Artikel Terbaru

Politik dan Kerahiman Allah

Politik dan Kerahiman Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tahun Kerahiman Allah ditutup pada 20 November lalu. Meskipun demikian, Kerahiman Allah akan selalu mengalir. Karena itu lah kita semua diajak selalu mengalirkan Kerahiman Allah di tengah praksis sosial. Ada banyak sarana yang dapat digunakan untuk menjabarkan kerahiman tersebut, salah satunya adalah politik. Dalam tulisan ini, saya coba mengelaborasi sejauh mana politik bisa menjadi sarana menjabarkan Kerahiman Allah di tengah kehidupan.

Sakralitas Politik
Politik pada dasarnya sakral. Dikatakan demikian karena politik sesungguhnya merupakan sarana memanifestasikan hal-hal suci, yang berkaitan dengan hajat hidup bersama. Dalam dan melalui politik, setiap ciptaan berusaha melakukan yang terbaik dalam praksis hidup bersama. Maka politik tak boleh didekonstruksi menjadi sarana mencapai kekuasaan semata, sebagaimana tesis Andrew Heywood (2004). Politik selalu bersifat metapragmatik.

Orientasi politik lebih berkaitan dengan aspek etis-moral dan berujung transformasi pembebasan. Paus Benediktus XVI dalam Deus Charitas Est art. 28 menandaskan: “Tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan yang adil merupakan tugas sentral politik. Politik lebih dari sekadar teknik penataan ruang publik. Asal dan tujuannya keadilan, dan
ini bersifat etis”. Politik tidak bisa berpijak dan berpihak pada kepentingan subyektif, tapi selalu mengacu pada kepentingan bersama. Politik berpilin erat dengan “advokasi” kaum marginal.

Problemnya adalah politik seringkali didesakralisasi. Hal itu terjadi karena para elite memprivatisasi politik dan menjadikan sebagai instrumen pragmatik. Politik tak lagi menjadi sarana suci untuk melaksanakan kehendak Tuhan, tapi di instrumentalisasi untuk memenuhi libido kekuasaan. Para elite menghancurkan politik demi mendapatkan keuntungan tak wajar dan mem-back-up keinginan nirdemokratis. Maka jangan heran jika banyak pejabat politik dijebloskan ke dalam penjara karena menyalahgunakan wewenang politik yang mereka miliki.

Dimensi Kerahiman
Allah kekristenan adalah Allah pencipta, yang menciptakan realitas di luar diri-Nya dan yang menghendaki kebaikan bagi ciptaan-Nya (Sobrino,2008). Saya meyakini bahwa politik bisa menjadi “alat suci” untuk memanifestasikan kebaikan Allah itu bagi ciptaan. Kata Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes, art. 26: “… tata masyarakat serta kemajuannya harus tiada hentinya menunjang kesejahteraan pribadi-pribadi…, tata dunia itu harus semakin dikembangkan, didasarkan pada kebenaran dan dibangun dalam keadilan, dihidupkan dalam cinta kasih….”

Politik merupakan salah satu bagian dari “tata masyarakat atau dunia” yang berusaha mendukung terealisasinya keadilan dan cinta kasih Allah. Untuk itu, politik mesti menampakkan wajah Kerahiman Allah lewat kebijakan-kebijakan prorakyat. Dalam Matius, Yesus telah mengatakan hal ini: “… dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata ke padamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Substansi politik adalah melahirkan kebijakan yang mengartikulasikan harapan rakyat.

Karena itulah, kita berharap agar para pejabat politik menjabarkan esensi politik lewat kebijakan populis. Para pemimpin mesti melakukan upaya kontekstualisasi politik lewat program-program pembebasan. Sebagaimana Allah yang Maharahim, menyelamatkan manusia melalui Yesus; para pemimpin politik juga mesti memiliki orientasi liberatif, menjadikan politik sebagai sarana menyelamatkan rakyat dari ketidakadilan. Titik tolak dan titik tuju politik adalah pemberdayaan, penghargaan, dan pembebasan manusia. Mereka harus sadar bahwa politik dapat menjadi sarana merealisasikan rencana Allah dalam membebaskan rakyat. Mereka mesti menjadi “pemimpin maharahim” yang berpikir dan bertindak altruis. Politik harus memperlihatkan Allah yang berbelaskasih, lewat tindakan politik yang “berbelaskasih” kepada rakyat.

Inosentius Mansur

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 50 Tanggal 11 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*