Artikel Terbaru

Katekumen Pelayan Liturgi

Katekumen Pelayan Liturgi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaya seorang ketua lingkungan. Apakah diperbolehkan menugaskan para simpatisan Katolik atau katekumen ketika lingkungan bertugas melayani perayaan Ekaristi?

Paramitha Kartika Sari, Surabaya

Pertama, perlu diperhatikan bahwa tugas pelayanan bukanlah sebuah pekerjaan lumrah yang bisa dilakukan begitu saja oleh siapa saja. Tugas pelayanan mewujudkan iman yang mau melayani Tuhan dan sesama, lebih-lebih jika dilakukan dalam konteks ibadat resmi atau liturgi Gereja. Iman yang diandaikan dalam masing-masing tugas pelayanan dalam perayaan Ekaristi, tidaklah sama. Maka, perlu membedakan tugas-tugas pelayanan dalam perayaan Ekaristi, misal tugas sebagai putra-putri altar, lektor, pembaca doa umat, kor, dirigen, organis, kolektan, pembawa persembahan, pengatur umat, petugas dekorasi, pembersih gereja, dan yang lain. Dalam Hukum Gereja atau peraturan liturgi, belum ada ketentuan-ketentuan eksplisit yang memperbolehkan atau melarang seseorang menjadi petugas dalam perayaan Ekaristi. Namun demikian, penalaran dalam iman akan membantu.

Kedua, pelayanan sebagai putra-putri altar berada sangat dekat dengan misteri perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan. Karena itu, pelayanan sebagai putra-putri altar mengandaikan seseorang sudah dibaptis dan sudah menerima komuni pertama sehingga bisa melayani dengan sikap hormat yang pantas terhadap misteri yang dilayani.

Pelayanan ini juga membutuhkan sedikit pengetahuan dan latihan tentang yang harus dikerjakan. Dengan demikian, simpatisan dan katekumen sebaiknya tidak melayani sebagai putra-putri altar. Pelayanan sebagai lektor bukanlah melulu soal membaca, tetapi soal mewartakan Sabda Tuhan. Tentu saja, mewartakan Sabda Tuhan lebih tepat dilakukan umat yang mengimani Sabda Tuhan, daripada orang yang tidak atau belum percaya. Maka, pelayanan sebagai lektor harus dilakukan umat yang sudah dibaptis, bahkan juga sudah dikrisma. Sakramen Krisma membuat seseorang menjadi anggota yang sudah dewasa dan mengetahui tanggung jawab serta kewajiban.

Pelayanan sebagai pembaca doa umat juga bukan sekadar membaca, tapi mewakili umat untuk menyampaikan permohonan kepada Allah. Sebagai wakil umat, tentu pembaca doa umat perlu sudah dibaptis dan sudah dikrisma.

Ketiga, pelayanan lain, yaitu sebagai anggota kor, bahkan sebagai dirigen, organis, juga kolektan, pembawa persembahan, pengatur umat, dan pembersih gereja, tidak terlalu mengandaikan ada iman. Maka, tugas pelayanan ini bisa dilakukan para simpatisan atau katekumen. Tentu saja mereka harus dipersiapkan agar mengetahui hal-hal yang harus dilakukan.

Apakah nabi atau tokoh di dalam Perjanjian Lama boleh diambil sebagai nama baptis?

Gabriella Yenny Sari, Malang

Pemilihan nama baptis bertujuan menjadikan pribadi itu sebagai pelindung yang mendoakan di hadapan Allah dan sekaligus sebagai teladan kesucian hidup. Tak semua tokoh Perjanjian Lama dikenal sebagai orang suci. Disebutkan nama tokoh itu dalam Kitab Suci bukanlah jaminan bahwa dia adalah seorang yang kudus. Kesulitan lain muncul berkaitan dengan teladan hidup kesucian, karena tak semua tokoh dalam Perjanjian Lama itu dikenal kesucian hidupnya sehingga sulit menemukan hal-hal dalam hidup mereka yang bisa diteladani. Karena itu, pemilihan nama baptis dari tokoh Perjanjian Lama perlu dilakukan dengan sangat hati-hati.

Di lain pihak, sangat dianjurkan memilih nama baptis dari orang-orang yang oleh Gereja telah dinyatakan sebagai orang kudus, baik santo-santa maupun beato-beata. Pemilihan mereka sebagai nama baptis lebih memberikan jaminan tercapainya tujuan pemilihan nama baptis. Di samping itu, juga relevansi teladan hidup mereka lebih terjamin karena kedekatan jarak waktu dengan kita sekarang.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 24 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*