Artikel Terbaru

Keluarga dalam Kerahiman Allah

Keluarga dalam Kerahiman Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dengan membangun keluarga, orangtua bersama anak-anak membentuk persekutuan pribadi, mengabdi kepada kehidupan, ikut serta dalam pengembangan masyarakat, berperan serta dalam kehidupan dan misi Gereja (Familiaris Consortio, FC 17). Banyak tantangan dan krisis dihadapi keluarga. Diusahakan agar krisis itu diatasi dengan konsultasi, petunjuk dan nasihat-nasihat moralistis. Masalah keluarga dipandang sebagai problem yang dicari solusinya. Namun, sering dilupakan bahwa membangun keluarga bagaikan menulis kisah kehidupan. Setiap keluarga menjalani sejarahnya sendiri dan dihayati sebagai sebuah seni kehidupan. Perjalanan sejarah mengalami pasang surut. Banyak peristiwa tak terduga muncul dalam kehidupan yang bukan hitam-putih. Maka mendampingi keluarga berarti turut serta berempati dalam sejarah keluarga. Demikian juga turut serta membangun kisah bersama. Penyelesaian masalah keluarga tak cukup hanya dengan pendekatan hukum, psikologi, psikiatri, bahkan hukum kanonik sekalipun. Memahami dan mendampingi keluarga perlu diresapi oleh kisah Injil yang ditulis dalam bentuk sastra.

Membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berarti membaca kisah kerahiman Allah. Setiap orang dirangkul, dibungkus, dilindungi dalam kerahiman Allah sejak dalam kandungan ibunya, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mzm 139:13). Apakah kita berhak menilai kawin beda agama sebagai perkawinan tidak lazim Kristiani? Jangan menghakimi! Ingatlah, tatapan mata Allah yang penuh kerahiman selalu tertuju kepada perjalanan sejarah kehidupan keluarga. “Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya” (Mzm 145:8).

Dalam perkataan dan perbuatan-Nya, Yesus mengungkapkan kerahiman Allah. Yesus mendekati para pendosa. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tapi orang berdosa supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Apakah kita berhak menghakimi, orang Katolik dalam perkawinan sipil saja, mereka yang bercerai dan menikah lagi? Perlu mengedepankan sikap untuk tidak menghakimi, akan tetapi menyembuhkan kelemahan manusiawi. “Bersama dengan Sinode, kami dengan sungguh-sungguh meminta para gembala dan segenap jemaat beriman untuk membantu mereka yang sudah bercerai dan berusaha sebaik mungkin supaya mereka itu jangan menganggap diri seolah-olah sudah terpisah dari Gereja. Sebab sebagai orang yang dibaptis, mereka dapat dan wajib ikut mengahayati hidup Gereja” (FC 84).

Dewasa ini menjamur lembaga konsultasi keluarga yang dikelola psikolog, psikiater, sosiolog dan dokter. Dibuka rubrik dalam majalah untuk konsultasi, bahkan ditulis oleh rohaniwan selibater. Dengan metode ilmiah, muncul kecenderungan ‘‘problem solving’’. Terkesan nasihatnya bernada romantis yang menggelikan. Dikira problem, tapi masalahnya kecil dan sepele, yang oleh konselor dibesar-besarkan. Sesungguhnya banyak masalah keluarga dapat diringankan oleh tetangga, lingkungan, keluarga, sahabat dan kenalan. Dengan bercerita dan berbagi masalah, beban menjadi ringan. Namun, tugas utama Gereja dan setiap orang beriman adalah membimbing keluarga-keluarga yang terluka untuk memiliki sikap saling mengampuni. Barangsiapa yang tidak mampu memaafkan, ia tidak memiliki ketenangan jiwa dan tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Mengapa? Allah yang Maharahim terlebih dahulu mendatangi dan merangkul kita (Luk 15:20). “Tanpa pengampunan, keluarga menjadi teater konflik dan benteng keluhan” (Paus Fransiskus). Perlu digalakkan pemahaman dan pelaksanaan Sakramen Rekonsiliasi, di mana imam menyatakan, “Dosamu diampuni!” atau “Pulanglah dalam Damai!”.

RD Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 24 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*