Artikel Terbaru

Seksualitas dalam Penyelidikan Kanonik

[Ilustrasi/HIDUP]
Seksualitas dalam Penyelidikan Kanonik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMenurut pendapat saya, penyelidikan kanonik bagi calon pengantin perlu diadakan untuk mengetahui a) status calon pengantin, b) kebebasan dalam melaksanakan perkawinan, c) memberikan pengarahan membangun keluarga Katolik yang baik, dan d) memeriksa kelengkapan dokumen dan data. Maka, apakah perlu membicarakan tentang kumpul kebo, penis, vagina dan kenikmatan seksual, yang sebenarnya sudah dibahas dalam kursus? Apalagi, pembicaraan yang demikian hanya dilakukan dengan calon pengantin perempuan saja. Bisakah dikategorikan sebagai suatu bentuk pelecehan? Tepatkah kalau pada waktu melakukan wawancara, pastor hanya memakai celana pendek dan kaos? Mohon penejelasan, terima kasih.

ISP di B

Pertama, apa yang Anda tulis tentang tujuan penyelidikan kanonik tidaklah salah. Jika dalam penyelidikan kanonik itu ada pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan tentang perkawinan, tentu seharusnya pembicaraan itu diarahkan untuk memenuhi butir ketiga, yaitu “memberikan pengarahan untuk membangun keluarga Katolik yang baik.” Penyelidikan kanonik bisa menjadi kesempatan mendapatkan umpan balik mengetahui apakah Kursus Persiapan Perkawinan yang sudah ditempuh sungguh ditangkap dengan benar dan baik.

Kedua,
ketika mengangkat masalah seputar perkawinan, kadang tidak bisa dihindarkan penyebutan bagian-bagian intim atau hal-hal yang sangat pribadi. Sejauh hal itu masih dalam konteks yang wajar, kiranya hal itu masih bisa dimengerti dan diterima. Penyebutan dan uraian tentang hal-hal intim itu menjadi tidak wajar kalau keluar konteks dan seolah menjadi fokus utama tanpa mempunyai bobot pengarahan seperti dimaksud di atas. Tentu saja, pengarahan tentang hal-hal intim tersebut haruslah diberikan kepada kedua calon mempelai, baik pria maupun wanita. Tidaklah wajar kalau hal itu hanya dibicarakan dengan calon mempelai wanita.

Ketiga, memang adalah wajar kalau dalam menerima tamu dan melakukan penyelidikan kanonik, seorang pastor mengenakan pakaian yang sopan. Memang tidak perlu memakai jubah, namun pakaian sipil biasa kiranya sudahlah cukup. Menurut saya, kuranglah tepat dari sudut kesopanan kalau romo hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Mungkinkah sebelum menemui tamu, pastor tadi sedang berolah raga? Ataukah mungkin ia mau memberikan kesan akrab atau dekat? Kiranya kritik membangun kepada imam sebagai gembala kita, selalu dibutuhkan. Kalau umat merasa ikut memiliki dan menjaga para imam, maka umat perlu memberikan kritik-kritik yang membangun yang akan mencegah banyak kerusakan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Dalam pengobatan alternatif saya diminta mengucapkan syahadat dan doa dari si penyembuh yang bukan Katolik. Pernah juga disuruh minum air yang sudah diberi doa. Juga dalam yoga, ada “mantra” yang harus diucapkan agar bisa mencapai “pengosongan” diri. Bagaimana saya harus bersikap?

Johan Kristanto, Yogyakarta

Sikap yang perlu diambil ialah tegas menolak semua praktik yang Anda sebutkan itu. Sebab mengikuti praktik-praktik seperti itu sama dengan mengkhianati iman kita sendiri dan berpindah memeluk iman lain. Menurut agama-agama tertentu, mengucapkan syahadat saja sudah berarti diterima menjadi anggota agama yang bersangkutan. Demikian pula doa dan mantra mengandaikan penyerahan diri atau beriman kepada siapa yang menjadi tujuan doa atau mantra itu. Karena itu, sebaiknya sungguh dihindari praktik yang demikian.

Sebagai tindakan perbaikan, sebaiknya Anda meminta Sakramen Rekonsiliasi atau Tobat atas apa yang sudah Anda lakukan. Juga mintalah agar Anda dibersihkan dari semua pengaruh yang ditanam dalam diri Anda.

Dalam Gereja Katolik, cukup banyak imam, suster atau kaum awam yang menerima karunia-karunia, antara lain karunia penyembuhan. Penyembuhan alternatif yang Katolik sangat mungkin tidaklah menyesatkan iman kita, malahan sebaliknya, yaitu meneguhkan iman pada kuasa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang bekerja di antara kita. Iman inilah yang perlu terus dipupuk agar menjadi sarana penyembuhan. Kepada perwira itu Yesus berkata: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya” (Mat 8:13).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 7 Tanggal 15 Februari 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*