Artikel Terbaru

Beato Marie-Eugène Grialou dari Kanak-kanak Yesus (1894-1967): Pelindung Institut Sekulir

Beato Marie-Eugène Grialou menandatangani prasasti pendirian komunitas Suster NDV di Kota Quezon, Filipina tahun 1945.
[sewww. NDVphilippines.co.id]
Beato Marie-Eugène Grialou dari Kanak-kanak Yesus (1894-1967): Pelindung Institut Sekulir
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa jatuh cinta pada spiritualitas Karmelit, khususnya teladan hidup St Theresia Lisieux. Inilah motivasinya mendirikan Institut Sekulir Sustersuster Notre Dame de Vie (NDV).

Seorang lelaki muda lagi asyik membaca di sebuah ruangan biara Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD). Di lantai ruangan itu, buku berserakkan di mana-mana. Buku-buku itu hampir semua tentang orang kudus yang secara khusus dihormati para Karmelit, seperti St Theresia Lisieux, St Yoakim dan St Anna, St Maria Bunda Karmel, Nabi Elia dan Nabi Elisa, serta St Yohanes dari Salib. Kegemarannya membaca buku khas Karmelit kadang membuatnya lupa akan rutinitas biara.

Demikian secuil kisah Beato Marie Eugène, saat menjalani masa pembinaan sebagai calon imam di Biara Karmelit Avon, Perancis. Kecintaan pada OCD membuatnya sering dijuluki “Lisieux Kedua”. Spiritualitas Karmelit ini juga mendorongnya untuk mendirikan Institut Sekulir.

Pekerja Kasar
Eugène adalah anak bangsawan berdarah Perancis. Ia lahir dengan nama Hendri Grialou pada 2 Desember 1894 di Rouergue, Perancis. Rouergue adalah kawasan elit yang sebagian besar penghuninya bangsawan. Kini kota ini terkenal sebagai penghasil keju Bleu des Causses, ‘keju biru dari susu sapi’.

Sebagai anak bangsawan, masa kecil Hendri sangat dimanjakan sang ayah. Apa pun keinginannya selalu dituruti. Tapi kondisi itu berubah kala ia berusia 10 tahun. Saat itu ayahnya meninggal. Kepergian sang ayah mendatangkan kepedihan di hati Hendri.

Setelah ayahnya meninggal, sang ibu menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah. Karena bukan trah bangsawan, ibunya sadar untuk tidak banyak berharap pada harta warisan suaminya. Sayang, perjuangan sang ibu tak bertahan lama. Kesehatannya terus terganggu. Hendri tak tega melihat kondisi ibunya yang lemah dan sakit-sakitan sehingga ia harus membantu menafkahi keluarga.

Sebagai anak pertama, Hendri tak mau dianggap anak bangsawan. Saat usianya genap 15 tahun, ia sudah bekerja sebagai tukang besi. Lalu ia beralih kerja di pabrik keju; dan pindah lagi bekerja di tambang tembaga. Ia juga pernah bekerja di rumah tetangga, asal bisa mendapatkan uang. Masa remaja Hendri dihabiskan dengan kerja keras.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*