Artikel Terbaru

Mempersiapkan Perkawinan

[truroanglican.com]
Mempersiapkan Perkawinan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perkawinan adalah sebuah bagian dari proses penting dalam rentang hidup manusia. Sedemikian pentingnya hingga Gereja Katolik mempersiapkannya secara khusus dalam Kursus Persiapan Perkawinan. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa persiapan secara khusus dan dirancang khusus ini bisa dikatakan sangatlah singkat, sehingga tidak heran banyak pro dan kontra.

Tidak sedikit orang beranggapan, tidaklah mungkin mempersiapkan sebuah perkawinan hanya dalam hitungan jam saja, namun sesingkat apa pun, perhatian Gereja tetaplah merupakan sebuah bentuk usaha yang sistematis dan terstruktur bagi tiap pasangan yang hendak menempuh proses ini.

Tentu saja kelulusannya tetaplah penting agar bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu pemberkatan pernikahan.

Dalam konteks psikologi, perkawinan adalah salah satu bagian dari tugas perkembangan manusia dewasa. Dalam pandangan Erikson, tokoh penting psikologi perkembangan, perkawinan menjadi sebuah tugas yang akan dilalui dan ditempuh oleh tiap manusia. Proses ini akan diawali dengan proses pengenalan dalam sebuah bentuk pacaran, yang kemudian akan naik ke jenjang yang lebih intim sebagai sebuah ikatan kebersamaan yang semestinya tidak akan lekang dimakan waktu. Namun kenyataannya, terpaan hidup, beban, dan berbagai godaan mengandaskan bahtera yang mungkin telah melalui perjalanan panjang menempuh berbagai onak dan duri kehidupan. Toh akhirnya, perpisahan menjadi salah satu bentuk keputusan yang dipandang penting diambil untuk menyelamatkan siapapun yang berada dalam bahtera tersebut.

Lantas, pertanyaannya, sudahkah perkawinan dipersiapkan sedemikian rupa? Sudahkah pacaran dijalani dengan sungguh? Sudahkah mengenal siapa yang menjadi pasangan kita? Inikah jodoh kita? Inikah jalan yang memang sudah digariskan dari sana? Dan, berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi datang, membanjiri benak kita, hingga akhirnya kita sendiri berada di bibir jurang dan siap menerjunkan diri kita sendiri.

Kesemua itu memang tidak akan bisa lepas dari sejauh mana kita mempersiapkan perkawinan dengan matang. Meski proses setelah itu menjadi bagian dari cerita panjang yang mungkin akan menghiasi kehidupan kita selanjutnya. Namun, tidak ada salahnya mencoba merefleksikan kembali semua persiapan yang mungkin saja penting dan bisa menjadi bahan sharing bagi siapapun yang hendak memasuki bahtera perkawinan. Mungkin ini adalah kali kesekian topik ini dibahas, namun tidak ada salahnya ditulis kembali sebagai bentuk refresh pengetahuan dan pemahaman bagi siapapun.

• Pertama-tama adalah mempersiapkan mental. Kita semua tentu saja tahu bahwa persoalan mental adalah bagian yang terpenting dalam membentuk satu mental set tentang perkawinan dan berbagai pernak-pernik yang akan melandasinya. Tak jarang orang menikah hanya sekadar bermodal nekat serta ‘sudah terlanjur’. Hal ini terjadi karena berbagai kemungkinan seperti sudah hamil terlebih dahulu, sudah berpacaran terlalu lama hingga orangtua sudah mengejar-ngejar untuk segera mengakhiri dalam bentuk ikatan resmi, jengah karena sudah menjadi bahan pembicaraan tetangga, karena faktor usia yang makin menua, dan berbagai alasan. Karena itu, akhirnya sebatas nekat, yang penting ada status. Tentu saja ini akan menjadi sangat rentan terhadap berbagai problem yang nantinya akan muncul. Membangun mental set sebenarnya membangun satu bagian kesadaran dalam diri sendiri bahwa akan ada berbagai konsekuensi yang nantinya akan muncul menyertai keputusan yang telah diambil. Kesadaran ini akan membangun sebuah tanggung jawab dan komitmen internal yang akan dipegang untuk selamanya.

• Persiapan psikologis. Persiapan ini mencakup kematangan emosi, kedewasaan diri, dan keberanian menempuh berbagai risiko dan konsekuensi yang nantinya menyertai. Kematangan emosi penting karena hal ini berkaitan pada sejauh mana kita mampu mengelola emosi kita secara matang dari berbagai tekanan yang pasti akan muncul. Emosi yang labil serta kurang matang dan kekanak-kanakan hanya akan membawa berbagai konflik antarpihak. Seseorang yang tidak matang emosi sangat mudah terkena berbagai risiko stres serta tidak mampu mengelola stres tersebut dengan efektif dan bijaksana.

• Kedewasaan diri adalah ciri pribadi yang mampu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Perkawinan pada dasarnya adalah sebuah pilihan hidup. Pilihan ini diambil secara sadar sebagai orang dewasa. Kesadaran yang dewasa adalah sebuah bentuk pilihan yang akan menanggung berbagai konsekuensi atas pilihan tersebut. Seseorang yang mampu menanggung konsekuensi ini tidak akan melemparkan setiap bentuk kekurangan atau bahkan kesalahan kepada orang lain, tidak akan mencari kambing hitam jikalau mengalami kesulitan atau tekanan hidup. Kedewasaan diri bisa kita pelajari dengan membangun diri kita melalu berbagai proses pengenalan dengan orang lain, memperluas pergaulan, menambah wawasan, tidak malu belajar dan bertanya, serta yang terpenting membuka diri sendiri terhadap berbagai kritik dan masukan orang lain.

• Persiapan finansial. Persiapan finansial akan membawa kita pada kematangan finansial. Tentu saja perkawinan akan membawa tanggung jawab finansial karena perkawinan akan melibatkan orang lain dan kemungkinan kehadiran makhluk baru yang memang dipercayakan kepada kita. Memiliki pekerjaan tetap dengan sumber pendapatan yang bisa diharapkan secara rutin akan memberi keamanan finansial. Adanya keamanan finansial akan memperkecil risiko konflik yang disebabkan masalah ekonomi. Penting juga dipersiapkan dialog antar pasangan tentang kemungkinan pengelolaan finansial serta tanggung jawab lain yang kemungkinan harus kita pikul, seperti menyokong pendidikan saudara, membantu orangtua secara finansial, dan sejenisnya. Keterbukaan sejak awal tentang hal ini akan mengurangi kecurigaan antarpasangan yang bisa berujung pada pertentangan antar keluarga inti maupun keluarga besar.

• Pemahaman tentang arti perkawinan. Membangun motivasi perkawinan yang tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan untuk melanjutkan keturunan. Kegagalan perkawinan salah satunya juga dipicu oleh ketiadaan momongan dalam keluarga. Hal ini bisa terjadi karena kesalahan konsep tentang tujuan perkawinan. Hampir semua pasangan mengawali perkawinan dengan sebuah harapan besar akan mendapatkan momongan. Tentu saja ini akan menjadi sumber frustrasi dan kekecewaan tatkala tidak dikaruniai
momongan. Pemahaman perkawinan akan lebih baik jika diawali dengan sebuah tujuan
untuk saling membahagiakan. Jika konsep ini telah dilekatkan dengan kuat dalam diri kita, maka ada tidaknya momongan tidak akan mengganggu tujuan perkawinan. Saling membahagiakan adalah sebuah tujuan yang perlu dipegang teguh karena perkawinan adalah satu untuk selamanya.

• Akhirnya di atas segalanya, perkawinan adalah anugerah, sebuah pilihan dan jalan hidup, sebuah media untuk mencapai kehidupan yang lebih hakiki sebagai manusia dewasa. Tujuan hidup manusia bisa dicapai dengan banyak cara, dan perkawinan adalah salah satunya. Pada saat kita memutuskan cara inilah yang kita ambil, maka pada saat itulah kita mengamini sebuah proses panjang yang akan kita lalui. Berbagi hidup baik kebahagiaan dan kesedihan denganpasangan adalah sebuah jalan untuk membebaskan diri sendiri dari berbagai risiko konflik yang tentu saja akan menyertai sepanjang hidup perkawinan.

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 14 Tanggal 4 April 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*