Artikel Terbaru

Menyucikan Dunia dari Dalam

Lusiawati PRK.
[NN/Dok.Pribadi]
Menyucikan Dunia dari Dalam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAnggota institut sekulir berkarya dan menjadi bagian dari masyarakat. Mereka awam yang selibat dan diutus menyucikan dunia.

Kitab Hukum Kanonik (KHK) 710-730 dan 598-60, mengatur tentang institut sekulir. Menurut KHK 710, Institut Sekulir ialah tarekat hidup bakti, di mana umat beriman Kristiani yang hidup di dunia mengusahakan kesempurnaan cinta kasih dan juga berusaha memberikan sumbangan bagi pengudusan dunia terutama dari dalam.

Di Indonesia, terdapat tujuh institut sekulir. Ketujuhnya tergabung dalam Institut Sekulir Seluruh Indonesia (ISSI) yang dibentuk pada 7 Juni 1997. Berikut petikan wawancara dengan Ketua ISSI 2016-2019 Ibu Lusiawati PRK.

Seperti apa Ibu menggambarkan institut sekulir?

Kami itu sekelompok orang yang mempunyai cita-cita yang sama untuk melakukan kerasulan dalam pelbagai bentuk dan menjadi kepanjangan tangan Gereja melalui contoh hidup di tengah dunia. Dengan bekal kerohanian, kami bisa membagikan berkat dan melayani sesama. Maka hendaknya kehidupan masing-masing anggota tidak mencolok, tapi sederhana dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Apa latar pembentukan institut sekulir?

Dasarnya adalah KHK 710, menjadi kepanjangan tangan Gereja untuk menyucikan dunia dari dalam melalui cara hidup sesuai nilai-nilai yang kami anut. Kami memberikan contoh dan serentak melayani kebutuhan sesama di tengah masyarakat. Misi kami menjawab kebutuhan orang-orang kecil, terpinggirkan, lemah, dan miskin agar diperhatikan, dikasihi, dan dilayani.

Apakah ada kaul dan pakaian khusus?

Institut sekulir yang semi religius, misal ALMA dan SRM memiliki pakaian khusus, sementara yang lain tidak memiliki seragam. Namun itu tidak mengubah status sebagai anggota institut sekulir.

Institut sekulir memiliki tiga kaul: kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Pengucapannya sesuai ketetapan masing-masing institut sekulir. Umumnya sekali setahun ada pembaharuan kaul.

Apa beda institut sekulir dengan kongregasi?

Perbedaan yang paling mencolok tentu pakaian khusus tadi. Sebuah kongregasi pasti memiliki jubah yang khas. Sedang kami umumnya tak memiliki itu. Selain itu, mereka hidup dalam komunitas global dan memiliki biara, sementara institut sekulir hidup sebagai awam di tengah masyarakat. Suatu kongregasi juga memiliki karya berskala luas sesuai dengan visi misinya. Kami mencari nafkah sendiri, menyisihkan uang untuk kerasulan yang sesuai dengan pekerjaan kami.

Apa saja kegiatan ISSI?

Setahun sekali kami mengadakan pertemuan secara bergilir. Institut sekulir yang menjadi penyelenggara akan mengangkat tema sesuai program Keuskupan tempat mereka berkarya. Tahun ini kami mengadakan pertemuan di Muntilan, Jawa Tengah yang digelar SRM. Tema yang kami angkat “Lingkungan Hidup”. Maka di sana kami belajar pertanian organik dan hidroponik. Tahun ini, fokus ISSI adalah lingkungan hidup, termasuk pengolahan sampah. Kami melatih masyarakat memanfaatkan sampah sehingga bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka.

Selain itu kami juga mengundang imam untuk memberikan bekal rohani bagi pelayanan kami di masyarakat. Waktu pertemuan biasanya kami menunggu liburan sekolah, karena banyak anggota ISSI yang berprofesi sebagai guru. Kami juga menimbang soal kegiatan ALMA yang memiliki pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Waktu kami sesuaikan dengan waktu libur mayoritas anggota ISSI. Untuk dana pertemuan, kami biasa mendapatkan bantuan dari dana Aksi Puasa dan Pembangunan.

Harapan Ibu untuk ISSI?

Kami ingin ada pertambahan anggota di setiap institut sekulir sehingga pelayanan kami untuk Gereja dan masyarakat semakin luas dan terasa. Semoga banyak orang muda yang tertarik bergabung bersama kami.

Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 50 Tanggal 11 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*