Artikel Terbaru

Sulitkah Berbuat Baik?

[rimanews.com]
Sulitkah Berbuat Baik?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Akhir-akhir ini kita banyak dibombardir berita-berita dari berbagai sumber. Berita-berita tersebut ada yang menggembirakan dan ada yang tidak menggembirakan. Sayangnya, sebagian besar dari berita tersebut adalah berita yang sangat tidak menyenangkan. Pertikaian, pemerkosaan, penculikan, pembunuhan, pengeroyokan, mutilasi, tawuran dan masih banyak lagi. Sebagian besar karena diawali oleh rasa iri hati, dengki, cemburu, merasa diperlakukan tidak adil dan masih banyak lagi.

Tentu saja ini sangat menyedihkan karena seakan-akan kita ini tak ubahnya seperti binatang yang lebih banyak mengumbar rasa amarah dan permusuhan. Penyelesaian masalah yang kita ambil pun lebih mengedepankan emosi daripada rasio. Apakah rasa kemanusiaan kita sudah mulai meluntur? Apakah kita ini sudah mengalami degradasi eksistensi diri sebagai seorang manusia yang dianugerahi keistimewaan berupa akal budi? Begitu sulitkah bagi kita untuk bisa berbuat baik sedikit saja kepada orang lain?

Dalam hal keinginan berbuat baik, saya yakin hampir semua orang pasti menginginkan hal itu. Keinginan inilah yang menjadi dasar kemuliaan manusia. Hanya saja karena berbagai persoalan hidup yang mendera, maka keinginan tersebut kadang hanya berhenti sebagai sebuah keinginan. Berbuat baik akhirnya hanyalah sebuah ilusi yang sudah sulit untuk kita lakukan. Tak jarang pula kita berbuat baik karena memang ada motivasi di balik semua kebaikan yang telah kita lakukan. Tepat pula istilah ’ada udang di balik batu’ karena memang pada dasarnya selalu ada ’sesuatu’ di balik setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Namun apakah ini salah? Tentu saja tidak ada yang salah dari setiap perbuatan baik yang kita lakukan, baik ada motivasi atau tidak ada sama sekali.

Sebagai orangtua sendiri, sering kali ada perasaan dituntut untuk selalu menjadi teladan dari perbuatan baik yang kita lakukan sebagai contoh bagi anak-anak kita sendiri. Ini yang kadang tidak mudah karena satu perbuatan baik akan dicatat dengan sangat baik oleh anak kita, dan di saat lain kita tidak melakukannya, pasti mereka akan bertanya-tanya mengapa kita tidak konsisten. Bagi saya pribadi, untuk berbuat baik kadang begitu sulit. Selalu ada pertimbangan dan pertanyaan: mengapa harus saya, orang lain saja tidak melakukannya.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, mengapa berbuat baik saja dipersoalkan? Tidakkah ada hal lain yang lebih penting untuk dibahas atau di-sharing-kan? Bukankah berbuat baik itu sesuatu yang biasa, dan bisa dilakukan tanpa harus bertanya dan berpikir? Jika memang ini pertanyaan yang muncul di benak pembaca, jawabannya memang benar. Namun ada keresahan yang tidak kalah penting untuk direnungkan, terutama karena berbuat baik nampaknya menjadi suatu perbuatan yang begitu sulit untuk dilakukan dengan tulus. Ada beberapa hal yang kemudian menjadi bahan permenungan saya:
Kadang kita banyak berhitung untung rugi ketika hendak berbuat baik. Kalkulasi di pikiran selalu kita lakukan baik secara sadar maupun tidak sadar terutama karena berbuat baik juga membutuhkan energi baik dari sisi waktu, uang atau bahkan tenaga kita sendiri. Akhirnya kita berhitung apakah yang nanti kita dapatkan akan sepadan dengan apa yang sudah kita berikan? Lantas bagaimana solusinya? Padamkan segera kalkulasi yang kita lakukan di pikiran kita begitu kalkultator sudah kita pencet. Apa pun itu, berbuat baik pasti membutuhkan energi kita sendiri dan pasti juga membutuhkan pengorbanan, bahkan kadang tidak sedikit. Berbuat baiklah karena memang kita ingin melakukan.
Tak jarang kita sendiri merasa ’mengapa harus saya, orang lain saja tidak melakukannya’. Pertanyaan ini bisa saja muncul karena kita merasa bahwa kitalah yang harus bertanggung jawab, sementara orang lain bisa begitu cuek atau tidak pengertian.
Jika hal ini muncul dalam benak kita, ada baiknya kita berpikir bahwa memang tanggung jawab dan tugas kitalah untuk berbuat baik. Menunggu orang lain untuk melakukannya, bisa jadi akan sangat mustahil untuk terjadi. Jika kita memang bisa, mengapa tidak kita lakukan? Jika kita memang bisa, mengapa tidak kita sendiri yang melakukannya?
Kita enggan melakukannya karena kadang kita takut akan risiko yang harus ditanggung, jika memang ada risiko yang bisa terjadi. Kita mencoba menghindari segala urusan yang justru akan memperumit kita sendiri di kemudian hari,sehingga yang paling nyaman: ya tidak usah melakukan apa-apa, toh juga tidak ada konsekuensinya.
Di satu sisi hal ini benar adanya. Kadang berbuat baik tidak selalu berefek baik. Seringkali terjadi: maksudnya baik, tapi dinilai orang lain salah. Akhirnya kita sendiri yang dibuat repot. Sementara di sisi lain, apa pun konsekuensi dari perbuatan baik yang kita lakukan, sejauh kita lakukan dengan tulus tanpa pamrih, ada mata yang bisa melihat kita melakukan hal itu. Mata Tuhanlah yang akan mencatat setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Jikalau ada persoalan di kemudian hari, percayalah pasti ada solusi yang akan diberikan. Selalu ada jalan keluar dari setiap persoalan yang kita hadapi. Terlebih karena kita telah berbuat baik.
Pada hakikatnya lebih baik memberi daripada menerima adalah kata bijak yang bisa kita jadikan acuan. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan, bisa menjadi acuan kita untuk melakukan hal-hal baik di dunia. Daripada kita menunggu, mengapa tidak kita saja yang melakukan? Kepuasan batin akan kita rasakan tatkala kita telah berbuat baik. Hal itu sungguh bisa kita rasakan. Cobalah untuk tersenyum dengan orang yang telah menyakiti kita, mencermarkan nama baik kita dengan gosip-gosip tak sedap. Pastilah yang muncul dalam perasaan kita adalah rasa nyaman, rasa tenang dan rasa positif.
Jika ada orang yang telah membuat kita marah, cobalah untuk berbicara pelan dan baik dengan senyum (yang mungkin pada awalnya sangat sulit). Rasakan saja apa efek positif yang kemudian muncul dalam perasaan dan diri kita sendiri. Pasti rasa hangat yang menenangkan dan ini akan bertahan dalam jangka waktu lama.
Berkat dari setiap perbuatan baik, mungkin saja bukan kita yang akan merasakan langsung. Namun bisa jadi berkat itu akan melimpah untuk anak cucu kita, sehingga mereka dimudahkan dalam berbagai tugas dan kehidupan mereka. Bukankah ini lebih baik? Hidup dan menjadi berkat bagi sesama, berkat bagi hidup kita dan anak cucu kita. Tidak akan pernah ada ruginya, seseorang berbuat baik. Yang ada pastilah berkat yang terus ada.
Secara psikologis, berbuat baik berkaitan denganenergi positif yang kita munculkan dalam diri kita. Berbuat baik juga berarti berpikir positif dalam hidup, menyikapi hidup dengan lebih bijaksana, banyak mempergunakan akal pikiran dan tidak semata mengedepankan emosi. Kemuliaan manusia justru terletak pada bagaimana ia menyikapi hidup dengan lebih baik. Tidak mudah memang, dan saya sendiri sudah berulang kali melakukan dan mencoba, namun selalu dan selalu gagal. Meski demikian, yang sulit bukan berarti tidak bisa. Sepanjang masih ada nafas mengalir, sepanjang itu pula kita bisa berusaha. Jika bukan kita yang memulai, siapa lagi?
Secara psikologis pula, orang yang berbuat baik adalah orang yang mampu mengelola dan mengontroldirinya sendiri. Ia mampu melepaskan egonya meski sesaat dan berusaha untuk hadir dalam diri orang lain. Tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik karena dibutuhkan latihan pengendalian diri yang tidak pernah ada habisnya dan tidak pernah ada kata menyerah. Mengedepankan sebuah perilaku yang mungkin saja tidak ia inginkan, namun ia lakukan demi sesuatu yang lebih hakiki dari kepentingan diri sendiri.
Dunia sudah terlalu tua dan persoalan manusia tidak akan pernah ada habisnya. Kebaikan dan kejahatan akan selalu silih berganti mencari kekuatan. Yang pasti, dengan berusaha untuk berbuat baik, setidak-tidaknya akan menjadi berkat bagi anak cucu kita kelak. Mari mencoba…

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 42 Tanggal 17 Oktober 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*