Artikel Terbaru

Iman atau Baptis

[thedailyrace.wordpress.com]
Iman atau Baptis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Apakah perlunya dibaptis kalau karena iman seseorang sudah diangkat menjadi anak-anak Allah (Gal 3:26)? Bukankah iman itulah yang memberikan kebenaran kepada kita dan menyelamatkan (Gal 5:5-6)? Mengapa perlu dibaptis? Mohon penjelasan Romo.

Anastasia Rotowangi, Surabaya

Pertama,
memang benar bahwa menurut Rasul Paulus, manusia didamaikan dengan Allah karena iman. Tetapi, manusia mengenakan Kristus karena pembaptisan (Gal 3:27). Paulus tidak mempertentangkan antara iman dan pembaptisan, tetapi mau menekankan pentingnya partisipasi pribadi masing-masing melalui iman. Dengan kata lain, Paulus mau mengatakan, bukan ritus itu melulu yang menyelamatkan tetapi iman pribadi itulah yang memainkan peran.

Kedua, sesuai dengan kodrat manusia yang adalah makhluk korporal, lahiriah, dan kelihatan, penerimaan Sakramen Baptis menjadi sarana perwujudan lahiriah dari apa yang sudah diimani. Sakramen Baptis mnengungkapkan dan mengkonkretkan pertobatan batiniah orang yang dibaptis sekaligus merupakan ungkapan tindakan iman manusia yang bersifat korporal dan kelihatan. Menerima Sakramen Baptis adalah sebuah pernyataan secara kelihatan, publik, dan definitif bahwa seseorang menjadi milik Kristus. Inilah dimensi tanda dari Sakramen Baptis. Pembaptisan juga menjadi sarana menyempurnakan rahmat persatuan dengan Yesus Kristus. Menyempurnakan persatuan dengan Yesus Kristus bukanlah sesuatu yang mana suka, tetapi suatu yang perlu dan merupakan tuntutan kebutuhan dari persatuan batiniah dengan Yesus Kristus itu sendiri.

Ketiga, perlunya Sakramen Baptis juga menjadi nyata karena melalui Baptis kita disatukan secara riil dengan Yesus Kristus. Persatuan ini mencakup juga persatuan dengan tugas misi keselamatan-Nya di dunia melalui Tubuh Mistik-Nya, Gereja. Maka, dengan dibaptis kita diikutsertakan secara aktif dalam misi-Nya di dunia ini. Dengan kata lain, keputusan untuk menerima Sakramen Baptis berarti kemauan untuk ikut repot meluaskan karya keselamatan itu untuk orang-orang lain. Inilah arti misioner dari pembaptisan. Dengan demikian, pembaptisan dengan air (Sakramen Baptis) memurnikan dan menyatukan kita secara lebih erat dengan seluruh pribadi Yesus Kristus dibandingkan dengan persatuan yang terjadi hanya melalui iman.

Keempat, persatuan secara riil dengan Yesus Kristus inilah yang ditandakan dengan meterai Baptis, yaitu tanda rohani yang tak dapat hilang (kekal) bahwa kita sudah menjadi milik Kristus. Meterai Baptis tidak diberikan melalui iman, tetapi hanya melalui penerimaan Sakramen Baptis. Meterai ini adalah sebuah tanda. Sebagai tanda, meterai itu hanya akan berarti kalau kelihatan dan mempunyai arti bagi orang lain. Maka, keputusan untuk menerima Sakramen Baptis berarti keputusan untuk mau menjadi tanda dan sarana rahmat keselamatan untuk orang lain bersama dengan Tubuh Mistik-Nya, Gereja.

Di mana kita bisa menemukan ayat Kitab Suci yang menyatakan Yesus membuat Sakramen Pengakuan Dosa? Maaf merepotkan. Terima kasih.

Stefana Rosadiana, Tangerang

Sakramen Pengakuan Dosa juga dikenal dengan beberapa nama lain, misalnya Sakramen Tobat, Sakramen Pengampunan, dan Sakramen Rekonsiliasi. Dalam bahasa Inggris, masih ada nama Sacrament of Penance.

Sakramen Pengampunan ini menghadirkan kembali pribadi Yesus Kristus yang berkeliling dan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang datang kepada-Nya (Luk 7:48, Mat 9:2). Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (Mat 9:13). Yesus sadar bahwa Dia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:9-10). Yesus mencintai pendosa yang bertobat dan memberikan pengampunan (Luk 23:43) tetapi Ia tetap mengecam dosa. Berhadapan dengan wanita yang tertangkap basah berzinah, Yesus memberikan pengampunan dosa, tetapi mengingatkan agar tidak jatuh ke dalam dosa lagi (Yoh 8:10-11).

Yesus inilah yang mengutus para murid-Nya untuk menyerukan pertobatan (Mrk 6:13; Luk 10:9) dan memberikan pengampunan dosa (Mat 18:18; Yoh 20:23). Jadi, Yesus menghendaki agar kuasa mengampuni yang dimiliki-Nya dilanjutkan oleh Gereja. Katekismus mengajarkan “Berkat otoritas ilahi-Nya, Ia memberi kuasa ini kepada manusia, supaya mereka pun melaksanakannya atas nama-Nya”(KGK 1441). Kristus menghendaki bahwa Gereja menjadi tanda dan alat pengampunan dan pendamaian. Secara khusus pelayanan pendamaian ini dipercayakan kepada jabatan apostolik. Karena itu, Paulus menyerukan agar kita mau didamaikan dengan Allah melalui pelayanan ini (2 Kor 5: 18.20) (KGK 1442). Misi pengampunan Yesus Kristus inilah yang dihadirkan kembali melalui Sakramen Rekonsiliasi atau Pengampunan.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 8 Tanggal 22 Februari 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*