Artikel Terbaru

Larut dan Memberi Rasa

Seorang Suster ALMA menyuapi anak penderita hidrosefalus.
[NN/Dok.ALMA]
Larut dan Memberi Rasa
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comMereka tak selalu berjubah dan tinggal di biara. Spirit dan karya mereka nyaris tak beda dengan para biarawati, bak garam, larut dan tak terlihat, memberi rasa bagi masyarakat.

Tsunami menghantam “Tanah Rencong”, 12 tahun silam. Pemukiman penduduk porak-poranda diterjang air bah. Ribuan jasad bergelimpangan di atas tanah. Kondisi jenazah-jenazah itu amat mengenaskan. Organ tubuh mereka tak lagi utuh. Bau anyir segera menyeruak, menusuk indera penciuman.

Para korban tak selamat itu segera diangkat, dibersihkan, dan dimakamkan oleh para relawan dari seluruh penjuru Nusantara. Satu dari sekian banyak relawan itu adalah Sr Macaria Theresia Laiyan ALMA. Orang takkan mengenali profesi perempuan kelahiran Saumlaki, Maluku, 24 Mei 1974 itu. “Saya berpakaian layaknya wanita Aceh, memakai jilbab,” tulis Sr Risye, sapaannya, dalam surat elektronik, Rabu, 30/11.

Karya kemanusiaan Sr Risye itu merupakan pengalaman perdana. Dua pekan sebelum bencana alam terjadi, suster yang kini menjadi prokurator Institut Sekulir Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) dan Sekretaris Yayasan Bhakti Luhur ini mengikrarkan kaul terakhir. “Saya merasa dipakai Tuhan karena mengabdikan diri dalam kondisi itu,” imbuhnya.

Teladan Pendiri
Karya kemanusiaan yang dihidupi Sr Risye beranjak dari teladan, semangat, dan harapan pendiri ALMA Romo Paul Hendrikus Janssen CM. Tiba di Puhsarang, Kediri pada 1951, Romo Janssen menyaksikan kondisi masyarakat sangat memprihatinkan; banyak orang miskin, cacat, dan sakit. Mereka nyaris tak tersentuh bantuan tenaga pastoral dan medis. Mereka juga tak sanggup mengobati diri sendiri karena terbentur biaya. Situasi itu memantik perhatian Romo Janssen. Bagi imam kelahiran Venlo, Belanda, 29 Januari 1922 ini, membantu orang sakit, tak hanya dengan kasih sayang, tapi dibutuhkan wujud nyata kasih yakni obat-obatan.

Romo Janssen pergi-pulang Kediri-Surabaya untuk membeli obat bagi orang sakit. Ia juga belajar medis dari para dokter di Belanda agar bisa turun tangan mengobati masyarakat. Ia pun mengumpulkan dokter dan awam untuk membantu karyanya. Kejadian itu merupakan cikal bakal kelahiran ALMA.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*