Artikel Terbaru

Kekerasan dalam Rumah Tangga

[bacain.com]
Kekerasan dalam Rumah Tangga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Seorang ibu mengirimkan SMS sebagai berikut:

Saya seorang istri (sebut saja Maria) yang sudah menikah satu tahun. Saat ini, saya sedang hamil sembilan bulan. Suami saya sangat kasar. Dia sangat mudah menempeleng, menendang, menjambak, dan mengucapkan kata-kata kasar kepada saya. Di tubuh saya sudah banyak bekas kekerasan fisiknya. Saya tidak berani bercerita kepada siapapun karena takut suami akan semakin kejam.

Kami tinggal di rumah orangtua suami. Dia sangat dimanja sekaligus ditakuti oleh anggota keluarga lainnya. Apa pun yang suami inginkan pasti dilaksanakan oleh bapak-ibu maupun adik-adiknya.

Suami melakukan kekerasannya selalu di kamar kami. Saya malu saat bapak-ibu mertua bertanya mengapa wajah atau tangan saya lebam. Selama ini saya selalu menjawab karena jatuh atau menabrak sesuatu. Mendengar jawaban saya, mereka selalu menggerutu karena saya dianggap tidak bisa hati-hati padahal dalam kondisi hamil.

Saat ini, saya merasa takut kalau suami semakin kejam. Saya ingin sekali melahirkan di rumah bapak-ibu tapi selalu dilarang suami. Dia mengancam akan melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan kalau saya berani pulang ke rumah. Saya ingin bercerita kepada orang lain, tetapi saya malu atas apa yang saya alami. Apa yang harus saya lakukan, Bu? Seringkali saya ingin mengakhiri hidup saya saja karena tidak kuat, tapi saya kasihan pada janin yang saya kandung. Tolong Bu, bantu saya.

SMS tersebut dikirim dengan catatan, saya diminta menjawab segera sebelum suaminya datang atau pada jam-jam tertentu yang menurut perkiraannya suaminya sedang keluar rumah.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak hanya diceritakan oleh para istri. Ada seorang bapak yang baru dua bulan keluar dari lembaga pemasyarakatan bercerita bahwa dia juga korban KDRT.

Pada suatu pagi, saat saya masih nyenyak tidur, istri saya membangunkan saya dengan berteriak-teriak dan memukul saya dengan sapu lidi. Tentu saja saya kaget dan marah. Saya tarik tangannya dan saya tampar wajahnya. Waktu itu, saya betul-betul marah karena kaget dan dia kurang ajar pada saya.

Anehnya, kejadian itu dia catat dan dia laporkan ke polisi bahwa saya telah melakukan tindak KDRT. Yang lebih menyakitkan hati saya, istri saya melaporkan bahwa saya telah berselingkuh sehingga melakukan KDRT. Padahal, saya tidak mempunyai selingkuhan. Saya semakin sedih saat anak-anak kami (berusia 18 dan 16 tahun) dipaksa istri untuk bersaksi di persidangan. Saat itu, sambil menangis mereka menjawab tidak tahu kejadian kapan bapak mereka melakukan KDRT terhadap ibu mereka. Di dalam persidangan tersebut, polisi menunjukkan foto-foto hasil visum yang memperlihatkan luka-luka dan lebam di punggung, paha, dan lengan istri.

Bu, visum itu memang berhasil memotret luka-luka dan lebam tubuh istri, tetapi visum itu kan tidak bisa mengungkap siapa yang melakukannya. Namun, pengadilan ternyata lebih percaya pada laporan istri, saya dijatuhi hukuman enam bulan. Hukuman tersebut lebih ringan dari tuntuan jaksa yang menuntut saya dipenjara satu tahun.

Saat saya dipenjara itulah saya tahu alasan istri saya menjebloskan saya ke penjara. Anak-anak saya bercerita, belum genap satu bulan saya meninggalkan rumah, istri saya sudah berpacaran dengan mantan pacarnya saat SMA.

Duuh Bu, kepala ini rasanya mau pecah: marah, protes, sedih, malu, dan jengkel. Di benak saya hanya satu keinginan: membunuh istri saya! Syukurlah, bimbingan rohani selama di penjara menghilangkan niat tersebut. Keinginan saya sekarang, bercerai. Bagaimana pendapat Ibu?

Saat ini semakin banyak istri melapor sebagai korban KDRT suami dan semakin banyak suami mengeluh tentang kekerasan yang dilakukan istrinya. KDRT sangat menyakitkan bagi korbannya. Sakit yang dirasakan bukan hanya fisik tetapi juga psikis. Sakit hati yang terbesar dirasakan oleh korban KDRT adalah penolakan dari orang yang dia cintai. Pasangan hidup yang diharapkan mencintainya justru menyakitinya. Hal itu membuat korban KDRT merasa frustrasi karena tidak tahu harus ke mana lagi kebahagiaan bisa dia cari.

Lebih parah lagi, KDRT tidak hanya terjadi sekali. Biasanya KDRT diulang oleh pelaku dan korban tidak berani menghentikan kekerasan yang dia hadapi dengan berbagai pertimbangan. Sebenarnya KDRT bisa dihentikan bila para korban dan saksi mata membantu pelaku untuk menghentikan kekejiannya.

Caranya, sebagai berikut:

Pertama, kenali kondisi-kondisi pemicu munculnya KDRT. Misalnya, saat pelaku marah, sedih, bingung, atau mabuk karena minuman keras. Dengan mengenali kondisi-kondisi pemicu, lingkungan bisa ikut mencegah munculnya KDRT dengan berusaha meminimalkan kondisi pemicu tersebut.

Kedua, cari perlindungan sementara yang cukup aman sehingga kekerasan fisik dapat dihindarkan. Misalnya, membuat daerah aman di dalam rumah sehingga saat pelaku mengamuk, korban bisa melindungi diri di tempat itu.

Ketiga, minta tolong orang ketiga yang bisa melindungi korban. Biasanya pelaku KDRT agak sungkan melimpahkan kemarahan saat ada orang ketiga sehingga mengurangi kekerasan yang dia lakukan. Sayangnya, korban sering malu minta tolong pada pihak ketiga. Keengganan minta tolong pihak ketiga ini sering memperparah kekerasan yang dia terima karena pelaku semakin menjadi-jadi. Untuk itu, Ibu Maria perlu memberanikan diri mengutarakan permasalahan yang sebenarnya kepada orangtua, mertua, atau seseorang yang dipercaya supaya mereka bisa menolong. Tanpa adanya keterbukaan, orang lain tidak akan tahu permasalahan yang terjadi.

Pihak ketiga sering enggan menolong bila korban tidak lapor karena pihak ketiga takut dituduh ikut campur urusan keluarga lain.

Keempat, usahakan pelaku dan korban mendapat terapi psikis. Pelaku perlu diterapi supaya tidak mengulangi perbuatannya. Korban juga perlu diterapi supaya luka-luka batinnya bisa sembuh segera. Luka batin yang tidak diterapi dapat menyebabkan seseorang ganti menjadi pelaku kekerasan di lain waktu dan anak biasanya menjadi korban. Karena itu, pada pasangan yang sudah punya anak, akan baik bila anak-anak juga mendapat terapi karena mereka biasanya juga mengalami ketakutan-ketakutan akibat melihat kekerasan yang dilakukan ayah-ibu mereka.

Untuk menjawab pertanyaan bapak tersebut di atas, yang bisa ditawarkan adalah dua pilihan. Pertama, bapak berkonsultasi pada pastor untuk mengetahui hukum Gereja secara lebih tepat, khususnya hukum yang berkaitan dengan KDRT. Kedua, bapak, ibu, dan anak melakukan terapi keluarga yang mungkin keputusan terakhir adalah memperbaiki hubungan di dalam keluarga. Tetapi, bisa juga hasil akhir justru mengakhiri kehidupan keluarga. Hal ini tentu butuh kesiapan semua pihak untuk menerima efek-efek negatif yang muncul.

Semoga setiap orang Katolik semakin rela mencintai dan dicintai dan keluarga kita semakin rukun sehingga KDRT tidak perlu terjadi lagi.

Margaretha Sih Setija Utami

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 9 Tanggal 28 Februari 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*