Artikel Terbaru

Mengapa Berpuasa?

[NN]
Mengapa Berpuasa?
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comMengapa Gereja menganjurkan berpuasa? Apa dasar anjuran itu? Apa pula tujuan berpuasa? Mohon penjelasan Pastor. Terima kasih.

Katrin Nainggolan, Sidoarjo

Pertama, pada awal Masa Pra Paskah, Gereja menganjurkan tiga laku tapa yang sangat disukai dalam tradisi Kitab Suci maupun dalam tradisi Kristiani, yaitu doa, amal, dan puasa atau pantang. Tiga laku tapa ini dianjurkan untuk mempersiapkan kita merayakan Paskah, artinya mengalami kuasa Allah. Anjuran untuk berpuasa mengingatkan kita akan puasa Yesus selama 40 hari di padang gurun sebelum Yesus menjalani pelayanan publik-Nya (Mat 4:1-2). Puasa juga dilakukan oleh Musa sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (Kel 34:28) dan Elia sebelum bertemu dengan Tuhan di Gunung Horeb (1 Raj 19:8). Melalui doa dan puasa, Yesus mempersiapkan diri-Nya untuk mengawali tugas perutusan-Nya.

Kedua, seluruh Kitab Suci dan tradisi Kristiani mengajarkan bahwa puasa merupakan sarana ampuh untuk menghindari dosa dan melawan segala bujukan dosa. Praktik berpuasa banyak juga dilakukan oleh jemaat awali (Kis 13:3; 14:23; 27:21; 2 Kor 6:5). Banyak Bapa Gereja yang juga menganjurkan agar berpuasa.

Halaman pertama Kitab Suci ditandai dengan perintah Allah untuk tidak makan buah terlarang: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej 2:16-17). Perintah Tuhan ini menunjukkan bahwa berpuasa berarti melaksanakan perintah-Nya. Artinya, jika kita berpuasa maka perintah-Nya dilaksanakan, kehendak-Nya terjadi. Allah merajai kita. Mengarahkan diri pada Bapa yang melihat hal-hal tersembunyi, inilah motivasi puasa yang ditekankan Yesus (Mat 6:18). Puasa dilakukan bukan untuk mendapatkan kekuatan dan mensakralkan puasa itu sendiri. Dengan berpuasa, kita mau berserah pada Allah, mempercayakan diri pada kebaikan dan belas kasihan-Nya. Berpuasa menyembuhkan kita dari segala sesuatu yang menjauhkan kita dari kehendak Allah. Berpuasa membuat kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, tetapi bagi Dia yang mencintai kita dan memberikan diri-Nya untuk kita.

Pada zaman konsumerisme seperti saat ini, menjadi lebih jelas bahwa menahan diri untuk tidak makan, akan menumbuhkan sikap batin yang mendengarkan Kristus dan diberi makan oleh Sabda-Nya. Melalui puasa dan doa, kita mengundang Allah untuk masuk ke dalam diri kita dan memuaskan “kelaparan terdalam” yang kita alami, yaitu kehausan dan kelaparan akan Allah, dasar seluruh hidup kita.

Ketiga, berdoa dan berpuasa membantu kita untuk ikut merasakan pengalaman saudari-saudara kita yang berkekurangan. Maka, berpuasa akan menumbuhkan semangat orang Samaria yang baik hati, yang mau merepotkan diri menolong orang yang disamun. Maka, berpuasa membuat kita membuka diri kepada saudari dan saudara kita yang membutuhkan. Sudah sejak komunitas awali, ada kebiasaan untuk menyisihkan hasil puasa kita untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan (bdk 2 Kor 8-9; Rom 15:25-27). Dengan ini, kita bisa mengatakan bahwa berpuasa membantu kita untuk mampu memberikan diri kita secara lebih penuh kepada Allah, baik melalui mati raga maupun melalui perbuatan amal kita.

Pastor, keponakan saya lahir prematur dan karena cacat jantung, dia langsung dibaptis. Sesudah itu, apakah boleh dia menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit?

Fransiska Mujiati, Malang

Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS) membantu kita untuk ikut serta mengalami penderitaan Yesus Kristus dan dengan itu kita disembuhkan. Hukum Gereja mengatur bahwa “pengurapan orang sakit dapat diberikan kepada orang beriman yang telah dapat menggunakan akal, yang mulai berada dalam bahaya karena sakit atau usia lanjut.” (KHK Kan 1004 # 1) Persyaratan “telah dapat menggunakan akal” sama dengan persyaratan untuk komuni pertama (KHK Kan 914). Maka, patokan umur untuk penerima SPOS itu bisa disejajarkan dengan telah menerima komuni pertama.

Jadi, untuk bayi yang baru lahir dan sakit berat, tidak perlu diberikan SPOS. Cukuplah didoakan untuk mohon kesembuhan. Persatuannya dengan Yesus Kristus dalam Sakramen Baptis sudah memadai untuk menyembuhkan dia baik secara fisik atau secara rohani.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 9 Tanggal 1 Maret 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*