Artikel Terbaru

Pancasila Tanpa Perbuatan, Mati

Rumah Kerang: Sr Goretti berbincang dengan warga miskin di kawasan Kalibaru, Jakarta Utara.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Pancasila Tanpa Perbuatan, Mati
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Keuskupan Agung Jakarta memasukkan Pancasila dalam Arah Dasar 2016-2020. Banyak komunitas mengamalkan Pancasila sebagai perwujudan iman akan Kristus.

Gereja Keuskupan Agung Jakarta sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.” Demikian kalimat pertama rumusan final Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (Ardas KAJ) 2016-2020 yang dipromulgasikan akhir tahun lalu. Bisa jadi, ini pertama kali kata “Pancasila” masuk dalam arah pastoral Gereja. Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo yang mengusulkan agar kata “Pancasila” masuk dalam rumusan Ardas KAJ 2016-2020.

Dalam tulisan “Ardas KAJ 2016-2020: Buah Penegasan Bersama”, Mgr Suharyo mengungkapkan alasan memasukkan “Pancasila”. Ia menulis, sangat menarik bahwa dalamFocus Group Discussion perumusan Ardas KAJ 2016-2020 dibicarakan mengenai peran KAJ dalam memba ngun ke-Indonesia-an. Ini tentu saja sesuai dengan salah satu cita-cita KAJ yang terungkap dalam gambar Monumen Nasional dalam logo Keuskupan Agung Jakarta. “Ketika membaca itu, dalam hati saya berkata, alangkah baik kalau kita memasukkan Pancasila dalam Ardas KAJ 2016-2020. Bukankah ini dapat mengungkapkan niat kita mengikuti seruan Uskup pribumi per tama Mgr Albertus Soegijapranta SJ agar kita menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia. Sekaligus ikut menyembuhkan Pancasila yang dalam sejarah bangsa tercederai karena dipakai sebagai alat kekuasaan.” Mgr Suharyo juga menyitir dokumen Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang berjudul Umat Katolik Indonesia Dalam MasyarakatPancasila.

Lantas, bagaimana menerapkan nilai-nilai dasar Pancasila dalam kegiatan umat? Jawaban bisa mudah, tetapi juga bisa sangat sulit. Tanpa disadari ada banyak upaya yang telah dilakukan, baik secara pribadi maupun bersama komunitas. Beberapa komunitas kategorial dan teritorial, serta komunitas selibater sudah menggeluti karya-karya sosial yang bertitian semangat kemanusiaan, persaudaraan sejati, dan keadilan sosial.

Rumah Kerang
Celoteh anak-anak memenuhi ruang di lantai kedua rumah di tepi Jalan Kalibaru Timur VI, Jakarta Utara. Anak-anak ini sedang mendapatkan pelajaran tambahan. Rumah ini hanya sekitar 200 meter dari bibir pantai utara Jakarta. Bau tak sedap segera menusuk hidung tatkala memasuki kawasan ini. Warga sekitar mengenal rumah ini dengan sebutan Rumah Kerang. Di sebut Rumah Kerang lantaran mayoritas warga sekitar mengais rezeki sebagai buruh pengupas kerang.

Rumah Kerang atau Pondok Rosalie Rendu ini dikelola para Suster Puteri Kasih (PK). Mereka berkarya di tempat ini sejak 1987. Empat suster kini berkarya di rumah komunitas tersebut. Di sini, para suster melayani warga miskin yang tersebar di kawasan itu. Hampir setiap hari, celoteh anak-anak usia prasekolah sampai sekolah dasar memenuhi Rumah Kerang. Mereka mendapat pelajaran tambahan dari para relawan. Selain pelajaran tambahan, para suster PK juga memberikan beasiswa pendidikan. “Sudah ada dua anak yang kuliah,” ujar Pimpinan Komunitas Rumah Kerang Sr Goretti PK.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*