Artikel Terbaru

drg. Aloysius Giyai: Menyelamatkan Papua dari Maut

Melayani: drg. Aloysius Giyai melayani masyarakat Papua.
[NN/Dok.Pribadi]
drg. Aloysius Giyai: Menyelamatkan Papua dari Maut
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHidupnya penuh kekurangan. Namun keterbatasan justru memantik tekadnya membantu masyarakat Papua keluar dari jeratan maut beragam penyakit yang mematikan.

Jabatan Aloysius Giyai terbilang tinggi di barisan birokrasi. Sejak 6 Maret 2014, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Sebelumnya, pria kelahiran Kampung Onango, Kabupaten Deiyai, 8 September 1972 ini adalah Direktur Eksekutif Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP).

Tapi seakan “lupa” dengan jabatan-jabatan tersebut, setiap pagi ia masih melakoni pekerjaan memberi makanan lebih dari 20 ekor babi yang ia piara tidak jauh dari rumahnya di Jayapura. Setelah itu, ia baru bergegas ke kantor di Jl Sentani Kota raja Jayapura. “Saya tidak boleh lupa dengan masa lalu yang penuh perjuangan. Masa itulah yang mengantar saya bisa seperti ini sekarang,” kata mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abepura ini.

“Dendam” Alo
Alo, sapaan akrabnya, terlahir dalam keluarga miskin dan terbelakang. Orangtua Alo buta huruf dan menggantungkan hidup dari berburu. Kemiskinan akut di wilayah Deiyai, Papua, membuat lima kakak Alo meninggal dunia terserang wabah kolera dan malaria. Sebagai manusia koteka yang hidup di hutan, orangtua Alo, Giyaibo Raymondus Giyai dan Yeimoumau Albertha Yeimo tak bisa berbuat banyak ketika satu persatu buah hati mereka meregang nyawa. “Benar-benar berkat Tuhan, saya dan kedua kakak saya Damianus Giyai dan Oktovina Giyai lolos dari kematian akibat penyakit mematikan itu,” ungkap dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur ini.

Setelah meniti perjuangan yang tidak ringan, Alo bisa tamat sekolah dasar dan meneruskan belajar. Saat mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, Alo masuk asrama. Kesempatan hidup di asrama, dia akui sebagai fase terpenting dan menentukan dalam peziarahan hidupnya. “Bagi saya, asrama ibarat penyelamat masa depan. Saya benar-benar bersyukur dididik di asrama asuhan rohaniwan Katolik. Mereka mengajari saya nilai-nilai kehidupan dan bersyukur di tengah keterbatasan hidup. Itulah yang membuat saya tabah,” ujar Alo.

Alo melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Abepura, sebuah sekolah unggulan, tempat belajar anak-anak orang kaya di Papua. Hampir tak ada orang dari pegunungan tengah Papua yang berlatar belakang keluarga petani sederhana atau miskin seperti Alo yang bersekolah di sini. Inilah yang membanggakan Alo, bisa masuk ke sekolah tersebut.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*