Artikel Terbaru

Kekurangan yang Menyakitkan

[Ilustrasi/HIDUP]
Kekurangan yang Menyakitkan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Seorang gadis mengeluh sebagai berikut: ”Saat ini, aku merasa sangat sedih. Pacarku memaksa aku bekerja. Orangtuanya tidak akan mengizinkan aku menjadi menantu mereka bila aku tidak mau bekerja. Menurutku, itu hanya alasan mereka untuk menjauhkan aku dari pacarku. Aku bukanlah seorang pemalas tapi pengalaman hidupku telah membuatku jera mencari kerja. Aku seorang gadis 26 tahun. Mataku minus hampir 10. Gangguan mataku mulai terjadi saat di SMP sehingga saat SMA aku mengalami kesulitan menyelesaikan studiku. Untung akhirnya, aku berhasil lulus. Banyak orang menolakku, baik sebagai karyawan maupun sebagai teman karena mereka menganggapku sebagai beban. Aku tidak berguna bagi mereka. Aku sangat berbahagia saat pacarku mau menerimaku. Kami berpacaran sejak setengah tahun lalu. Tapi ternyata, orangtuanya menghalangi hubungan kami dengan mensyaratkan aku harus bekerja.

Aku jengkel dengan orang-orang yang tidak memahami keterbatasanku. Kadang aku meminta Tuhan untuk mengubah orang-orang yang telah menyakitiku menjadi buta biar merasakan penderitaan yang lebih buruk daripadaku. Aku jengkel pada Tuhan yang tidak pernah mendengarkan doaku. Aku sudah berdoa supaya sembuh, ternyata mataku semakin parah. Aku minta dibalaskan dendamku, tapi Tuhan tetap berpihak kepada mereka. Sebenarnya, apa kehendak Tuhan dengan membiarkan aku hidup di dunia ini? Membuat aku sengsara dan tidak berguna? Apa rencana Tuhan membuat aku cacat dan ditertawakan orang lain? Aku benci semuanya…”

Keluhannya ditutup dengan sumpah serapah dan tangis karena dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Beberapa kali dia telah berusaha bunuh diri tetapi tetap hidup.

Dalam bermasyarakat, kita dihadapkan pada penilaian-penilaian berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang ada. Misalnya, gadis cantik berkulit putih, berambut panjang, dan lemah gemulai. Pria tampan berkulit agak gelap, tubuh kekar, dan siap menolong perempuan. Penilaian-penilaian tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu dan dapat berbeda antara satu tempat dan tempat lain. Misalnya, pada masa lalu gadis gendut dengan perut tebal justru dianggap cantik karena melambangkan kesejahteraan hidup. Orang Eropa justru senang orang berkulit coklat, sedangkan kita senang orang berkulit pucat.

Demikian pula kita sangat mudah memberi label pada seseorang sebagai orang hebat atau orang cacat berdasarkan norma-norma masyarakat. Orang dianggap normal kalau tidak berkaca mata karena kebanyakan dari kita tidak berkaca mata. Atas pengelompokan normal dan tidak normal tersebut, orang yang dianggap tidak normal memberi ”karunia” tambahan untuk diri sendiri menjadi tidak percaya ciri, merasa kecil, dan mendudukkan diri lebih rendah daripada orang yang normal.

Padahal, kalau kita memandang keterbatasan yang kita miliki juga sebagai karunia akan kehidupan ini, maka kita akan menghadiahi diri sendiri dengan perasaan nyaman karena menerima diri sendiri apa adanya dan setara dengan orang lain.

Penilaian tentang kerja pun tidak lepas dari kesepakatan-kesepakatan dalam masyarakat. Pada zaman penjajahan Belanda dahulu, orang dianggap bekerja sukses dan terhormat kalau bekerja sebagai pegawai. Dalam perkembangannya, orang mulai menilai kesuksesan bekerja ditinjau dari pendapatannya. Orang dianggap sukses bekerja bila pendapatannya tinggi. Dalam proses berikutnya, masyarakat kita menilai kesuksesan bekerja bukan hanya dilihat dari jumlah penghasilan yang didapat, tetapi juga cara mendapatkannya. Orang tidak lagi menghormati orang berumah mewah tapi hasil korupsi.

Orang lebih menghormati seorang guru yang setia pada pekerjaannya sehingga murid-muridnya menjadi orang yang jujur, tangguh, kreatif, dan percaya diri.

Karena itu, sebenarnya gadis tersebut bisa menggunakan kemampuan-kemampuan sederhananya untuk menjadi berguna bagi orang lain asalkan dia telaten dan sungguh-sungguh mengerjakannya. Maka, akan menghasilkan upah yang layak. Contohnya, kemampuan mencuci baju, kemampuan mengepel lantai, kemampuan menyapu halaman, atau merawat tanaman, dan seterusnya.

Bersaing menjadi karyawan memang banyak kendalanya bagi orang yang mengalami gangguan penglihatan. Saat ini, sangat memungkinkan bagi kita semua menjual jasa untuk menjadikannya sebagai sumber mata pencarian. Prinsip mencari nafkah adalah menunjukkan kepada orang lain bahwa kita berguna, entah karena jasa atau produk kita sehingga orang lain senang.

Bila orang lain senang dengan layanan atau produk kita, pasti orang lain akan memberi sesuatu kepada kita.

Menurut tokoh psikologi, Abraham Maslow, setiap orang tidak suka atas perasaan kesendirian, kesepian, keterasingan, ketertolakan, atau kehilangan orang dekat. Sebaliknya, setiap orang memerlukan perasaan dicintai dan mencintai. Orang yang mencintai orang lain karena kelebihan orang lain dan kekurangan dirinya, disebut Deficiency-Love (D-love, Delta love). Cinta ini disebut cinta yang egois karena lebih mementingkan diri sendiri dan mengutamakan mendapat sesuatu daripada memberi sesuatu.

Tampaknya gadis tersebut selalu merasa kurang dibandingkan orang lain sehingga dia haus untuk diterima dan dicintai orang lain untuk menutupi kekurangannya. Dia lupa bahwa dirinya juga mempunyai kelebihan yang dapat diberikan kepada orang lain sehingga orang lain bahagia karena dirinya.

Orang yang mencintai orang lain karena orang tersebut ingin membahagiakan orang lain disebut Being-Love (B-love, Beta Love). Cinta ini tidak berniat memiliki ataupun mempengaruhi orang yang dicintainya, tetapi bertujuan membahagiakan dan membebaskan orang yang dicintainya. Saat kita memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain, sebenarnya kita telah memberikan kepada diri kita sendiri empat kali lipat dari yang kita berikan. Hal ini terjadi karena saat kita memberi sesuatu yang baik kepada orang lain, kita akan mendapatkan perasaan aman, berharga, percaya diri, dan bahagia karena telah mencintai orang lain.

Sayang, gadis tersebut terpuruk dalam Delta-love. Akibatnya, dia sangat sakit hati saat orang lain tidak memberikan sesuatu yang dia harapkan. Bahkan, dirinya sendiri pun ikut memberikan sesuatu yang buruk kepada dirinya sendiri. Dengan mengucapkan sumpah serapah kepada orang lain, dia telah menjauhkan diri dari cinta orang lain.

Keterbatasan penglihatan gadis tersebut, ternyata juga membuat keterbatasan pandangan hatinya akan cinta Tuhan. Akibatnya, dia tidak bisa melihat cinta Tuhan atas kehidupannya karena dia sibuk dengan tuntutan-tuntutan egoismenya. Keterbatasan satu indranya telah membuatnya lupa mensyukuri anugerah atas keempat indra yang lain.

Semoga kita semua lebih senang mengembangkan Beta-Love daripada Delta-love.

Margaretha Sih Setija Utami

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 10 Tanggal 7 Maret 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*