Artikel Terbaru

Pergilah, Kalian Diutus!

[keluargachevalier.com]
Pergilah, Kalian Diutus!
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPada akhir Perayaan Ekaristi, imam selalu mengatakan sebuah ungkapan yang secara ringkas bisa dirumuskan “Pergilah, kalian diutus”. Umat diutus untuk apa? Bagaimana? Mohon penjelasan.

Henny Chandrawati, Surabaya

Pertama, ungkapan ”Pergilah, kalian diutus” pada akhir Misa merupakan gema dari Sabda pengutusan Yesus kepada para Rasul-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia…” (Mat 28:19). Pengutusan ini menonjolkan dimensi misioner Ekaristi. Sebagai umat Allah dan Tubuh Mistik Kristus, Gereja diutus untuk memperpanjang Ekaristi dalam hidup di masyarakat dan untuk menjadi Ekaristi yang hidup. Ekaristi yang telah diterima umat, perlulah diwujudnyatakan juga di luar gedung Gereja, dalam kesetiaan kepada Kristus dan kehendak-Nya.

Dimensi misioner dari Ekaristi ini sebenarnya terasa sangat kuat dalam penghayatan iman sehari-hari, karena justru sebutan ”Misa” mencerminkan pengutusan ini. Seperti diketahui, sebelum disebut sebagai ”Perayaan Ekaristi”, perayaan itu dirujuk sebagai ”Misa”. Sebutan ”Misa” lebih sering digunakan daripada ”Perayaan Ekaristi”. Kata ”Misa” berasal dari kata ”missa” yaitu dari kalimat Latin: ”Ite, missa est artinya ”pergilah, kalian diutus”. Inilah ungkapan pengutusan umat untuk kembali ke dunia ramai sesudah menikmati santapan Sabda dan Tubuh dan Darah Tuhan. Maka, setiap kali kita mengatakan ”Misa”, sebenarnya kita diingatkan pada tugas misioner kita.

Kedua, Perayaan Ekaristi adalah kenangan akan Paska Kristus, artinya dalam Perayaan Ekaristi kita mengenangkan Kristus yang dengan sukarela mempersembahkan diri untuk keselamatan seluruh umat manusia. Tindakan Kristus ini bagaikan anak domba yang dikurbankan sebagai penebusan akan dosa-dosa Israel. Dialah Anak Domba sejati yang mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Pemberian seluruh diri dilambangkan dengan pemberian roti, sedangkan pemberian seluruh hidup-Nya dilambangkan dengan anggur. (KGK 1364)

Ketika memberikan Diri-Nya, Yesus juga mengundang para murid-Nya untuk ikut serta dalam pemberian Diri-Nya itu, yaitu dengan berkata: ”Terimalah dan makanlah…” (bdk Mat 26:26) dan ”Terimalah dan minumlah…” (Mat 26:27-28). Memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya bukan hanya suatu tindakan lahiriah yang dilakukan dengan mulut dan perut. Menerima tawaran untuk makan dan minum berarti mau menyatukan seluruh diri kita dengan Kristus, terutama dalam pemberian diri-Nya kepada dunia, dalam pengorbanan-Nya, dalam pengutusan-Nya yang Dia terima dari Allah Bapa-Nya, dalam pelayanan-Nya.

Dalam perspektif ini, pengutusan pada akhir Misa mendapatkan maknanya. Yesus mengutus kita untuk ikutserta dalam pemberian diri kita sebagai bentuk pelayanan kepada sesama manusia. Pelayanan ini adalah wujud cinta kita kepada Allah dan cinta kepada sesama, dan juga dalam rangka membangun Kerajaan Allah.

Ketiga, perlu disadari bahwa kaum beriman awam dipanggil untuk menjadi ragi pertama-tama di tengah dunia, di tengah masyarakat luas. Kaum beriman awam adalah ujung tombak misi Gereja, karena merekalah yang bersentuhan langsung dengan realitas dunia, dengan hiruk-pikuk pasar-mal, politik, dan berbagai aspek kehidupan. Melalui kaum beriman awam, nilai-nilai Injil bisa dihayati di tengah berbagai aspek kehidupan konkret. Maka, bidang pelayanan yang ditugaskan kepada kaum beriman awam, tidak boleh dibatasi pada seputar altar dan di sekitar Gereja. Bidang pelayanan kaum beriman awam meluas pada segala bidang kehidupan.

Pelayanan kaum beriman awam ialah menghayati dan menggalakkan nilai-nilai Injil di berbagai bidang kehidupan. Seorang dokter yang juga ibu rumah tangga, dapat mempraktikkan pelayanannya dalam relasi dengan pembantu dan pegawai di rumahnya, yaitu dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih persaudaraan tanpa memandang suku atau agama. Perlakuannya yang menghargai martabat pembantu dan pegawai sebagai sesama manusia, mewujudkan pelayanan pemberian diri kepada sesama. Ketika dokter ini memperlakukan pasien-pasiennya sebagai pribadi yang harus diutamakan dibandingkan dengan uang jasa pemeriksaan atau pelayanan medis. Ketika dokter ini menolak bujukan detailer atau pabrik obat untuk membuat resep sebuah obat sebanyak mungkin meskipun tidak perlu tetapi hanya untuk mengejar target, dokter ini menghayati nilai Injil keadilan dan martabat manusia. Dengan demikian, dokter ini menyucikan bidang pelayanannya dan semua orang yang terlibat dalam pelayanannya (bdk LG 34). Inilah perutusan yang diberikan pada Misa. “Pergilah, kalian diutus”.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 37 Tanggal 12 September 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*