Artikel Terbaru

Gereja di Tengah Konflik

Gereja di Tengah Konflik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi memberikan banyak pengaruh dalam kehidupan. Beberapa bersifat positif, sebagian negatif. Betul bahwa melalui teknologi informasi, masyarakat dapat dengan mudah dan segera mengakses berbagai informasi, mulai yang terkait kebutuhan hidup sehari-hari hingga persoalan politik. Akan tetapi informasi yang lalu-lalang berkeliaran dengan kendaraan internet dapat mengakibatkan masyarakat berhadapan dengan persoalan inakurasi dan ketidakhandalan informasi.

Bukan hanya informasi yang bersifat mencerdaskan saja yang berkeliaran, melainkan juga informasi yang bernada kebencian. Dalam penelitian yang dilakukan seorang mahasiswa, Oktav Siagian, informasi bernada kebencian itu disampaikan melalui situs online yang sempat diblokir Kementerian Kominfo. Akan tetapi, setelah melalui proses negosiasi, situs tersebut dibuka dari pemblokiran dan sampai sekarang tetap menyampaikan informasi bernada kebencian. Penelitian lain dari mahasiswa mengenai sentimen etnis diangkat Subatrio Saragih dan Fitria Rahmawati. Etnisitas diangkat sebagai isu untuk memenangkan hati. Bahkan dalam Pilkada serentak 2015 menjadi isu sentral yang digunakan beberapa calon.

Ketiga penelitian tersebut menunjukkan sejumlah gejala sosial yang menarik sebagai refleksi.Pertama, mengenai sentimen primordial baik etnis, agama, maupun putra daerah, menjadi instrumen yang digunakan kelompok kepentingan tertentu untuk memenangkan posisi secara politis. Kedua, sentimen primordial diajukan dengan cara memojokkan atau menyudutkan kelompok etnis, agama, dan daerah asal. Ketiga, cara yang digunakan bernada provokatif dan merangsang kemunculan agresi atau kekerasan demi “membela” agama, etnis, dan daerah asal.

Dalam ensiklik Laudato Si’ yang dirilis Paus Fransiskus bercermin kepada kondisi aktual yang terjadi dalam diri manusia dewasa ini yang oleh persentuhan dan relasi dengan bumi dan segenap isinya mengalami perubahan yang fundamental. Krisis menjadi wajah baru yang dihadapi manusia. Kekatolikan pun mengalami situasi tidak terelakkan.

Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dalam Rapat Pleno Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (HAK KWI) akhir tahun lalu, menjelaskan bahwa dunia sedang diwarnai konflik, perpecahan, kecemasan yang terjadi atas nama agama. Kehadiran agama justru menjadi sumber ketakutan.

Di tengah kondisi di mana agama menjadi sumber ketakutan, Paus Fransiskus menawarkan suatu bentuk lain yang menekankan belas kasihan. Mgr Mandagi menegaskan, makna Laudato Si’ sebagai kabar baik yang mengingatkan akan gambaran Allah yang berbelas kasih. Kabar baik dalam Laudato Si’ mengingatkan kembali bahwa manusia merupakan gambaran Allah. Manusia harus seperti Allah yaitu ada untuk saling mengasihi, menuntun, berbelas kasih.

Mgr Mandagi juga menceritakan secara khas tentang kondisi riil yang dialami manusia pada masa ini, masa yang diwarnai dengan perpecahan. Indonesia sebagai bangsa yang sedang menghadapi situasi keterpecahan, baik bersumber dari agama, etnis, ataupun daerah asal, serta perbedaan cara pandang yang bersumber kepada kepentingan politik, ekonomi, dan ketertutupan cara berpikir.

Dalam situasi seperti ini, sebagai umat Katolik dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita bersandar kepada kebijakan pemerintah untuk menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat yang diwarnai dengan damai dan toleransi dan juga tentu kepada kebijaksanaan Gereja dalam memaknai situasi, di mana sentimen primordial menjadi instrumen yang berkontribusi kepada kemunculan konflik. Siapakah Gereja? Tentu saja kita semua, yang berada dalam Terang Kasih yang nyata dihadirkan berkat kelahiran Yesus Kristus di bumi ini lebih dari 20 abad yang lalu.

Puspitasari

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 4 Tanggal 24 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*