Artikel Terbaru

Anak Melepas ASI Saat Balita

Anak Melepas ASI Saat Balita
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaya Alfons dari Pekanbaru. Saya menikah dua tahun yang lalu dan sekarang baru dikaruniai seorang anak perempuan yang manis pada awal tahun ini. Namun pada akhir-akhir ini,saya sering marah-marah kepada istri saya soal pola asuh pada anak kami, khususnya tentang pemberian ASI (air susu ibu). Anak saya belum satu tahun, tetapi sudah dipaksa untuk melepas ASI oleh istri saya. Sebagai gantinya, pembantu kami memberi susu yang dibeli di supermarket. Saya tidak keberatan dengan susu yang dibeli dengan uang saya. Namun, saya keberatan dengan alasan istri bahwa membiasakan anak agar mandiri sekaligus biar dia bisa bekerja lagi dan jangan sampai mempengaruhi penampilannya sebagai seorang perempuan. Saya cemas dengan perkembangan anak kami yang masih kecil. Saya takut pola asuh yang salah ini berpengaruh pada pertumbuhan anak kami. Mohon pencerahannya, Romo. Terimakasih.

Alfons, Pekanbaru

Pak Alfons yang baik, sungguh bangga membaca surat Anda mengenai ASI eksklusif bagi putri kalian. Saya amat menghargai seorang ayah yang memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan keluarganya, khususnya berkaitan dengan pertumbuhan hidup anak-anak. Anda adalah satu dari jutaan ayah yang memberi kasih sayang sepenuhnya kepada anak-anak, khususnya di usia balita.

Pemberian ASI eksklusif dapat berlangsung lebih dari satu tahun. Bahkan ASI dapat diberikan sampai lebih dari dua tahun jika dibutuhkan. Cobalah bertanya kepada ahlinya, berapa lama anak Anda dapat menerima ASI eksklusif ini. Pada prinsipnya, seorang ibu mempunyai kewajiban moral agar memenuhi kebutuhan dasar bayinya untuk menerima nutrisi terbaik bagi awal hidupnya.

Seorang ibu yang bekerja seharusnya mempunyai kesadaran untuk menyesuaikan diri bukan dengan pekerjaannya, tetapi terutama dengan situasinya sebagai ibu, sumber kenyamanan dan keselamatan bagi si bayi. ASI terbukti memberi pengaruh pada sistem imun bagi bayi di kemudian hari, sehingga bayi tidak mudah terkena penyakit atau mampu melawan serangan bahaya bakteri dan virus dari luar. Bukankah membayangkan anak kita kuat dan tumbuh sehat menyenangkan?

Perubahan situasi yang mempengaruhi kondisi psikologis seseorang perlu dibarengi dengan bantuan psikologis dari pasangannya. Bapak perlu membantu ibu untuk mengatasi masalah dirinya. Biasanya seorang istri perlu merasa diperhatikan, merasa didukung dan tidak ditinggalkan sendirian menanggung tanggungjawab pengasuh anak-anak. Bantulah ibu melalui perhatian kecil-kecil, seperti mengambilkan minum, menggendong bayi sejenak, mendorong kereta bayi, dan mendukung ibu agar merasa disayang dan dicintai.

Tidak ada alasan yang mendasar untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif memang, tetapi alasan personal pasti bisa dijelaskan. Jika ibu merasa alasannya adalah fisik yang dipertahankan, tentu ini salah, karena ada keindahan sendiri yang akan ditonjolkan seorang ibu yang sudah mempunyai anak selain keindahan tubuhnya. Menjadi ibu dan bersikap keibuan itu mulia dan indah. Ini harus Anda sampaikan dengan penuh kasih kepada istri Anda.

Barangkali Anda harus maklum bahwa istri Anda tergolong perempuan yang memperhatikan penampilan estetika. Jangan sampai Anda membicarakan bentuk tubuh atau perubahannya. Berilah peneguhan bahwa kita sama-sama menjadi dewasa bersama lahirnya sang buah hati, sebab semua keindahan sekarang dirumuskan secara berbeda. Katakan juga, “Saya tetap mencintaimu, apalagi sesudah kamu melahirkan anak kita.”

Jangan memaksa istri memahami pengertian Anda, tetapi ajaklah ia untuk mengerti dengan sendirinya. Berilah bacaan yang meneguhkan, Alkitab atau pengetahuan yang memadai. Biarlah istri Anda membaca dan mengerti tanpa terpaksa. Lukas 11:27 mengatakan, “Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Semoga firman Tuhan ini mengingatkan kita akan kemuliaan para ibu.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 3 Tanggal 17 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*