Artikel Terbaru

Pacaran dan Hidup Berkeluarga

[blogs.citypages.com]
Pacaran dan Hidup Berkeluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pacaran adalah suatu proses yang pada umumnya mengawali hidup perkawinan atau hidup berkeluarga. Pada masa pacaran terkadang terlupakan hakikat utamanya yaitu untuk saling mengerti secara pribadi dan memahami budaya, adat istiadat suku, kebiasaan-keadaan keluarga masing-masing pihak maupun karakter pribadi sang pacar. Permasalahan dan kehendak membangun hidup berkeluarga tersebut terjadi pada diri Saudari FD, yang dikirimkan kepada Majalah HIDUP pada minggu ke dua Oktober 2010 seperti yang diungkapkannya sebagai berikut :

Perkenalkan nama saya FD. Usia saya 27 tahun. Saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang berasal dari Medan yang berusia 28 tahun. Kami berencana menikah tahun depan, tetapi keluarga saya keberatan dikarenakan pacar saya berasal dari suku Batak, bukan dari Solo. Orangtua saya mempunyai pendapat kalau orang dari suku Batak itu kasar. Yang ingin saya tanyakan:
Apabila saya mau menikah, apakah bisa diwakil1. kan?
Jalan terbaik apa yang harus saya lakukan?2.

Trims (FD)

Apa yang disampaikan oleh Saudari FD tersebut di atas adalah sangat dangkal, singkat dan banyak aspek yang belum terungkap, seperti : (1) sudah berapa lamakah FD dan pacarnya telah berpacaran? (2) sejauh mana mereka berdua saling memahami? (3) sejauh mana intensifitas mereka berpacaran? (4) sang pacar masih kuliah atau sudah bekerja? sebagai apa? (5) apakah keluarga kedua pihak sudah pernah saling bertemu?; (6) apakah rencana pernikahan sudah diketahui oleh masing-masing keluarga? (7) sejauh mana orangtua mengenal sang pacar? (8) apa saja alasan orangtua keberatan memiliki menantu orang dari suku lain? serta beberapa pertanyaan yang mungkin akan muncul berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas.

Berdasarkan hal yang sangat singkat itulah diusahakan untuk memberikan gambaran, dan tentunya dengan harapan dapat memberikan pemahaman kepada Saudari FD dan pembaca.

Makna Pacaran
Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Endarmoko, 2006) kata pacar berarti belahan diri/belahan jiwa; biji/cahaya mata; buah/bunga hati; emas tempawan; serta gacoan. Makna dari berpacaran adalah bercintaan, bercumbuan, berduaan, berkasih-kasihan, bersuka-sukaan.

Berdasarkan pengertian tersebut maka dapatlah dimengerti bahwa pacar adalah belahan hati, belahan jiwa. Karena itu masa berpacaran fungsi utamanya adalah memahami dengan sungguh-sungguh apakah pacar tersebut adalah benar-benar belahan hati atau belahan jiwa atau tidak.

Setiap tahap perkembangan dalam hidup manusia selalu memiliki “tugas-tugas” tersendiri. Tugas utama masa pacaran adalah : (1) Lebih saling mengenal satu dengan yang lain antara pria dan perempuan, memahami sikap positif maupun negatif, bagaimana cara sang pacar menghadapi masalah, bagaimana reaksinya menghadapi tekanan, serta bagaimana sikap pacar terhadap orangtua. Berdasarkan tugas ini maka sudah seharusnya dalam masa pacaran tidak hanya diisi dengan hal-hal yang “fun” saja, tetapi juga diisi dengan saling membuka dan mengenali perilaku, perasaan dan cara berpikir masing-masing; (2) Mempersiapkan diri kedua belah pihak untuk siap menikah dan membangun kehidupan berkeluarga. Perlu disadari oleh pihak pria maupun perempuan bahwa hidup berkeluarga bukanlah sesingkat masa pacaran, namun jauh lebih lama. Bahkan beberapa pasangan bisa merayakan pesta emas yang berarti pula hidup perkawinan mereka mencapai usia 50 tahun. Karena itu jangan korbankan masa kehidupan keluarga yang puluhan tahun dengan masa pacaran yang hanya hitungan jari saja lamanya. Jangan pertaruhkan hidup keluarga dengan kesalahan pilih pasangan hidup dalam masa pacaran. Apabila selama pacaran teridentifikasi bahwa sang pacar memiliki perilaku dan sikap yang tidak dapat diterima, maka sebaiknya peralihan ke jenjang pernikahan perlu dipikirkan dengan amat sangat matang.

Makna Hidup Berkeluarga
Masa berpacaran adalah berbeda dengan masa hidup berkeluarga. Hidup berkeluarga pada umumnya diawali dengan pernikahan. Apabila selama pacaran masing-masing pihak masih dapat mengontrol atau menyembunyikan hal-hal yang negatif, dalam hidup berkeluarga di mana keduanya hidup bersama lambat laun segala hal negatif yang tersembunyi akan terungkap, yang bisa mengejutkan pihak lain.

Sebuah pohon yang hidup dan sehat harus tetap hidup, tumbuh dan berkembang menjadi besar dengan cabang-cabang semakin banyak dan menghasilkan buah. Sejalan dengan semakin besarnya pohon, maka akarnya semakin panjang dan masuk semakin dalam ke dalam tanah agar mampu menghidupi dan menopang tegaknya sang pohon.

Kehidupan berkeluarga dapat diibaratkan sebagai sebuah pohon. Dahan bercabang-cabang dengan daun yang lebat mengibaratkan keadaan keluarga yang tenang dan damai bahkan dapat menjadi tempat berteduh bagi orang lain. Keluarga yang tenteram dan bahagia biasanya juga menjadi contoh yang baik bagi anggota masyarakat di lingkungannya dan menjadi tempat berkeluh kesah bagi keluarga di sekitarnya. Akar adalah lambang dari sikap untuk melayani, suami-istri selayaknya berlomba saling melayani. Akar yang semakin panjang dan semakin dalam mengibaratkan relasi yang semakin dalam, semakin memahami, semakin kuat sikap melayani antara suami istri, sekaligus menggambarkan kemampuan mencari penghidupan bagi keluarga tersebut. Karena itu ada kepercayaan di dalam masyarakat bahwa mereka yang sukses dalam karya pada umumnya, memiliki keluarga yang baik pula, serta lingkungan keluarga besar yang kondusif. Lingkungan masyarakat sekitar dan keluarga besar bukanlah semak belukar serta benalu-benalu yang menghambat, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan sang pohon.

Permasalahan FD
Kembali kepada permasalahan yang dihadapi FD, khususnya pertanyaan nomor satu. Itu dapat dijawab dengan mudah bahwa menikah sudah pasti tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Menikah adalah niat dan tekad pribadi. Sudah selayaknyalah yang memiliki niat dan tekad itulah yang harus melakukannya. Lebih jauh lagi, pernikahan adalah juga urusan pemerintah, sehingga mereka yang menikah pada umumnya akan dicatat suatu institusi pemerintah. Hal kedua ini semakin mempertegas bahwa perkawinan tidak dapat diwakilkan karena harus menandatangani surat nikah.

Pertanyaan kedua dari Saudari FD adalah apa yang harus dilakukannya. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dipertanyakan terlebih dahulu tentang sejauh mana orangtua mengenal sang pacar. Orangtua yang mengatakan bahwa orang-orang dari suku sang pacar adalah kasar, itu sebuah prasangka dan belum tentu benar. Prasangka pada umumnya disebabkan belum mengenal secara mendalam orang yang berprasangka terhadap orang yang menjadi obyek. Orangtua perlu disadarkan dan diberi contoh bahwa setiap suku selalu memiliki orang dengan karakter yang bervariasi, ada yang lembut dan ada pula yang kasar. Perlu disampaikan bahwa adat istiadat setiap suku memang berbeda. Perlu pula digambarkan kepada orang tentang keadaan keluarga sang pacar. Orangtua FD tampaknya mempertimbangkan dengan kuat tentang aspek-aspek siapa, bagaimana dan status orangtua sang pacar. Karena itu perlu disampaikan dan diyakinkan kepada orangtua FD segala hal tentang diri sang calon menantu.

Di sisi lain perlu dipertanyakan kepada Saudari FD sendiri apakah ia telah mengenal budaya dan adat istiadat dari sang pacar. Setiap suku memiliki tuntutan yang berbeda yang terkait dengan budayanya sendiri, dan kegagalan memenuhi tuntutan tersebut dapat mengakibatkan sesuatu yang tidak mengenakkan selama hidup berkeluarga.

Perlu disadari oleh FD bahwa perkawinan di Indonesia bukan hanya perkawinan antara laki-laki dan perempuan namun melibatkan pula perkawinan keluarga. Menentang kehendak orangtua dan mengabaikan restu dari mereka adalah sesuatu yang secara sosial dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Hal-hal yang negatif terjadi di kemudian hari pada umumnya dikaitkan dengan hal kehendak dan restu dari orangtua. Hal terpenting dari semua tersebut di atas adalah kepercayaan bahwa Tuhan tidak akan memilihkan seorang pasangan tanpa melibatkan diri Saudari FD sendiri di dalam prosesnya. Tuhan mengetahui yang terbaik untuk Saudari FD.

Y. Bagus Wismanto

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 45 Tanggal 7 November 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*