Artikel Terbaru

Berdamai dengan Masa Lalu

[marcandangel.com]
Berdamai dengan Masa Lalu
3 (60%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa waktu lalu, saya ”terpaksa” bermalam di ruang tunggu Bandara Sepinggan, Balikpapan. Saya salah membaca waktu pemberangkatan, sehingga tertinggal penerbangan terakhir ke Yogya malam itu. Ternyata, di situ ada penumpang yang senasib dengan saya. Dia seorang bapak berusia 70-an, dengan raut wajah dan penampilan yang jauh lebih muda dari usianya. Sebut saja namanya ”X”. Gara-gara terlalu ”enjoy” menikmati jus apel di counter minuman, dia tertinggal penerbangan.

Bermula dari saling berbagi menertawakan diri terkait dengan kesamaan ”nasib” tertinggal penerbangan, perbincangan kami berlanjut sampai ke kisah hidupnya. X menceritakan pengalaman hidupnya. Sewaktu muda dia menempuh pendidikan perwira (AKABRI). Sehari menjelang pelantikannya, dia diberitahu pihak otoritas bahwa karena suatu hal maka pelantikannya dibatalkan. ”Suatu hal” itu ternyata karena pamannya (sekaligus ayah angkatnya) bersatus pernah ”terlibat” partai terlarang. Kabar pembatalan itu pun sampai di keluarga sang pacar, yang berlanjut dengan pemutusan sepihak oleh orangtua sang pacar persis tiga hari berikutnya.

Porak porandalah skenario hidup yang semula begitu gamblang dirancang. Perasaan sangat terpukul melantakkan psikis dan mentalnya. Karena prestasinya yang menonjol selama pendidikan, pihak otoritas menawarinya posisi untuk langsung masuk sebagai karyawan di sebuah BUMN prestisius. Tetapi, dia menolak. Dan dia memilih untuk hidup menyepi di sebuah desa terpencil di pinggiran kota K.

Empat tahun dia memencilkan diri, hidup sepenuhnya dari bercocok tanam. Tahun 1973, ia menikah dengan seorang gadis tetangga desa yang dicintainya. Episode keterpurukan hidup 40 tahun lalu itu, kini dipahami dan dimaknainya sebagai momen keniscayaan yang sangat berarti bagi perjalanan hidupnya hingga detik ini. Kini, pria sepuh pengusaha pot dan tanaman hias itu hidup sejahtera, dikaruniai empat anak (dua berpofesi sebagai dokter, satu arsitek, dan bungsunya bekerja sebagai pengajar di Perguruan Tinggi). Usahanya melibatkan 274 karyawan yang tersebar di Jawa dan luar Jawa.

”Saya sangat bersyukur, tidak sampai lima tahun sejak pembatalan pelantikan perwira yang membelokkan skenario hidup itu, saya mampu berdamai dengan masa lalu yang dulu saya hayati sebagai suatu kutukan tak tertanggungkan…,” demikian dia mengakhiri kisahnya.

”Bila demikian, untuk bisa berdamai dengan masa lalu, faktor waktu penting juga ya Pak?” saya menanggapinya. Dan dia mengatakan: ”Ya… setelah lama saya renung-renungkan sepanjang menjalani hidup ini, ternyata kuncinya bukan sekadar soal waktu, tapi juga kemauan, tekad yang disadari, dan satu lagi, sikap pasrah pada Hyang Ilahi. Kini, seluruh hal yang dulu saya sesali, ternyata justru mengantar saya pada momen ‘kelahiran kembali’ sebagai manusia baru dalam segala hal…”

Tak sampai dua menit, X sudah tertidur pulas bersandar kursi di samping saya. Di keheningan suasana dini hari itu, saya seperti tersedot kesima puisi kehidupan berjudul ”Berdamai dengan Masa Lalu” yang mengejawantah dalam diri pria sepuh di samping saya.

***

Berkaca dari apa yang telah berhasil dilampaui X tersebut, rasanya kemauan untuk berdamai dengan masa lalu yang kelam memang perlu serius diagendakan dalam kehidupan banyak orang. Terutama pada mereka, atau kita yang pernah terjebak ataupun berurusan dengan pengalaman sakit hati, atau rasa dendam terkait dengan peristiwa-peristiwa kelam di masa lalu. Entah karena kondisi tak terhindarkan dari segala yang melekat dalam kehidupan kita sejak lahir (invaliditas fisik, penampilan yang jauh dari standar ideal, kemiskinan, keterkucilan) ataupun karena perbuatan dan perlakuan orang lain (kekerasan pengasuhan masa kecil, dibuang, didiskriminasikan, dilecehkan, dihina, dilabel negatif, dikhianati, ditipu, ditinggal pergi kekasih, ditusuk dari belakang, dsb).

Memang tidak semua orang yang pernah terjebak dan berurusan dengan masa lalu kelam/menyakitkan selalu kemudian (otomatis) bermusuhan dengan masa lalu. Namun, andaikan semua orang di bumi ini bisa dan bersedia disensus secara menyeluruh dan cermat, kemungkinan akan diperoleh data: mayoritas orang cenderung masih ”bermasalah” dengan masa lalunya.

Bayang-bayang kelam masa lalu masih menyandera kehidupan masa kini. Bayang-bayang itu tak bisa dalam jangka waktu lama dan konsisten ditutupi penampakannya pada pola perasaan, pikiran, dan perilaku orang yang mengalaminya. Seakan ‘tak pantas’ menyebutkan, tapi nyata, gamblang di panggung kehidupan, tidak sedikit mereka yang sudah berusia matang (biologis) dan berstatus/berkedudukan mapan di segala lini (rohaniwan, ilmuwan, pejabat tinggi korporasi/pemerintahan, orangtua yang sudah beranak-cucu, psikolog bereputasi, dsb) masih terjebak dalam pusaran permusuhan dengan berbagai peristiwa kelam di masa lalunya.

Para ”pendendam” masa lalu, biasanya menyukai cara-cara menjalani kehidupan yang cenderung ekstrem. Bisa dalam bentuk kekerasan yang berlebihan (entah dalam bentuk verbal, tindakan, sikap, perasaan, cara berpikir) baik terhadap orang lain, diri sendiri maupun objek-objek material non-manusia. Atau sebaliknya, dalam banyak hal bersikap lembek, apatis, miskin kepedulian, oportunistik, asal menggelinding, berprinsip ‘tanpa prinsip’, dsb.

Secara psikologis, orang-orang yang masih berkubang dalam kolam permusuhan dengan masa lalu yang kelam, dalam banyak sepak terjangnya dikendalikan semacam ”perangkat lunak mental” (mental sof­tware) yang sarat dengan warna permusuhan; yang selalu mengoperasikan modus bertahan (defensif) seperti dalam situasi perang, yang sebenarnya berkecamuk dalam dirinya sendiri. Pun mereka yang terjebak dalam kompleks permusuhan ini bisa menjadi hakim paling keras untuk dirinya sendiri.

Secara medis, para pendendam yang sulit memaafkan (termasuk terhadap masa lalu dan segala asosiasinya) sebenarnya tanpa disadari sibuk membangun pabrik penyakit dalam tubuhnya. Sebaliknya, orang-orang yang telah berdamai dengan masa lalu (dan asosiasinya) yang kelam, biasanya menyikapi kehidupan dengan damai, mengutamakan sikap penerimaan, empati, kepekaan, kepedulian pada orang lain, diri sendiri, situasi dan realitas dalam arti luas.

Secara medis, gelombang di tubuh orang yang mampu berdamai dengan pengalaman-pengalaman buruk yang menyakitkan di masa lalu, menebarkan energi kekebalan tubuh (imunitas) yang mampu mengelakkan sergapan berbagai penyakit. Menimbang ini semua, maka siapapun yang merasa belum bisa berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan, sebaiknya perlu segera mengagendakan aksi perdamaian dengan masa lalu.

Berkaitan dengan agenda ini, hasil kajian di bidang kesehatan mental menyarankan sekilas modus praktisnya, yakni: (1) Menyadari dengan jujur adanya perasaan belum berdamai dengan hal-hal yang menyakitkan di masa lalu; (2) Kesediaan untuk melakukan rekonstruksi terhadap hal-hal tersebut secara jujur dan terbuka; (3) Kerelaan untuk menerima dan merengkuh dengan tulus semua hal yang menyakitkan di masa lalu itu sebagai keniscayaan yang telah terjadi; (4) Melepaskan dengan penuh kesadaran semua luka dan rasa sakit yang sebelumnya membebani batin; (5) Membangun tekad/kemauan untuk berani mulai mengubah cara menyikapi segala hal dengan perspektif baru yang telah terbebaskan dari belenggu kelam masa lalu.

Kelima langkah itu hanyalah salah satu alternatif. Tentu masih ada banyak ”resep” lainnya, yang khas dan lebih pas bagi masing-masing orang yang telah berhasil berdamai dengan masa lalunya.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 47 Tanggal 21 November 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*