juga di Indonesia. Terorisme selalu tindakan kelompok sangat kecil rahasia, sosok-sosok yang memang agamis fanatik, yang sering mendapat dukungan dari gerakan-gerakan ekstrem berkekerasan seperti ISIS, al-Qaida atau Front al-Nusra, atau dia pelaku tunggal. Mereka itu harus diburu dan diamankan. Mereka tidak mewakili agama yang mereka atas namakan. Kita harus bisa membedakan.

Di Indonesia misalnya, ada kelompok dan organisasi “garis keras” yang bisa bikin kita susah, terutama dalam kebebasan kita untuk beribadat. Dan itu pantas disesalkan. Tapi mereka itu bukan teroris dan bukan organisasi yang merencanakan terorisme. Jadi, jangan dari peristiwa tertentu–teror di Samarinda, di Medan–lalu ditarik generalisasi tentang agama atau organisasi agama lain. Kita jangan melayani tujuan kelompok-kelompok teroris benaran untuk memecah belah bangsa dengan menuduh pihak yang tak terlibat sebagai pendukung teroris.

Terorisme jangan diizinkan mengganggu komunikasi kita yang makin erat dengan saudara-saudari sebangsa yang Muslim. Mereka juga merasa ngeri dan tak berdaya terhadap para teroris.

Apabila hubungan kita dengan agama-agama lain baik, tak perlu kita mengkhawatirkan masa depan. Bahwa selalu masih akan ada gesekan, konflik-konflik kecil, dan pelbagai pengalaman intoleransi adalah biasa di mana orang dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda hidup bersama. Kita mesti dengan sabar membangun komunikasi di mana gesekan-gesekan itu dapat dibicarakan dengan baik.

Kita mesti bersama-sama membangun kehidupan bangsa di mana semua warga, agama, bisa merasa at home. Itu hanya mungkin apabila kita memperhatikan kepekaan saudara-saudari di agama lain. Kita tak perlu merasa takut satu sama lain. Dan kita bersama menghadap ekstremisme dan terorisme.

Franz Magnis-Suseno SJ

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 49 Tanggal 4 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*