Artikel Terbaru

Mimpi, Sekadar Bunga Tidur?

[sleepcare.com]
Mimpi, Sekadar Bunga Tidur?
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDalam tiga bulan terakhir ini, sudah dua kali saya bermimpi meninggal dunia. Pada mimpi yang pertama, saya seperti melihat dari dekat sekali jasad saya yang dibaringkan di atas meja. Kedua orangtua saya, saudara-saudara, dan sanak famili, terlihat sangat berduka. Mereka menangis di sekeliling jasad saya. Tiba-tiba, saya terbangun, dan mimpi berakhir. Ada perasaan aneh, saya resah tapi bukan sedih. Dari pagi sampai siangnya, saya masih dibayangi keresahan karena mimpi tersebut. Setelah itu, saya bisa melupakan dengan keyakinan bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur. Namun, kira-kira tiga minggu kemudian, saya bermimpi hal yang sama (meninggal dunia). Mimpi kedua ini lebih detil. Saya menyaksikan bagaimana jasad dimandikan, didoakan, diibadatkan dalam Misa arwah. Banyak sekali pelayat yang datang dan mengantar jasad saya sampai ke pemakaman. Anehnya, di mimpi ini sebagian besar pelayat yang datang tidak saya kenal dalam kehidupan nyata. Mengalami dua kali mimpi meninggal dunia ini, saya merasa resah sampai saat ini. Yang saya tanyakan: Benarkah mimpi saat tidur hanyalah bunga tidur? Bila demikian, mengapa hingga saat ini saya masih dibayangi keresahan akibat mimpi tersebut? Terima kasih.

AS (24 th), di kota B

Mimpi di saat tidur adalah kejadian umum yang dialami hampir semua orang. Karena sedemikian umumnya, banyak orang kelihatannya tidak begitu ”mempermasalahkan”. Mungkin dalam pengalaman banyak orang, lebih sering kebuntuan dialami ketimbang mendapatkan kegamblangan ketika berupaya mengungkap makna di balik mimpi-mimpinya; sehingga paling mudah adalah menganggapnya sebagai ”bunga tidur”. Justru karena sudah dianggap ”umum”, namun di sisi lain tetap saja membuat penasaran karena begitu ”sulit” mengungkap peran, arti, dan manfaatnya secara gamblang.

Sejak dulu pada sementara orang, peristiwa mimpi dianggap sebagai salah satu misteri kehidupan. Sejak zaman Babylonia beribu-ribu tahun lalu, para pemikir, pujangga, dan peramal sudah berupaya mencari tahu dan membeberkan apa sebenarnya peran dan makna mimpi dalam kehidupan manusia. Namun hingga saat ini, rasanya memang belum ada suatu penjelasan final tentang peran dan makna mimpi yang sungguh-sungguh gamblang dan bisa diterima semua orang.

Tentang pendapat bahwa mimpi semata adalah ”bunga tidur” pun belum tentu bisa diterima semua orang. Khususnya untuk Sdr AS, yang sudah dua kali ini bermimpi meninggal dunia. Menurut saya, dua pertanyaan Anda bila digabung sebenarnya secara implisit meragukan pendapat/kesimpulan bahwa mimpi yang Anda alami adalah sekadar ”bunga tidur”.

Berdasarkan testimoni pribadi dan sharing dengan sejumlah subjek yang menceritakan mimpi ”misterius” mereka, keraguan Anda tersebut bisa diterima. Dalam beberapa kajian di bidang psikologi, diyakini bahwa tidak semua mimpi bisa dikategorikan sekadar bunga tidur. Mimpi-mimpi tertentu diyakini mencerminkan dinamika, realitas, serta penghayatan ”dunia batin” dan bahkan memberikan wawasan (insight) solutif atau pun terapi yang cukup jitu bagi problem-problem personal yang bersifat eksistensial, kendati pun penyampaiannya bersifat simbolik.

Wagner (2004), seorang pengkaji mimpi, mengemukakan bahwa mimpi merupakan proyeksi dari bagian diri (self) yang diabaikan, ditolak atau ditekan. Sedangkan Hartmann (1995) berpendapat bahwa mimpi-mimpi tertentu bermakna dan bisa berfungsi sebagai psikoterapi bagi yang mengalaminya. Bila kita pilah berdasar ”isi” naratifnya, setidaknya ada tiga kategori mimpi: (1) yang terkait langsung dengan kejadian-kejadian nyata (misalnya, mimpi tentang pertemuan dengan sahabat lama, yang dalam kenyataan memang baru saja dialami di saat reuni, mimpi menggenggam segepok gelang karet yang dialami anak yang tengah asyik bermain gelang karet, mimpi mau buang air kecil saat kantung kemih penuh, dsb), (2) yang terkait dengan gejolak emosi dasar, biasanya disertai dengan mengigau (tertawa, menangis, teriak pada anak-anak, mimpi bertemu dengan kekasih yang kenyataannya memang sedang didera kerinduan), dan (3) yang tidak ada kaitan langsung dengan kejadian nyata dan biasanya ditebari dengan berbagai simbol yang aneh dan misterius.

Ketiga jenis mimpi ini, detilnya bersifat subjektif; kendatipun untuk jenis mimpi ke-1 dan ke-2 kesan sekilasnya objektif. Sifat subjektif ini bisa dipahami, karena pada dasarnya mimpi yang dialami seseorang terpengaruh oleh pengalaman dan penghayatan pribadi baik secara biologis, psikologis, kultural maupun spiritual. Mimpi kategori ke-3, seringkali memuat pesan yang bermakna hanya bagi si pemimpi. Namun karena kebingungan, banyak orang yang mengalaminya mencoba mencari tahu dari sumber-sumber eksternal (misalnya, orang lain yang dianggap memiliki kewaskitaan, membaca primbon, buku kiat (know-how) tafsir mimpi, atau kamus mimpi). Tentu saja lebih sering melesetnya, kalau tidak malah mendistorsi. Mimpi jenis ini biasanya tak bisa diduga munculnya. Biasanya terjadi ketika seseorang mengalami hal-hal yang bermakna dan menentukan (determinatif) dalam perjalanan hidupnya, namun tidak begitu dipahami oleh pikiran sadarnya. Mungkin dengan cara dan melalui media mimpi inilah ”rahasia” perjalanan hidup seseorang diungkapkan.

Karena terjadinya di saat tidur, banyak mimpi bermakna tak bisa sepenuhnya diingat. Yang bisa diingat, biasanya adalah potongan-potongannya yang paling mengesan. Namun, khususnya untuk mimpi yang menorehkan kesan yang mendalam dan mencekam (sebagaimana dialami Sdr AS), sering si pemimpi bisa mengingatnya secara detail.

Dalam bukunya berjudul The Universal Dream Key (2001), psikolog Patricia Garfield mencatat beberapa pola dasar mimpi yang muncul di seluruh dunia. Di antaranya adalah: mimpi dikejar-kejar/diserang, mimpi jatuh, mimpi bermasalah dengan kendaraan, mimpi sakit, mimpi meninggal dunia, dsb. Bila seseorang mengalami mimpi dengan salah satu pola dasar tertentu dan mimpinya termasuk kategori ke-3 (tak ada kaitan langsung dengan kejadian nyata), sangat mungkin mimpi ini bukan sekadar bunga tidur.
Yang dialami Sdr AS, kemungkinan besar adalah mimpi yang bermakna.

Tetapi, kesamaan pola dasar mimpi yang dialami oleh beberapa orang, tidak berarti maknanya sama. Dua dari enam subjek yang sempat saya ajak sharing pernah mengalami mimpi meninggal dunia. Subjek satu bermimpi dengan tema mati, beberapa saat sebelum ia menyatakan perasaan khususnya kepada gadis yang dicintainya setelah hidup menduda selama enam tahun (istrinya meninggal dunia). Subjek dua bermimpi mati, seminggu setelah menjalani tugas paska promosi di luar Jawa sebagai kepala cabang di bank swasta tempatnya bekerja. Mimpi mati yang dialami kedua subjek, ”kebetulan” ada kaitannya dengan perubahan perguliran perjalanan hidup yang mereka alami.

Bila bukan sekadar bunga tidur, apa makna mimpi mati yang dialami Sdr AS? Hanya Sdr AS sendirilah yang bisa menafsirkan. Keterbukaan dan kesediaan hati untuk ”merasakan’ seluruh impresi personal terhadap keseluruhan mimpi yang dialami tanpa kekhawatiran dan sikap ”mengadili” akan menunjang tersampaikannya pesan dan makna mimpi yang dialami. Bila dalam hal pengembangan pengetahuan di bidang keilmuan, kita pernah kenal peribahasa ”Belajarlah sampai Negeri Cina”, maka dalam hal pengembangan dan pendalaman pengetahuan tentang diri sendiri, mungkin bisa berlaku adagium: ”Belajarlah melalui mimpi-mimpi misterius Anda”.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 46 Tanggal 14 November 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*