Artikel Terbaru

Penggangu Rumah Tangga

Penggangu Rumah Tangga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo Erwin, dua tahun belakangan ini, saya menjalin hubungan terlarang dengan perempuan yang telah bersuami dan memiliki dua anak. Relasi kekasih saya dengan suaminya pun tak beda jauh dengan saya, sama-sama renggang dengan pasangannya. Saya telah pisah rumah dengan istri; sementara ia masih serumah dengan suaminya. Terus terang hubungan kami sudah amat jauh.

Saya dan dia tak canggung untuk sekadar saling menggoda di comment facebook atau bertukar swafoto. Saya merasa hubungan saya dengan dia sudah diketahui oleh orang di kantor. Ada kekhawatiran hubungan kami mengancam karier saya di kantor. Tetapi saya akui, saya butuh perhatian dan kasih sayang darinya. Mohon bantuan Romo atas hal yang saya alami.

Alexander Sutanto, Bekasi

Saudara Alexander yang sedang bingung, segala sesuatu yang dilarang pasti membawa perasaan salah dan kacau. Jika kita yakin bahwa perbuatan itu terlarang, setiap kali melakukannya kita akan merasa bersalah dan berdosa. Perasaan ini pasti cepat atau lambat sangat mengganggu, tetapi justru kita nikmati.

Perselingkuhan adalah kata yang paling tepat untuk Anda berdua. Anda sudah mengerti perbuatan itu dilarang oleh Gereja dan salah secara moral. Jika ada kata-kata kasar ditujukan untuk Anda, maka Anda dikatakan sebagai pengganggu rumah tangga orang lain. Tentu ini semakin salah dan memalukan. Kalian menutup kelemahan diri dengan kelemahan lain. Kalian berdua menutup persoalan dengan persoalan baru.

Anda seharusnya belajar menyelesaikan dulu masalah di dalam rumah tangga yang Anda bangun. Meskipun Anda telah berpisah rumah, tidak berarti Anda sudah bercerai, bukan? Anda ditantang untuk membuka kemungkinan mengembalikan hubungan yang rusak dengan rekonsiliasi atau usaha rujuk yang sangat suci. Menurut saya, Anda justru kurang peduli dengan masalah sendiri dan mengabaikan dengan membuat skandal baru.

Jatuh cinta tidak salah, tetapi mewujudkan rasa itu kepada orang yang tidak tepat adalah tindakan yang bisa diatur. Tidak semua rasa cinta harus diekspresikan, apalagi kepada istri orang lain. Kebutuhan itu sebenarnya bisa dikendalikan, jika kita sadar ada bahaya besar dan risiko yang harus ditanggung karena pemenuhan kebutuhan itu.
Anda membutuhkan pendamping atau orang yang seharusnya dikasihi. Anda sudah mendapatkannya dalam diri istri Anda, meskipun saat ini Anda sedang bermasalah dengannya.

Temui konselor perkawinan, Romo Paroki, atau orang yang dianggap berkemampuan untuk menolong Anda secara positif. Jangan mencari orang “senasib” karena bisa jadi nasihatnya terikat dengan masa lalunya sendiri. Pikirkanlah nasib orang lain, seperti anak-anak, suami, istri, dan masyarakat. Saya yakin Anda cukup beriman mengatasi persoalan ini. Saya senang Anda mau berkonsultasi iman. Itu saja sudah menjadi harapan baik.

Hubungan seksual membawa dampak negatif dan bukan cinta. Hubungan seksual dalam situasi tertekan dan khawatir hanya akan menaikkan gairah sesaat karena adanya “tantangan”. Terbaik justru menyelesaikan segala-galanya dengan bijaksana. Jika memang perkawinan kalian tidak dapat dilanjutkan, ini saat untuk merenung, “Bagaimana aku dapat melanjutkan hidup dengan damai tanpa melukai hati orang lain, termasuk anak-anak yang tak berdosa?”

Saudara Alexander, berjuanglah untuk sesuatu yang lebih baik, demi suatu maksud yang kekal, keselamatan yang tak akan dihancurkan oleh rasa takut dan khawatir. “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1Kor 9:25).

Mari merenungkan, mari berjuang untuk mengatasi hidup yang baik ini. Jangan berjuang sendiri. Berilah pengertian pada “kekasih”-mu itu perlunya menghentikan semua ini. Menyelesaikan adalah jika kita mulai membiarkan Tuhan mengatur melalui hati nurani dan firman yang meneguhkan langkah.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 50 Tanggal 11 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*