Artikel Terbaru

Praksis Mendoakan Arwah

[newevangelizers.com]
Praksis Mendoakan Arwah
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Saudara-saudari kita Kristen Protestan tidak mendoakan arwah, tetapi memberikan penghiburan bagi yang meninggal. Apakah ajaran Gereja Katolik tentang mendoakan arwah didasarkan hanya pada kitab-kitab Deuterokanonika dan relatif baru muncul? Apa dasar praksis ini?

Brigitta Gita Soetanto, Pontianak

Pertama, praksis mendoakan arwah memang seringkali merujuk ke 2Mak 12:38-45, khususnya ayat 42 dan 45, sebagai dasar utama. Tetapi, ajaran ini bisa ditemukan gaungnya dalam teks-teks lain yang termasuk kitab-kitab yang diakui Gereja Kristen Protestan.

Ajaran Yesus tentang pengampunan secara implisit menyatakan hal ini: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 21:31). Yang dimaksud “dunia yang akan datang” tentu adalah dunia setelah kematian. Ini berarti bahwa bahkan sesudah kematian masih dimungkinkan diberikannya pengampunan kepada arwah yang sudah meninggal. Pengampunan ini tentu juga bisa disebabkan oleh bantuan doa dari orang yang masih hidup.

Selain itu, 2Tim 1:16-18 berbicara dengan pengandaian bahwa Onesiforus sudah meninggal, sehingga keluarganya perlu dihibur. Pada akhir, Paulus sendiri mendoakan Onesiforus: “Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya.” Doa Paulus ini menunjukkan bahwa Onesiforus sudah meninggal dan memohonkan rahmat Tuhan pada hari terakhir kelak. Penafsiran ini diteguhkan oleh 2Tim 4:19, yaitu salam kepada seluruh keluarga Onesiforus tanpa menyebutkan salam untuk Onesiforus. Ini merupakan contoh yang gamblang tentang doa untuk orang yang sudah meninggal.

Kedua, praksis mendoakan arwah ini kemudian juga nampak jelas dalam tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Tertulianus (wafat 211) menulis tentang doa-doa untuk orang yang sudah meninggal pada peringatan kematian seseorang. Demikian pula Hipolitus (wafat 325) jelas sekali menunjukkan adanya persembahan doa dalam Misa bagi mereka yang telah meninggal. St Sirilus dari Yerusalem (wafat 386) menegaskan bahwa kurban Ekaristi Yesus Kristus mendatangkan rahmat bagi orang-orang yang berdosa, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. St Ambrosius (wafat 397) mengajak kita menghantar jiwa-jiwa ke rumah Bapa melalui doa-doa kita.

Katekismus menegaskan ajaran ini: “Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.” (KGK 1032).

Ketiga, praksis mendoakan arwah ini didasarkan pada ajaran Gereja tentang kesatuan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus (bdk LG 49). Melalui Sakramen Baptis, kita disatukan dengan Yesus Kristus dan dengan semua orang yang sudah bersatu dengan-Nya. Kesatuan ini tidak hilang karena kematian. Dengan ini, lahirlah persekutuan para kudus yang bisa dibedakan menjadi tiga Gereja, yaitu Gereja mulia (para kudus di surga), Gereja menderita (mereka yang di api penyucian) dan Gereja yang berjuang (kita yang masih hidup di dunia ini).

Hari Raya Para Kudus, 1 November, mengajarkan bahwa para kudus di surga peduli dan mendoakan kita yang masih mengembara di dunia ini, juga mereka yang berada di api penyucian. Mereka ini membantu proses penyempurnaan komunitas murid Tuhan. Untuk itu kita bersyukur.

Hari Peringatan Arwah Semua orang Beriman, 2 November, mengingatkan bahwa saudari-saudara kita di api penyucian membutuhkan doa-doa kita yang masih mengembara di dunia ini. Karena kesatuan Gereja kaum musafir dan Gereja yang menderita, maka doa-doa kita bisa membantu mereka melunaskan sisa hutang dosa-dosa mereka, baik melalui doa maupun melalui silih. Kita juga boleh meyakinkan bahwa Gereja yang mulia di surga juga mendoakan Gereja yang menderita ini. (bdk HIDUP no 43, 28 Oktober 2007 dan no. 45, 7 November 2010).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 44 Tanggal 28 Oktober 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*