Artikel Terbaru

Semangat Dasar Prapaskah

[bhamweekly.com]
Semangat Dasar Prapaskah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKapan kita harus berpantang? Apakah selama Masa Prapaskah, yaitu 40 hari? Siapa yang harus berpantang? Mohon penjelasan.

Evie Suprayitno, Malang

Pantang diwajibkan oleh Gereja hanya pada semua hari Jumat selama Masa Prapaskah. Hari Jumat dipilih karena Yesus wafat untuk kita pada hari Jumat sehingga hari Jumat dijadikan hari untuk penyangkalan diri atas kenikmatan-kenikmatan yang kita alami. Bahkan, semua hari Jumat sepanjang tahun dipandang sebagai hari pertobatan (KHK Kan 2150). Hari Jumat Suci ketika Yesus disalibkan, adalah hari puasa dan pantang. Tetapi, selain hari Jumat, amat dianjurkan oleh Gereja untuk menambah sendiri praksis pantang itu selama Masa Prapaskah.

Hendaknya selalu diingat bahwa semangat dasar Prapaskah yang diperjuangkan ialah pertobatan. Dengan semangat pertobatan, boleh saja kita berpantang setiap hari selama Masa Prapaskah, yaitu selama 40 hari. Praksis yang demikian akan melatih kita untuk berdisiplin menyerahkan diri kepada Tuhan.

Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang sudah berumur 14 tahun ke atas. Tidak ada batas umur maksimal, artinya selama orang Katolik itu masih mampu berpantang, usia lanjut bukanlah hambatan.

Saya belum dibaptis, apakah saya boleh menerima abu pada Rabu Abu? Bagaimana dengan anak saya, yang sudah dibaptis, tetapi belum menerima komuni
pertama?

Erna Harsono, Malang

Boleh, Ibu boleh menerima abu. Demikian juga anak Ibu yang kecil. Abu adalah ungkapan pertobatan seseorang. Pertobatan ini bisa diungkapkan oleh seorang yang sudah dibaptis maupun yang belum dibaptis.

Apakah artinya penandaan dahi dengan abu yang dilakukan pada Rabu Abu? Apakah ada dasar biblisnya? Apakah wajib menghadiri perayaan Ekaristi dan menerima abu pada Rabu Abu?

Erna Harsono, Malang

Pada Rabu Abu, tidak diwajibkan namun sungguh baik kalau kita bisa menyisihkan waktu untuk menghadiri Perayaan Ekaristi dan menerima abu di dahi. Rabu Abu tidak memperingati apa-apa selain menandai awal Masa Prapaskah atau masa puasa kita, yaitu masa pertobatan. Bertobat berarti memalingkan diri kepada Tuhan dan membuat Tuhan semakin merajai kita.

Abu adalah simbol biblis untuk perkabungan dan pertobatan. Dalam Kitab Suci, pertobatan diungkapkan dengan berpuasa, mengenakan kain karung atau mengoyakkan pakaian, duduk di tanah dan abu, dan mengurapi dahi dengan tanah atau abu (bdk 1 Sam 4:12; 2 Sam 13:19; 15:32). Abu juga menyimbolkan kematian. Maka, abu mengingatkan akan kerapuhan kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang terbuat dari debu. Karena itu, imam mengingatkan kita: ”Ingatlah, manusia, bahwa engkau terbuat dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Peringatan ini menggemakan kata-kata Allah kepada Adam (Kej 3:19; bdk Ayb 34:15; Mzm 104:29; Pkh 3:20). Pada upacara pemakaman juga dikatakan, ”Tanah akan kembali menjadi tanah, debu akan kembali menjadi debu.” Kata-kata ini mengingatkan kita pada kata-kata Allah kepada Adam (Kej 3:19) dan pengakuan Abraham bahwa dirinya bukanlah apa-apa selain tanah dan debu (Kej 18:27).

Dalam Kitab Suci, penandaan di dahi adalah simbol dari kepemilikan. Dengan menerima tanda salib di dahi, seseorang menunjukkan bahwa dia adalah milik Yesus Kristus, yang wafat di salib. Penandaan dengan salib ini meniru pemberian tanda atau meterai rohani yang dilakukan pada waktu kita dibaptis. Tanda itu berarti
pembebasan dari perbudakan dosa dan setan. Sebaliknya, kita kemudian dijadikan milik Kristus (Rom 6:3-18). Penandaan pada dahi ini sesuai dengan gambaran dalam Kitab Wahyu: ”Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami di dahi mereka” (Why 7:3). Teks lain untuk penandaan di dahi ialah ”Dan aku melihat: sesungguhnya Anak Domba berdiri di Bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Why 14:1). Hal ini berbeda secara kontras dengan para pengikut binatang itu, yang mempunyai tanda angka 666 pada dahi atau tangan mereka.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 10 Tanggal 8 Maret 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*