Artikel Terbaru

Penghormatan kepada St Yusuf

Penghormatan kepada St Yusuf
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMengapa St Yusuf dihormati secara khusus, jika beliau hanya menjadi bapa pengasuh dari kanak-kanak Yesus? Malahan, beliau pernah berpikir hendak menceraikan Bunda Maria. Apa dasar penghormatan itu?

Yosefinna Belisga, Jakarta

Pertama, kebesaran St Yusuf tampak jelas, pertama-tama, perannya dalam sejarah keselamatan. Meskipun Maria mengandung bukan dari benih St Yusuf, bapa pengasuh Yesus ini memainkan peran penting dalam proses pengandungan Sang Sabda oleh Bunda Maria, yaitu dalam menerima Maria sebagai istrinya (Mat 1:24). Seandainya St Yusuf menolak mengambil Maria sebagai istrinya, maka pengandungan Yesus oleh Maria akan menimbulkan masalah dalam masyarakat Yahudi waktu itu yang sangat ketat dalam etika pergaulan. Sangat mungkin pengandungan Yesus oleh Maria akan disangkakan sebagai hasil perzinahan sehingga pribadi Maria dan kehadiran bayi Yesus akan dicap sebagai pelanggaran hukum Allah. Maka, terjadilah penolakan masyarakat sejak awal dan ini akan mempersulit jalannya misi keselamatan Yesus.

Jadi, penerimaan St Yusuf atas Maria sebagai istrinya memperlancar proses penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia, dan selanjutnya, juga memuluskan penerimaan masyarakat atas kehadiran Yesus sebagai anak Yusuf. Secara pribadi, penerimaan St Yusuf ini tidak terjadi secara mudah. Matius menggambarkan pergulatan batin St Yusuf yang hendak menceraikan Maria, tetapi kemudian dibatalkan karena intervensi malaikat Tuhan (Mat 1:18-24). Harga diri, emosi dan pertimbangan-pertimbangan lain ditundukkan pada kehendak Allah. Sebagai “orang yang tulus hati” (Mat 1:19), St Yusuf tetap taat pada kehendak Allah dan menerima Maria sebagai istrinya dan Yesus sebagai anaknya. St Yusuf melanjutkan pernikahannya dengan Maria. Dengan demikian, St Yusuf “menutupi” misteri pengandungan Maria (Mat 1:20) dan memperlancar proses penebusan umat manusia.

Kedua, dengan menerima bayi dalam kandungan Maria sebagai anaknya, St Yusuf juga mengakui Yesus sebagai keturunannya secara yuridis, yaitu dengan tindakan memberi nama pada bayi itu (Mat 1:25). Tindakan memberi nama adalah tindakan kebapaan yang mengakui anak itu sebagai anaknya. Dengan demikian, karena St Yusuf berasal dari keturunan Daud, maka Yesus disebut berasal dari keturunan Daud. Jadi, melalui kerelaan St Yusuf, janji Allah bahwa Mesias akan dilahirkan dari keturunan Daud, terpenuhi dalam diri Yesus.

Ketiga, St Yusuf juga memainkan peran penting secara sosial dan insani dalam mengasuh, mengasah, dan mengasihi Yesus. St Yusuf menyertai Yesus pada tahap-tahap awal hidup Yesus. Secara emosional, sosial dan yuridis, St Yusuf menjadi ayah manusiawi Yesus. Masyarakat mengakui St Yusuf sebagai bapa Yesus (Luk 3:23; 4:22; Yoh 6:42). Secara manusiawi, konsep tentang bapa dan relasi dengan bapa diperoleh Yesus dalam relasinya dengan St Yusuf.

Penelitian psikologis mengatakan bahwa anak-anak yang dekat dan banyak bergaul dengan ayah mereka, memiliki kemudahan untuk bergaul dengan orang-orang dewasa. Diskusi Yesus dengan para alim ulama di kenisah (Luk 2:46) dan kemudahan-Nya untuk bergaul dengan orang-orang terkemuka di Israel, menunjukkan peran St Yusuf dalam pertumbuhan kanak-kanak Yesus dan pembentukan kepribadian Yesus.

Keempat, selain peran yang dilakukan St Yusuf, pribadinya sendiri digelari oleh Matius sebagai “orang yang tulus hati”. Ini berarti, St Yusuf adalah seorang yang mengikuti jalan Tuhan, menghormati karya Tuhan, dan mau mengorbankan apapun untuk Tuhan. St Yusuf siap melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Ketulusan hati St Yusuf ini dibuktikan dalam berbagai peran yang diuraikan di atas. Peran-peran itu tidak lepas dari tuntutan untuk berkorban dan keberanian untuk mempercayakan diri secara penuh kepada Allah dan rencana-Nya. Ketulusan hatinya sudah teruji dan terbukti memperlancar proses penebusan umat manusia. Karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati St Yusuf, bapa pengasuh Yesus.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 50 Tanggal 11 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*