Artikel Terbaru

Suami Mengkhianati Perkawinan

[sg.theasianparent.com]
Suami Mengkhianati Perkawinan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yth, saya sangat sakit hati karena suami saya mengkhianati perkawinan kami. Suami saya mengakui bahwa perbuatannya itu sudah salah besar dan sudah meminta maaf kepada saya. Saya benar-benar trauma dengan kejadian itu, dan saya tidak bisa melupakan perbuatan suami saya. Apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus memaafkan suami saya dan memulai lembaran baru? Terima kasih.

Theresia, Pemalang

Dalam kehidupan, bisa saja seseorang melakukan kesalahan. Yang penting dari hal ini adalah apakah orang yang telah melakukan kesalahan itu mau menghentikan tindakannya yang salah, mau menghentikan kesalahannya, mau mengoreksi dampak kesalahan dan memperbaiki diri. Bila jawabannya adalah ”ya”, maka ia boleh mendapat pengampunan atau maaf. Dalam kasus Ibu Theresia ini, tampaknya suami sudah mau menyadari kesalahan yang ia lakukan dan sudah meminta maaf, tetapi belum jelas apakah ia mau menghentikan pengkhianatannya dan memperbaiki diri.

Ibu Theresia sendiri juga perlu melakukan introspeksi diri, untuk menilai ‘seberapa besar sumbangannya’ pada peristiwa pengkhianatan tersebut, karena biasanya dalam kasus semacam ini, baik disadari atau tidak disadari, pihak isteri juga ’memberi sumbangan’ pada perselingkuhan yang dilakukan suaminya. Perselingkuhan biasa berangkat dari adanya kekurangan yang dialami seseorang dalam kehidupan berumah tangga, sehingga ia ’mencari kekurangan’ itu pada orang lain.

Maka, dalam kasus semacam ini, saling meminta dan memberi maaf adalah hal yang penting sebagai penyelesaian. Bagi si penerima maaf, hal ini bisa berarti ada kesempatan baru untuk membuktikan perbaikan diri di masa mendatang. Sedang bagi si pemberi maaf, ini berarti melakukan rekonsiliasi diri dan melepas beban yang tidak perlu, karena membenci orang lain akan memberi beban perasaan tidak enak, bahkan menyakitkan bagi si pembenci.

Memaafkan adalah cara untuk melepaskan diri dari beban dan rasa sakit semacam itu.Menghilangkan ingatan akan peristiwa semacam ini jelas bukan hal yang mudah dan makin keras berusaha, maka akan makin sulit untuk bisa melupakan. Hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban ingatan semacam itu adalah dengan mengganti dengan ingatan atau kenangan akan kebaikan atau nilai positif dari suami. Dengan mengingat nilai-nilai positif, maka Ibu bisa menimbang-nimbang atau mengingat kembali mengapa dulu Ibu mau menerima suami menjadi pasangan hidup.

Pengasuh yth, saya seorang pria telah menikah secara Katolik. Sebenarnya saya menikah bukan demi cinta, melainkan demi status. Lambat laun, saya merasa ada yang salah dengan keputusan saya, sekaligus tidak nyaman dengan pernikahan saya. Lalu, apa yang sebaiknya saya lakukan?

NN, Jember

Kita semua tahu bahwa pernikahan Katolik bersifat tak terceraikan dan monogami; dan hal inilah yang sekarang sedang mengusik Saudara yang sudah terlanjur menikah, tetapi tidak merasa nyaman dengan pernikahan yang dijalani. Tampaknya saat ini Saudara seperti merasa ’nasi sudah menjadi bubur’ dan tidak tahu harus bagaimana dengan keadaan ini.

’Nasi yang sudah menjadi bubur’ ini tidaklah harus dibuang. Yang perlu Saudara pikirkan sekarang adalah: bagaimana cara membuat bubur ini menjadi enak untuk dinikmati, bukan untuk Saudara saja, melainkan juga untuk isteri. Untuk mengubah bubur ini supaya menjadi enak adalah mencari apa yang positif dari ’bubur’ tersebut. Hal-hal positif yang dulu menyertai pengambilan keputusan untuk menikah, karena pernikahan tentu tidak hanya didasarkan pada satu alasan saja. Pasti ada hal positif yang menyertainya. Bisa juga hal positif itu adalah hal-hal yang muncul setelah pernikahan berlangsung.

Selain hal-hal positif yang menyebabkan ’bubur’ masih bisa dinikmati, perlu juga dicari ’bumbu penyedap’ yang akan membuat bubur itu lebih nikmat.

Maka dari itu, cobalah untuk selalu menciptakan suasana yang bisa membawa romantisme dalam kehidupan bersama pasangan.

Drs George Hardjanto M.Si

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 39 Tanggal 23 September 2012

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*