Artikel Terbaru

Baptis Selam

Baptis Selam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSeorang pendeta berkata bahwa kata Yunani “membaptis” berarti menenggelamkan. Berarti pembaptisan yang sah harus dilakukan dengan baptis selam. Apakah Baptis Katolik yang bukan Baptis selam itu masih sah?

G. Johanes Wiratmo Sugia, Malang

Pertama, secara etimologis kata “membaptis” memang berasal dari kata Yunani bapto, baptizo yang berarti “masuk ke dalam air, keluar dari air”. Kata kerja ini digunakan untuk sebuah kapal rusak yang muncul dan tenggelam. Dalam konteks dunia Yunani, kata kerja ini tidak pernah berarti “mandi” atau “membasuh” seperti yang kemudian diberikan dalam praktik Kristiani. Jadi, perlu diperhatikan bahwa untuk mengerti arti sebuah kata tidak cukup hanya melihat makna dari kata itu dalam konteks asli penggunaan, tetapi perlu juga melihat makna baru yang dikenakan kata itu ketika diterapkan dalam praktik Kristiani.

Kedua, penggunaan kata kerja ini dalam Perjanjian Baru memperkenalkan sebuah arti baru. Kata bapto digunakan hanya dalam arti “mencelupkan” atau mengemban arti harafiah “memasukkan ke dalam air” (Luk 16:24; Yoh 13:26), dan hanya digunakan dalam hidup profan. Di lain pihak, kata baptizo digunakan secara eksklusif untuk peribadatan (kultus), yaitu dalam arti teknis “membasuh” atau “membersihkan diri” (Mrk 7:4; Luk 11:38), seperti wudhu dalam praktik Islam. Juga Ibr 6:2 berbicara tentang “pelbagai baptisan” yang kiranya tidak lain adalah pelbagai pembasuhan orang Yahudi.

Pembedaan ini sangat penting, karena menunjukkan dengan jelas bahwa kata “membaptis” (Yun: baptizein) dikaitkan erat dengan arti simbolis untuk peribadatan, yaitu “membersihkan atau membasuh” dan dilepaskan dari arti harafiah “mencelupkan” atau “menenggelamkan ke dalam air” (Yun: baptein). Dengan kata lain, kata “membaptis” (Yun: baptizein) dilepaskan dari arti harafiah yang mengalir dari cara penggunaan air (mencelup, menenggelamkan; Yun:baptein) dan dilengketkan dalam arti simbolis (kultus) yang mengalir dari fungsi air, yaitu membersihkan atau membasuh.

Ketiga, perlu diperhatikan bahwa Gereja awali berkembang dari praktik yang kemudian direfleksikan, bukan dari satu teori yang diterapkan secara merata dan seragam. Maka, bisa dibayangkan bahwa praktik Gereja awali dalam masing-masing komunitas tentu beraneka. Bisa dimengerti jika pada Gereja awali ada praktik pembaptisan dengan membenamkan orang ke dalam air, seperti yang sering ditafsirkan dari Kis 8:38 dan Rom 6:3-11. Juga dalam tulisan-tulisan abad I dan awal abad II, antara lain Didache atau “Pelajaran kedua belas Rasul” (7:1-3), Surat Barnabas (11:11), Pastor Hermas (Sim IX, 16,4), ada jemaat-jemaat yang menginisiasikan orang dengan membenamkan ke dalam air. Akan tetapi, dalam keadaan darurat, misal orang yang sakit, tidak ada kolam, dan lain-lain, pembaptisan boleh dilakukan dengan menuangkan air atau bahkan pemercikan air. Refleksi jemaat atas pengecualian ini memperjelas bahwa efek Sakramen Baptis itu tergantung kepada fungsi (membersihkan dan memberi hidup) dari air yang harus selalu dipakai, dan bukan kepada cara penggunaan air (penenggelaman) yang tidak selalu bisa dilakukan. Praktik merumuskan teori.

Keempat, dalam Perjanjian Baru Sakramen Baptis dikaitkan dengan “lahir kembali” (Tit 3:5; Yoh 3:3-5; bdk. 1 Ptr 1:3.23). Dalam teks-teks tentang Baptis, hanya Rom 6:3-11 yang mengkaitkan kelahiran kembali dengan simbolisme penenggelaman ke dalam air (kematian) dan keluar dari air (kebangkitan). Itulah praktik awali dari pembaptisan. Teks-teks lain tidak merujuk ke cara penggunaan air. Diamnya teks-teks itu tentang cara penggunaan air bisa ditafsirkan sebagai kesadaran lebih lanjut akan arti penting fungsi air dan bukan cara penggunaan air itu.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 17 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*