Artikel Terbaru

Anak Mami

[ehow.com]
Anak Mami
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSudah enam bulan ini saya jalan bareng dengan seorang cowok (sebut saja namanya K), rekan sekantor. Usia kami selisih dua tahun (saya 24, dia 26 tahun). Saya mau jalan bareng dengannya karena kesan saya dulu K memiliki kematangan pribadi melampaui usianya. Selain sabar, dia juga sangat perhatian; sampai hal- hal kecil pun dia perhatian (misalnya, kalau saya kelihatan letih dia langsung bertanya apakah saya sakit, sudah sarapan belum, apakah saya kurang istirahat, dsb).

Saya termasuk cewek temperamental, kurang peduli, dan tidak mudah tersentuh dengan ungkapan-ungkapan perhatian khusus dari beberapa cowok yang berupaya melakukan pendekatan. Entah bagaimana, terhadap K saya merasa ada hal yang tak bisa saya abaikan. Kehadirannya dalam hidup saya terasa menyejukkan.

Sejalan dengan waktu, saya semakin tahu dan mengenal siapa dia. Dia adalah anak tunggal, yang diasuh ibunya sendirian sejak usia tujuh tahun. Ayahnya, seorang prajurit TNI, gugur dalam tugas di Timor Timur. Dan ibunya, yang bekerja sebagai guru SD, tak menikah lagi hingga sekarang. Hingga detik ini ada hal-hal yang tetap saya hargai pada diri K, yang membedakannya dari kebanyakan cowok, yaitu kesabaran dan kepeduliannya pada hal-hal yang menyangkut kesehatan serta kegiatan-kegiatan rutin saya; dan kemampuannya mengendalikan diri dalam hal-hal yang berkaitan dengan dorongan seksual. Juga keteraturannya dalam melakukan semua kegiatan baik di kantor, di lingkungan tempat tinggal maupun di rumahnya.

Namun, semakin saya mengenalnya, mulai terungkap bahwa dia pun memiliki “sisi lain” yang akhir-akhir ini sering membuat saya agak ragu untuk melanjutkan hubungan serius ini. Salah satunya yang menonjol adalah sikap kaku pada pendiriannya saat membicarakan rencana-rencana terkait dengan masa depan hubungan kami, dan sikapnya yang nyata-nyata lebih mementingkan pendapat, saran, dan arahan dari ibunya ketimbang mendengarkan saya. Saya tidak mengukuhi secara buta pendapat-pendapat saya, namun seakan semua yang dikatakan ibunyalah yang benar/terbaik. Saya merasa seperti “orang luar” yang harus selalu mengamini apa yang dikatakannya, apalagi saat ada ibunya. Saat diajak ke rumahnya, saya seperti dipaksa untuk mau tak mau harus bersikap diam, patuh, dan mendengarkan saja apa yang dikatakan ibunya. Ibunya memang suka memberi nasihat, baik kepada K maupun saya.

Belakangan ini, kalau diajak ke rumahnya saya sering menghindar dengan berbagai alasan. Terus terang saja, dua jam di rumahnya sering terasa seperti seharian tersiksa. Saat ini, komentar beberapa rekan sekantor bahwa K adalah “anak mami” yang dulu pernah saya dengar, rasanya segar kembali dalam ingatan. Hal yang dulu tak begitu saya pedulikan itu, kini seperti mengusik saya. Saya jadi mempertanyakan, meskipun diam-diam: Benarkah K itu memang “anak mami”? Dari selentingan beberapa kawan sewaktu kuliah dulu pernah saya mendengar sekilas pendapat bahwa menikah dengan pria “anak mami” itu bakal banyak tersandung problem, apalagi kalau hidup satu atap. Pertanyaan saya: Benarkah pendapat itu? Selama saya jalan bareng dengan K hingga saat ini, saya belum pernah sedikit pun membincangkan perihal komentar beberapa rekan kerja terhadap dirinya (bahwa K adalah “anak mami”). Perlukah saya menyampaikan hal itu kepada K? Terima kasih.

Sdri YE di N

Saudari YE, tampaknya Anda sedang mengalami mo­­mentum “krisis” relasi dengan K. Situasi krisis dalam relasi khusus antara pria dan wanita dewasa (khususnya yang tengah menapaki proses penjajagan menuju level relasi yang lebih mendalam lagi), adalah wajar; meskipun ini bukan “wajib” terjadi pada setiap pasangan. Apakah pemicu krisis ini adalah semata terungkapnya “sisi lain” dari pribadi K, atau ada hal lain yang belum teridentifikasi? Hanya Anda yang paling tahu persisnya.

Agar tetap terjaga proporsinya sebagai tanggapan terhadap pertanyaan di surat, langsung saja kita bahas sekilas topik mengenai sebutan “anak mami”. Secara harafiah, sebutan ini lebih ditujukan kepada seorang anak laki-laki yang memiliki kedekatan emo­­si dan relasi dengan ibunya ketimbang dengan figur ayahnya.

Menurut opini kebanyakan orang, idealnya seorang anak (laki-laki) mestinya memiliki kedekatan yang seimbang terhadap figur ibu dan ayahnya. Ada pendapat lain yang mengartikan “anak mami” untuk menggambarkan kedekatan si anak pada figur ibu karena situasi tiadanya figur ayah dalam keluarga, baik karena kematian atau berpisahnya figur ibu dan ayah. Atau juga karena terpisahnya jarak teritorial antara figur ibu dan ayah karena kesibukan/ pekerjaan di antara keduanya. Pun ada yang mengartikan “anak mami” sebagai sebutan bagi anak laki-laki yang karena sifat-sifat tiranik dan watak kejam figur ayah, maka si anak lebih dekat dengan figur ibu karena kebutuhan mendapatkan perlindungan. Namun, dalam pembicaraan sebagian besar orang, sebutan “anak mami” cenderung berkonotasi negatif, yang menunjuk pada karakteristik emosi dan perilaku si anak (laki-laki) yang kendatipun sudah memasuki usia dewasa masih sangat tergantung dan dikendalikan oleh figur ibu; dengan menafikan berbagai situasi yang melatarbelakanginya sebagaimana disebutkan di atas. Seringkali sifat-sifat dan perilaku tertentu yang dilabel negatif (manja, cengeng, kekanak-kanakan, tidak mandiri, tak berani mengambil risiko,daya juang hidup rendah, dsb) dianggap terkait langsung atau bahkan sebagai ekses dari dekatnya emosi dan relasi anak laki-laki dengan figur ibu. Memang mungkin saja karena figur ibu yang sangat dominan, bisa “memaksa” si anak terjebak menjadi “anak mami” dengan berbagai ekses negatifnya di kemudian hari. Yang perlu dicermati lagi secara lebih objektif dan realistis adalah: apakah benar berbagai situasi yang melatarbelakangi dekatnya seorang anak laki-laki itu secara “otomatis” kemudian berakumulasi pada terbentuknya prototipe sifat-sifat dan perilaku tertentu yang dilabel negatif tersebut? Realitasnya, ragam perjalanan hidup adalah sebanyak pelakunya.

Terkait dengan kisah-kisah kehidupan “anak mami”, ternyata banyak juga di antara mereka yang mampu mengembangkan berbagai sifat-sifat dan perilaku positif, seperti peka dan empatik terhadap perasaan dan keberadaan orang lain, mampu bersikap respek dan egaliter dalam berelasi dengan lawan jenis, fleksibel dan cekatan dalam membereskan tugas-tugas domestik (mengasuh anak, memasak, belanja, dsb), lebih rapi dan tertib dalam banyak hal, lebih bertanggung jawab, mampu “berpikir dengan perasaan”, dsb.

Sarah R. Roberts, seorang konselor keluarga dari Ferrum College di Virginia, bertestimoni bahwa tak sedikit anak laki-laki yang karena situasi tertentu lebih dekat dengan figur ibu setelah dewasa cenderung lebih mengerti mengenai perempuan dan sayang kepada mereka. Dalam hal K sebagai pasangan jalan bareng Anda saat ini, untuk memahaminya akan lebih pas bila Anda menyikapinya secara kasuistik. Bila yang Anda paparkan tentang sosok ibu dari K memang demikian adanya, dan Anda melihat atau bahkan merasakan bahwa sifat-sifat dan perilaku K dalam berelasi dengan Anda saat ini merupakan ekses langsung dari perlakuan ibunya, inililah saatnya Anda mendialogkan dengan K demi kenyamanan dan kejelasan langkah-langkah yang akan Anda tempuh berdua. Sedapat mungkin hindari keputusan sepihak, sejauh dialog masih bisa dilakukan. Apa kata orang tentang K, tak harus menjadi prioioritas rujukan, karena jangkar pengatasan krisis relasi Anda dengan K sepenuhnya ada di tangan Anda berdua. Selamat berdialog!

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 44 Tanggal 31 Oktober 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*